Kakao Berau, Mutiara di Tengah Batu Bara Kaltim

Potensi Desa | DiLihat : 488 | Senin, 31 Mei 2021 | 20:20
Kakao Berau, Mutiara di Tengah Batu Bara Kaltim

TANJUNG REDEB - Kabupaten Berau memiliki berlian baru yang belum terlihat kilaunya, yaitu kakao. Kakao menjadi salah satu dari lima komoditas perkebunan unggulan Kalimantan Timur, termasuk di Berau. Berau sendiri selama ini lebih dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara di Kaltim.

Bukti keunggulan kakao berau masuk delapan besar biji kakao yang lolos seleksi Indonesian National Cocoa of Excellence 2021 dari 58 biji kakao se-Indonesia. Delapan kakao itu, saat ini sedang berkompetisi dalam ajang bergensi Cocoa of Excellence di Paris, Prancis, 2021. 

“Ada titipan merah putih yang kita perjuangkan. Jika ada satu perusahaan yang menempatkan kakao dari Kampung Merasa, Berau, sebagai single origin saja, akan menjadi kebanggaan kita,” ujar Konsultan Kakao dari Yayasan Kalimanjari Agung Widiastuti dalam Webinar Bingka Kaltim (Bincang Komoditas Perkebunan Lestari Kaltim) bertema Rantai Pasok dan Hilirisasi Kakao Berau Menuju Pasar Ekspor, Kamis (27/5). 

Kakao Berau diakuinya masih berpotensi dikembangkan menjadi single origin seperti komoditas kopi. Kualitasnya sudah masuk cocoa of excellence. Secara kuantitas pun masih terbuka. 

Disebutkannya, angka produksi meningkat perlahan, mulai 600 kg/hektare tahun 2018,  empat tahun berselang menjadi 750 kg/hektare. Luasan kebunnya pun turut bertambah, hingga mencapai 3.200 hektare pada 2021.  

Agung yang menganalisis rantai pasok di enam kampung yakni Long Lanuk, Merasa, Muara Lesan, Lesan Dayak, Long Beliu dan  Sidobangen di Berau meyakini arah pengembangan kakao berau perlu ditujukan ke pasar premium, yaitu kakao fermentasi dengan sertifikasi organik. 

“Produktivitas memang penting, tapi pasar premium terbukti stabil di tengah pandemi. Kami sudah lihat nyata dari Kabupaten Jembrana, Bali,” sebutnya. 

Permintaan kakao premium dari Jembrana, Bali terus datang, selama pandemi Covid-19 hingga menurunkan banyak permintaan komoditas lain. Bahkan pada April lalu, kakao jembrana berhasil ekspor perdana ke Qatar. 

Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ujang Rachmad menjelaskan, selain kualitas kakao yang sudah teruji, Berau diuntungkan dengan hadirnya pemain baru dalam rantai pasok kakao, yaitu Berau Cocoa yang merupakan anak perusahaan Berau Coal. 

“Berau bisa menjadi hub (penghubung) biji-biji kakao dari Kalimantan Timur,” kata Ujang Rachmad. 

Potensi kakao lainnya ada di Kabupaten Kutai Timur dan Mahakam Ulu.  Menurut Ujang, bila sudah ada hub, maka akan memudahkan hilirisasi kakao, untuk pasar domestik maupun global. Apalagi, Kaltim akan menjadi ibu kota negara.  

“Rencana ibu kota negara lebih membuka peluang pasar domestik, hotel-hotel maupun tempat wisata, merupakan pasar potensial,” ujarnya.

 

Sementara Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Berau Agus Wahyudi mengatakan perlu badan usaha milik daerah (BUMD) khusus mengelola kakao. “BUMD ini menjadi pengatur harga dan stok kakao dari Berau,” ujarnya. 

Kakao berau sudah mulai diasah kilaunya berawal pada 2017 silam, Pemerintah Kabupaten Berau meluncurkan program Gerakan Mengembangkan Agribisnis (Gemari) Kakao di Kampung Tumbit Melayu. 

"Namun untuk mengarah secara komersial dan digitalisasi pemasaran, Berau perlu belajar dari Kabupaten Jembrana, Bali," ungkapnya. 

Webinar digelar atas kerja sama Forum Komunikasi Perkebunan Berkelanjutan Provinsi, Dinas Perkebunan Kaltim, Forum Komunikasi Perkebunan Kabupaten Berau  dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).