Negara Agraris, Mengapa Harga Pangan di Indonesia Rawan Bergejolak?

Ekonomi | DiLihat : 822 | Senin, 20 Februari 2017 12:49
Negara Agraris, Mengapa Harga Pangan di Indonesia Rawan Bergejolak?

JAKARTA, KOMPAS.com - Gemah ripah loh jinawi, ungkapan kata yang sering disematkan pada Indonesia, kata tersebut memiliki arti yakni kekayaan alam yang berlimpah.

Sebagai negara agraris, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ditambah posisi Indonesia yang dinilai amat strategis. Mulai dari sisi geografis, Indonesia terletak pada daerah tropis yang memiliki curah hujan yang tinggi sehingga banyak jenis tumbuhan yang dapat hidup dan tumbuh dengan cepat.

Selain itu dari sisi geologi, Indonesia terletak pada titik pergerakan lempeng tektonik sehingga banyak terbentuk pegunungan yang kaya akan mineral. Daerah perairan di Indonesia kaya sumber makanan bagi berbagai jenis tanaman, ikan, dan hewan laut, dan juga mengandung berbagai jenis sumber mineral.

Negara Agraris

Indonesia juga dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam. Pada Februari 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 31,74 persen angkatan kerja di Indonesia atau 38,29 juta bekerja di sektor pertanian. Dengan angka tersebut, telah terjadi hampir dua juta pekerja sektor pertanian beralih ke sektor lain hanya dalam setahun.

Sebagai agraris, pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai macam tumbuhan komoditas ekspor, antara lain padi, jagung, kedelai, sayur-sayuran, aneka cabai, ubi, dan singkong. Selain itu, Indonesia juga dikenal dengan hasil perkebunannya, antara lain karet, kelapa sawit, tembakau, kapas, kopi, dan tebu.

Sejarah mencatat Indonesia pernah mengalami masa swasembada pangan, khususnya komoditas beras, pada dekade 1980-an. Namun di sisi lain, Indonesia kerap mengimpor bahan pangan dari negara-negara lain.

Persoalannya cukup dinamis, mulai dari persediaan yang terbatas, harga berbagai komoditas pangan yang sering bergejolak, hingga praktik nakal dalam rantai distribusi pangan. Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas mengungkapkan, ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi naik turunnya harga pangan pada saat ini.

"Pertama, karena produk pertanian sifatnya musiman, jadi sesuai musim, ada puncak-puncak dimana produksi tinggi lalu ada waktu-waktu terjadi paceklik atau tidak ada produksi itu yang salah satunya menyebabkan harga pangan itu selalu fluktuatif," ujar Andreas saat berbincang dengan Kompas.com, Minggu (19/2/2017). Menurutnya, faktor kedua adalah, sifat dari produk pertanian yang sebagian besar mudah rusak dan tidak tahan lama.

"Karena mudah rusak otomatis, tidak memiliki daya simpan yang lama sehingga harus cepat dijual, maka ada kondisi-kondisi tertentu stok menurun, kalau cepat dijual kemudian harga turun, tetapi ketika tidak terjual lagi mungkin dalam satu sampai dua minggu harga naik nggak karuan," paparnya.

Selain itu, persoalan harga pangan juga dipengaruhi oleh elastisitas permintaan atau price elasticity of demand (PED), yang merupakan ukuran respon perubahan jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga. "Jadi tiga faktor itu yang berkombinasi menyebabkan harga pangan cenderung fluktuatif," ujarnya.

Stabilisasi Harga Pangan

Dalam persoalan lonjakan harga pangan, pemerintah tentunya tak tinggal diam, berbagai kebijakan guna meredam dan stabilisasi harga pangan terus digulirkan. Seperti upaya khusus penambahan luas tanam komoditas strategis padi, jagung, kedelai yang dilakukan oleh Kemeterian Pertanian, hal ini dilakukan guna meningkatkan produksi dan juga upaya untuk tidak impor pangan.

Selain itu, upsus sapi indukan wajib bunting yang digencarkan guna meningkatkan populasi sapi di Indoensia. Seperti komoditas beras, pada tahun 2016 lalu harga beras pada tataran yang relatif stabil dan tidak bergejolak. Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti mengatakan, sepanjang 2016 pergerakan harga beras relatif stabil jika dibandingkan pada 2015 yang sempat mengalami kenaikan sampai 30 persen. Hal tersebut juga diakui Pengamat Pertanian IPB Dwi Andreas yabg mengatakan harga beras selama 2016 relatif stabil dan tidak fluktuatif.

"Beras di tahun 2016 lalu relatif stabil harganya, fluktuatifnya tidak separah tahun 2015 yang dibulan Februari masih sangat tinggi dan kemudian drop dibulan April dan Mei, lalu naik lagi lebih tinggi," ungkapnya. Pada tahun 2016 perbedaan harga beras terendah dan tertinggi hanya Rp 350 perbedaannya dengan tahun sebelumnya.

"Itu ada faktor yang mempengaruhi, perbaikan produksi, sehingga produksi hampir sepanjang tahun, dan masa simpan, jadi beras relatif tersedia sepanjang tahun," paparnya. Namun, kebijakan itu berbeda untuk komoditas seperti aneka cabai dan tomat yang memiliki masa simpan pendek serta mudah rusak.

Lonjakan harga yang sering terjadi diakibatkan masalah data produksi dan stok yang tidak akurat. "Sebenarnya kenaikan harga itu menandakan ada masalah di stok. Sehingga kunci dari tata kelola pangan yang baik adalah data produksi dan stok yang akurat, itu kuncinya," pungkasnya.

Menurut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri, persoalan harga pangan di Indonesia masih dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti alam, rantai distribusi, dan kebijakan pemerintah. Faktor lainnya adalah persoalan distribusi pangan yang masih panjang, dan berimbas pada harga.

"Semakin panjang rantai pasok, akan semakin mempengaruhi harga, itu secara otomatis," jelasnya. Adapun faktor ketiga adalah faktor kebutuhan dan pasokan yang sering tidak seimbang, utamanya pada hari-hari besar keagamaan.

"Keempat, yang paling akhir adalah kebijakan, karena kebijakan mempengaruhi harga juga walaupun memang variabel ini paling kecil dan paling jarang, tetapi ini juga ada, contoh harga eceran tertinggi, itu bisa mempengaruhi psikologi pasar," pungkasnya.

sumber : bisniskeuangan.kompas.com