Pertamina Tanam Ratusan Spesies Langka dan Eksotis di Lahan Hutan Pelangi Prabumulih

Inspirasia | DiLihat : 167 | Senin, 31 Agustus 2020 | 19:44
Pertamina Tanam Ratusan Spesies Langka dan Eksotis di Lahan Hutan Pelangi Prabumulih



PRABUMULIH - PT Pertamina EP Asset 2 Prabumulih Field mencanangkan pembuatan hutan pelangi di wilayah kerja perusahaan migas andalan nasional ini.

Penamaan hutan pelangi sebenarnya merujuk pada penanaman spesies flora leda (Eucalyptus deglupta) atau populer disebut eukaliptus pelangi. Ratusan spesies langka dan eksotis ini akan ditanam secara bertahap di areal kompleks Pertamina Asset 2.

“Lahan yang kita tanami ini dirancang khusus untuk menjadi hutan edukasi konservasi keanekaragaman hayati di wilayah Prabumulih. Hari ini kita menanam satu lagi spesies tumbuhan langka, Eukaliptus pelangi, untuk memperkaya keanekaragaman tanaman yang sudah ada,” kata Ndirga Andri Isworo, Pertamina Prabumulih Field Manager dalam sambutannya. “Kita ingin mewariskan alam yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Sebagai informasi, di lahan kurang lebih seluas 4 hektar telah ditanami beraneka jenis tumbuhan. Ada spesies flora endemik sumatra, spesies langka hingga terancam punah, aneka tanaman kehutanan untuk peneduh dan penyerap emisi gas rumah kaca, tanaman buah, serta spesies flora ornamental atau tanaman hias. Di antaranya spesies merawan, tembesu, mahoni, bungur, tanjung, kelapa, salam, dan lain-lain.

Assistan Manager HSSE Pertamina Prabumulih Field, Ronald Hendra Simanjuntak, pada kesempatan yang sama menyampaikan bahwa konservasi keanekaragaman hayati merupakan salah satu mandat bagi Pertamina untuk tetap memelihara kelestarian alam. Setiap tahun kita selalu melakukan upaya konservasi keanekaragaman hayati. Baik flora maupun fauna,” papar Ronald.

Pengelolaan dan Pemanfaatan

Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), menyambut baik insiatif pengembangan hutan edukasi berbasis konservasi keanekaragaman hayati ini. Menurut Syamsul Asinar Radjam, Pembina INAgri, pemilihan spesies Eucalyptus deglupta juga dianggap menarik. Selain nilai eksotisnya, spesies ini juga rentan terancam punah.

Habitat aslinya hanya ada di tiga negara, Indonesia, Filipina (Pulau Mindanao), dan Papua Nugini, dan belum banyak dikembangkan baik untuk tanaman kehutanan maupun konservasi. Tak heran bila Uni Internasional untuk Konservasi Alam atau International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengkategorikannya sebagai spesies yang rentan punah (vulnerable).

“Yang terpenting adalah bagaimana program konservasi keanekaragaman hayati diiringi dengan langkah-langkah pengelolaan. Baik pengelolaan kawasan, pengelolaan pengetahuan, maupun pengelolaan produk yang dihasilkan agar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi alam dan manusia,”tutur Syamsul.

“Sebagai contoh, jenis flora eukaliptus memiliki potensi minyak atsiri. Sejumlah riset terkini menyebutkan minyak atsiri dari eukaliptus memiliki potensi menghambat penyebaran covid-19 yang sedang rebak saat ini."

Ndirga juga menegaskan bahwa alam ini penuh dengan warna. Eucalyptus deglupta juga dipilih sebagai spesies yang dikonservasi perusahaan migas ini pada tahun 2020 juga karena keunikan warna-warni alami yang tampak di kulit pohonnya.

Sebelumnya, Pertamina EP Asset 2 Prabumulih Field memang banyak menerapkan corak warna-warni pada program lain, misalnya pengembangan Desa Burai di Kabupaten Ogan Ilir sebagai desa wisata yang dicirikan dengan rumah tradisional yang dicat warna-warni, taman-taman bermain dan edukasi yang juga penuh warna.

“Di masa yang akan datang, dari upaya konservasi hari ini, selain untuk pelestarian lingkungan hidup kita berharap dapat memberikan satu wahana edukasi baru bagi warga Prabumulih dalam wujud hutan pelangi,” kata Ndirga di akhir kegiatan penanaman.