Berbahan Biosilika Sekam Padi, Menparekraf Luncurkan Sepatu Ramah Lingkungan

Peluang Usaha | DiLihat : 351 | Kamis, 27 Mei 2021 | 12:30
Berbahan Biosilika Sekam Padi, Menparekraf Luncurkan Sepatu Ramah Lingkungan

JAKARTA – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno meluncurkan produk sepatu biosneakers Node karya anak bangsa berbahan baku serat alam lokal. Hasil riset Balitbangtan yaitu nanobiosilika menjadi salah satu unsur yang terdapat pada sepatu ini.

 

Node yang merupakan singkatan dari No Deforestation, merupakan biosneakers berbahan baku 95% bahan organik yang ramah lingkungan sehingga limbahnya dapat terurai secara alami. Sol bagian luar biosneakers produksi PT Triangkasa Lestari Utama (TLU) ini terbuat dari karet alam dengan campuran biosilika dari sekam padi hasil inovasi Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian.

 

Sandiaga Uno menyampaikan bahwa sepatu biosneakers merupakan ide yang cemerlang karena menggabungkan produk ekonomi kreatif dengan tren keberlanjutan lingkungan. “Jadi konsep alas kaki dengan bahan baku alami berkelanjutan. Istilahnya sepatu ini kalau kita tanam di dalam tanah sekitar satu tahun mungkin sudah bisa terurai.” terangnya.

 

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry menerangkan bahwa kehadiran sepatu biosneakers ini merupakan salah satu kontribusi Badan Litbang Pertanian dalam pemanfaatan limbah dari produksi pertanian. “Salah satu limbah yang dimanfaatkan adalah jerami dan sekam.” ujarnya.

 

Fadjry menambahkan bahwa produk biosneakers ini merupakan salah satu lompatan inovasi yang sarat manfaat. Di dalamnya terdapat pemanfaatan limbah pertanian, peningkatan nilai tambah, daya saing, substitusi impor, dan tentunya pelestarian lingkungan. Dengan demikian, dari padi bukan hanya beras hasilnya.

 

“Kementerian Pertanian terus mendorong penciptaan inovasi yang mampu memberikan nilai tambah pada hasil pertanian secara berkelanjutan, seiring upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan petani dan kelompok masyarakat lainnya.” jelasnya.

 

Fadjry mengungkapkan bahwa Badan Litbang Pertanian memiliki teknologi-teknologi yang bisa diakses pelaku industri. “Kami siap bekerjasama dan siap menyampaikan hasil-hasil teknologi kami untuk menggerakkan ekonomi masyarakat kita,” ungkapnya.

 

Sementara, Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) Balitbangtan, Prayudi Syamsuri menjelaskan Jumlah gabah di Indonesia  per tahun mencapai 55 juta ton, dan sekitar 11 juta ton diantaranya berupa limbah sekam padi.

 

“Dari 1 ton sekam, mampu menghasilkan 150-200 kilogram silika. Itu artinya bisa sampai 2,2 ton silika per tahun dari seluruh limbah sekam padi.” terangnya.

 

Prayudi menyampaikan bahwa BB Pascapanen Pertanian telah mengembangkan teknologi sol-gel energi rendah skala semi pilot untuk memproduksi silika dari sekam padi dengan ukuran partikel skala nanometer (20—200mm) yang dinamakan nanobiosilika.

 

“Salah satu produk biosilika dimanfaatkan sebagai filler penguat pada karet (sol sepatu) yang nantinya dapat cepat terurai.” tambahnya.

 

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Perindustrian, Johnny Darmawan mengatakan peluncuran sepatu biosneakers karya anak bangsa ini diharapkan dapat menjadi pemicu bangkitnya industri kecil menengah (IKM) berbasis riset dan pengembangan.

 

“Biosneakers ini dikembangkan wira usaha muda yang litbangnya didukung oleh Balai Besar Litbang Pascapanen, Kementerian Pertanian. Yang sangat menggembirakan adalah bahan baku sepatu biosneakers hampir seratus persen berasal dari pohon dan serat alam lokal. Hal ini berpeluang menjadikan produk kreatif lokal,” tutur Johnny.