Cetak Wirausahawan Baru, KKP Realisasikan Lele Bioflok ke Pesantren

Agro Style | DiLihat : 764 | Selasa, 20 Juni 2017 12:40
Cetak Wirausahawan Baru, KKP Realisasikan Lele Bioflok ke Pesantren

Jakarta, - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera realisasikan program dukungan usaha budidaya lele sistem bioflok untuk 73 pondok pesantren yang tersebar di 15 Propinsi. Program ini ditargetkan akan menyasar pemberdayaan terhadap setidaknya 78.500 orang santri/siswa.


Hal ini terungkap saat Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam Rapat Koordinasi Bantuan Pemerintah Budidaya Lele Sistem Bioflok di Kantor KKP, Kamis (15/6).

Slamet mengatakan, setidaknya ada dua alasan kenapa pihaknya lebih banyak mengalokasikan program ini pada pondok pesantren. Pertama, pesantren sebagai lembaga nonformal merupakan lingkungan yang efektif untuk pembelajaran pengembangan usaha.

Kedua, Pemerintah memiliki tanggunjawab moral untuk meningkatkan kualitas SDM di lingkungan pesantren melalui penyediaan dan peningkatan gizi berbasis ikan.

“Kita ingin kualitas SDM para Santri ini meningkat dengan membiasakan mengonsumsi ikan. Saat ini tingkat konsumsi ikan di lingkungan pesantren hanya sekitar 9 kg per kapita/tahun, melalui program ini paling tidak ada peningkatan menjadi 15 kg per kapita pertahun,” ujar Slamet.

Pengenalan usaha lele bioflok ini diharapkan akan mampu mewujudkan pemberdayaan umat dan menjadi ladang dalam mencetak wirausahawan baru.

Dengan budidaya sistem bioflok ini produktivitas bisa ditingkatkan sampai tiga kali lipat dibanding sistem konvensional. Slamet menggambarkan dengan asumsi per paket bantuan sebanyak 12 kolam bulat (diameter 3 m), maka mendapatkan hasil produksi yang dihasilkan setidaknya sebanyak 12,15 ton per tahun dengan nilai pendapatan mencapai Rp 182 juta.

Dengan kata lain pembudidaya akan mendapatkan nilai tambah keuntungan rata-rata sebesar Rp.3.900 per kg. Selain itu dari kualitas produk, diakui konsumen bahwa daging lele hasil budidaya dengan sistem ini memiliki citarasa yang lebih enak dan warna daging lebih putih.

“Saya rasa sebagai tahap awal nilai ini cukup besar, dan sangat potensial untuk menggerakan ekonomi pesantren, dengan demikian pesantren akan lebih mandiri dan lebih maju dari sisi kualitas”, ungkap Slamet.

Nantinya dukungan ini akan dialokasikan melalui wadah koperasi yang ada di pesantren. Koperasi inilah yang nantinya juga berperan dalam mengelola kegiatan usaha sekaligus sebagai penyangga akses pasarnya.


Oleh karenanya, Slamet berpesan agar koperasi ini dapat berperan secara aktif guna menjadi mitra usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan para santri/siswa.

gatra.com