Petani Ini Tolak Pindahkan Ladangnya dari Bandara Meski Ditawari Rp25 Miliar

Agro Unik | DiLihat : 457 | Rabu, 19 Agustus 2020 | 19:08
Petani Ini Tolak Pindahkan Ladangnya dari Bandara Meski Ditawari Rp25 Miliar

SEORANG petani sangat keras kepala. Dia memutuskan untuk tetap tinggal di rumahnya yang berada di kawasan Bandar Udara (Bandara) Narita, Jepang. Ia bertahan tinggal di rumah tersebut sambil terus mengerjakan tugasnya sebagai petani dengan menanam berbagai macam sayuran.

Petani tersebut bernama Takao Shito. Kabarnya, keluarganya telah menanam sayuran di ladangnya yang berada di kawasan Bandara Narita selama lebih dari 100 tahun.

Pesawat terbang pun menjadi pemandangan utama Shito setiap hari. Satu-satunya cara bagi Shito untuk pulang dan pergi menuju tempat pertanian adalah melalui terowongan bawah tanah. Kebanyakan orang akan memutuskan untuk pindah rumah untuk mengatasi kondisi ini. Namun tidak dengan Shito.

Dia justru berjuang untuk mempertahankan pertaniannya selama lebih dari dua dekade. Bahkan Shito telah menolak tawaran lebih dari USD 1,7 juta atau sekira Rp25 miliar untuk penjualan tanah miliknya.

“Ini adalah tanah yang diolah oleh tiga generasi selama hampir satu abad oleh kakek, ayah, dan saya sendiri. Saya ingin terus tinggal di sini dan bertani,” tutur Shito .

Ayah Shito, Toichi adalah salah satu petani paling gigih yang telah menghalangi rencana pemerintah untuk memperluas Bandara Narita sejak 1970-an. Sebagian besar petani di daerah itu berhasil diyakinkan untuk menjual tanah mereka dengan instentif keuangan.

Tapi Toichi Shito tidak mau mengalah dengan uang yang ditawarkan. Hal yang sama pun menurun pada sang anak ketika petani tua tersebut meninggal dunia pada usia 84 tahun. Kala itu Shito berhenti dari pekerjaanya di restoran dan kembali ke pertanian keluarga untuk melanjutkan perjuangan ayahnya.

Hingga saat ini Shito terus-menerus terlibat dalam perselisihan hukum untuk menghentikan pihak berwenang yang secara paksa mengusirnya dari tempat yang telah dikelola oleh leluhurnya. Meskipun melelahkan karena harus bertani seorang diri, namun Shito tidak mundur dengan keinginannya.

Perjuangan Shito telah menjadi simbol hak-hak sipil. Ratusan relawan dan aktivis pun bersatu untuk mendukungnya selama bertahun-tahun lamanya.

“Saya ditawari penyelesaian tunai dengan syarat saya meninggalkan pertanian saya. Mereka menawarkan Rp25 miliar. Itu setara dengan gaji seorang petani selama 150 tahun. Saya tidak tertarik dengan uang, saya ingin terus bertani. Saya tidak pernah berpikir untuk pergi,” lanjutnya.

Sekadar informasi Bandara Narita adalah bandara internasional utama Tokyo yang menangani sekira 40 juta penumpang dan 250 ribu penerbangan setiap tahun. Landasan pacu kedua seharusnya melewati tanah milik Shito, tetapi karena masalah hukum landasan pacu tersebut sekarang memutarinya.

Bandara telah membeli tanah dari petani lain yang tidak terlalu keras kepala, tapi Shito tetap tidak mau meninggalkan pertaniannya. Menurut salah satu artikel, Pengadilan Lokal Chiba mengumumkan keputusan yang tidak adil yang mengizinkan eksekusi wajib atas tanah Takao pada 20 Desember 2018.

Namun, keesokan harinya Shito memenangkan keputusan pengadilan lain yang memerintahkan penghentian sementara proses eksekusi wajib sampai persidangan di Pengadilan Tinggi Tokyo dimulai setahun kemudian. Hingga saat ini Shito masih merawat pertanian organiknya di tengah Bandara Narita dan menjual hasilnya kepada sekira 400 pelanggan.

Pandemi virus corona Covid-19 bahkan tidak berdampak negatif padanya. Justru kondisi tersebut membuat lalu lintas udara menjadi menurun sehingga semakin banyak udara bersih dan rumahnya menjadi lebih tenang.




okezone