PITAP, Wujud Nyata Padat Karya di Kawasan Tambak Berkelanjutan

Infrastruktur | DiLihat : 548 | Senin, 03 Agustus 2020 | 20:07
PITAP, Wujud Nyata Padat Karya di Kawasan Tambak Berkelanjutan

JAKARTA--- Pengelolaan perikanan budidaya berkelanjutan memerlukan prasarana irigasi tambak yang bagus. Guna memaksimalkan fungsi jaringan saluran irigasi tambak pembudidaya dan menunjang program padat karya, sejak tahun 2013 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggulirkan program bantuan Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP) kepada masyarakat.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan,   PITAP  merupakan penyelenggaraan irigasi swakelola berbasis peran serta kelompok pengelola irigasi perikanan (Poklina), mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan kegiatan dan operasional pemeliharaan. Dalam pelaksanaannya kegiatan ini menggunakan tenaga manusia, termasuk masyarakat sekitar di luar anggota Poklina. Sehingga, kegiatan ini mampu melibatkan banyak orang.

Slamet mengatakan, padat karya yang melibatkan peran serta masyarakat menjadi perhatian  khusus Presiden Joko Widodo. Melalui padat karya diharapan dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat yang terdampak covid-19.

Prinsip padat karya yang diharapkan  bukan hanya memberikan dampak kepada masyarakat yang terlibat langsung di lapangan. Padat karya (PK) juga memberikan dampak berantai kepada masyarakat pelaku usaha di belakang layar,  seperti penyedia peralatan penunjang di daerah penerima bantuan.

" Karena itu, kegiatan  PITAP yang melibatkan banyak orang merupakan salah satu komponen penunjang percepatan realisasi target menaikkan 250 persen nilai ekspor udang hingga tahun 2024," kata Slamet di Jakarta, Senin (3/8).

Menurut Slamet, karena melibatkan banyak orang,  PITAP membutuhkan komitmen bersama untuk memastikan program dapat berjalan dengan baik. Sinergitas antar seluruh stakeholder yang terlibat menjadi sangat penting untuk memastikan tercapainya tujuan peningkatan fungsi sarana irigasi tambak serta pembangunan kawasan perikanan budidaya berkelanjutan di masyarakat.

Slamet menilai, dengan terpenuhinya kebutuhan air secara kualitas maupun kuantitas di kawasan tambak rakyat selanjutnya harus diikuti juga dengan pencetakan lahan tambak sesuai dengan konsep kawasan budidaya sistem klaster. Kawasan budidaya yang terdiri dari klaster dan sub klaster memiliki sistem biosekuriti terkontrol dengan baik.

" Tambak tersebut juga memiliki instalasi pengolahan limbah, petak reservoir, serta sarana pendukung lainnya," ujar Slamet.

Menurut Slamet, di dalam klaster diharapkan memiliki sub klaster pendukung seperti kawasan silvofishery. Kawasan ini berupa mangrove yang  dapat menjadi kegiatan usaha masyarakat dan berfungsi sebagai penyangga lingkungan untuk memberikan suplai kualitas air yang bagus.

" Dengan terbentuknya sistem klaster kawasan budidaya ini, diharapkan keberlanjutan lingkungan maupun keberlanjutan usaha dapat terwujud di masyarakat," katanya.

Slamet berharap dengan keterlibatan penuh seluruh stakeholder, kegiatan ini dapat segera terlaksana  dengan baik dan benar. “ Saya berharap kegiatan PITAP 2020 dapat segera diimplementasikan guna mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN) ," papar Slamet.

Data Ditjen Perikanan Budidaya menyebutkan, PITAP yang digulirkan sejak tahun 2013 telah berhasil merehabilitasi saluran irigasi tambak sepanjang 766.173 meter. Luas lahan tambak yang terairi sekitar 29.105 Ha di 77 Kabupaten/kota pada 18 provinsi. Sebanyak 428 Poklina telah berhasil memberdayakan total tenaga kerja sebanyak 1.556.600 orang selama kegiatan berlangsung.


tabloidsinartani