AHY: Keberpihakan Politik Pertanian Dibutuhkan untuk Penguatan Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Ekonomi | DiLihat : 1190 | Senin, 17 Agustus 2020 | 07:58
AHY: Keberpihakan Politik Pertanian Dibutuhkan untuk Penguatan Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam suatu kesempatan acara panen raya di Banyuwangi, Jawa Timur.



DI TENGAH ketidakpastian kondisi ekonomi nasional akibat dampak pandemi Covid-19, sektor pertanian ternyata masih mampu berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian menjadi satu-satunya dari lima besar sektor utama yang masih bisa bertahan di angka positif, yakni 2,19%.

 

Namun begitu, berdasarkan hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Juni 2020, dampak jangka panjang pandemi akan menimbulkan masalah berat bagi sektor pertanian, yang diperkirakan akan mengalami tekanan serius di sisi penawaran dan permintaan.

 

Tekanan itu berpotensi terasa lebih berat jika muncul resiko iklim ekstrem dan juga gelombang ruralisasi atau perpindahan penduduk dari kota ke desa, yang disebabkan oleh ketidakmampuan masyarakat bertahan di kehidupan perkotaan yang menuntut biaya hidup (living cost) tinggi di tengah pandemi.

 

“Di sinilah keberpihakan ‘politik pertanian’ melalui penetapan prioritas kebijakan dan perbaikan tata kelola pertanian nasional menjadi terasa penting dan relevan untuk dilakukan,” ujar Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam tulisannya berjudul Pertanian Kuat, Ekonomi Bangkit.

Tulisan keren AHY ini bisa dibaca keseluruhan di buku Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran & Solusi, yang tak lama lagi terbit sebagai kado HUT ke-75 Kemerdekaan RI. Selain AHY, ada delapan tulisan tokoh lainnya di buku yang diinsiasi lembaga Pandu Tani Indonesia (Patani) dan disunting Jaelani Ali Muhammad (Kepala Editor Bahasa KORAN SINDO) ini.

Masih dalam tulisannya, menurut AHY, keberpihakan kebijakan ‘politik pertanian’ mesti dijalankan oleh semua stakeholders, termasuk partai politik, untuk memberikan affirmative actions kepada para petani. Di tahap awal, upaya bisa dijalankan melalui pemberian stimulus untuk meningkatkan hasil produksi pertanian. Selanjutnya, stimulus juga perlu diberikan untuk menekan tren negatif dalam penurunan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian.

“Karena menurut penelitian IPB, jika intervensi negara melalui stimulus sektor pertanian tidak diberikan, maka pertumbuhan hasil produksi bisa mencapai negatif 4,92-10,4%. Namun jika stimulus itu diberikan dan tepat sasaran, dampak destruktif ekonomi terutama di komoditas padi, ini bisa dinetralisir dengan baik,” kata AHY.

Sekadar diketahui, selain AHY, ada delapan tokoh lainnya yang menyumbang tulisan di buku bunga rampai berjudul Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran & Solusi. Mereka adalah Prof Rokhmin Danuri (Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong), Dr Anton Apriyantono (Menteri Pertanian dalam Kabinet Indonesia Bersatu), dan Prof Bomer Pasaribu (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada paruh pertama era pemerintahan Abdurrahman Wahid).

Lalu, ada doktor bidang keahlian ilmu perencanaan pembangunan wilayah dan perdesaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Harry Santoso, Direktur Indofood Franciscus Welirang, Direktur Utama Perum Bulog 2009-2014 Sutarto Alimoeso, Guru Besar IPB yang juga Rektor Perbanas Institute Hermanto Siregar, serta Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) sekaligus Managing Director di East West Seed Glenn Pardede.

Direktur Utama Patani Sarjan Tahir mengatakan, pihaknya sengaja mengundang AHY menjadi penulis tamu di buku Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran & Solusi, untuk melihat pandangan sekaligus keberpihakan Ketum Demokrat tersebut dengan pertanian.

 “Buku berseri tentang ketahanan pangan ini setiap dua bulan sekali kita luncurkan. Nanti, di seri berikutnya kita juga undang politisi dan tokoh berpengaruh lainnya untuk menyumbang tulisan. Semua dapat giliran dan dimintai pandangannya,” ujar Sarjan.