Budidaya Tanaman Apel hingga Pascapanen

Kiat Tani | DiLihat : 710 | Sabtu, 25 Juli 2020 | 14:21
Budidaya Tanaman Apel hingga Pascapanen

APEL merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah asia barat dengan iklim subtropis. Apel telah berkembang di banyak daerah di dunia yang bersuhu udaranya lebih dingin. Dan, di Indonesia telah ditanam semenjak 1934 hingga saat sekarang ini.

Jenis tanaman apel menurut sistematikanya termasuk dalam:

1. Divisio: Spermatophyta
2. Subdivisio: Angiospermae
3. Klas: Dicotyledonae
4. Ordo: Rosales
5. Famili: Rosaceae
6. Genus: Malus
7. Spesies: Malus sylvestris Mill

Dari spesies sylvestris Mill tersebut terdapat bermacam-macam varietas yang memiliki ciri-ciri atau kekhasan yang tersendiri. Beberapa varietas apel unggulan antara lain adalah : Rome Beauty, Manalagi, Anna, Princess noble, Dan Wangli/Lali jiwo. Nah berikut di bawah ini langsung saja kita pada inti artikel tips terbaik menanam dan budidaya Apel tersebut.

Manfaat Tanaman
Buah apel banyak mengandung vitamin C  Dan B, Selain dari itu buah apel kerap menjadi pilihan para pelaku diet sebagai makanan substitusi.

Sentra Penanaman
Di Indonesia apel dapat tumbuh dan berbuah baik di daerah dataran tinggi. Sentra produksi buah apel di daerah Malang (Batu dan Poncokusumo) dan juga Pasuruan (Nongkojajar), Jatim. Di daerah ini buah apel telah diusahakan semenjak 1950, kemudian berkembang pesat pada 1960 sampai saat ini. Selain dari itu, daerah-daerah yang banyak ditanami buah apel adalah Kayumas-Situbondo, Banyuwangi, di Jawa Tengah Tawangmangu, di Bali Buleleng dan Tabanan, di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur serta Sulawesi Selatan. Sedangkan sentra penanaman apel di dunia berada di Eropa, Amerika, dan Australia.  


Syarat Tumbuh
1. Iklim

2. Curah hujan yang ideal adalah 1.000-2.600 mm/tahun, dengan hari hujan 110-150 hari/tahun. Dalam setahun banyaknya bulan basah atau hujan adalah 6-7 bulan dan bulan kering 3-4 bulan. Curah hujan yang tinggi pada saat berbunga akan menyebabkan bunga gugur sehingga tidak dapat menjadi buah.

3. Tanaman apel membutuhkan cahaya matahari yang cukup antara 50-60% di setiap harinya, terutama pada saat pembungaan.

4. Suhu yang sesuai berkisar antara 16-27 derajat C.

5. Kelembaban udara yang dikehendaki atau dibutuhkan tanaman apel sekitar 75-85%.


Media Tanam
1. Tanaman apel tumbuh dengan baik pada tanah yang bersolum dalam, Mempunyai lapisan organik yang tinggi, dan struktur tanahnya remah dan gembur, mempunyai aersi, penyerapan air, juga porositas baik. Sehingga pertukaran oksigen dan pergerakan hara serta kemampuan penyimpanan airnya optimal.

2. Tanah yang cocok adalah Latosol, Andosol dan Regosol.

3. Derajat keasaman tanah pH yang cocok untuk tanaman apel adalah 6-7, dan kandungan air tanah yang dibutuhkan adalah air yang tersedia.

4. Dalam pertumbuhannya tanaman apel membutuhkan kandungan air tanah yang cukup.

5. Kelerengan yang terlalu tajam akan menyulitkan perawatan tanaman. Apabila masih memungkinkan dibuat terasering maka tanah masih layak ditanamkan.

Ketinggian Tempat
Tanaman apel dapat tumbuh dan berbuah baik pada ketinggian (700-1200 m dpl) dan dengan ketinggian optimal (1.000-1.200 m dpl).

Pedoman Budidaya
1. Pembibitan: Perbanyakan tanaman apel dilakukan secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan yang baik dan lama sering menghasilkan bibit yang menyimpang dari induknya. Teknik perbanyakan generatif dilakukan dengan biji. Sedangkan perbanyakan vegetatif di lakukan dengan okulasi atau penempelan (budding) atau Sambungan (grafting) dan stek.

2. Persyaratan benih: Syarat batang bawah merupakan apel liar, perakaran luas dan kuat, Bentuk pohon kokoh, mempunyai daya adaptasi yang tinggi. Sedangkan syarat mata tunas adalah berasal dari batang tanaman apel yang sehat dan memiliki sifat-sifat unggul.

 

Penyiapan benih: Penyiapan benih dilakukan dengan cara perbanyakan batang bawah di lakukan Langkah-langkah sebagai berikut yang di bawah ini : 

A. Anakan/Siwilan 
1. Ciri-ciri anakan yang diambil adalah setinggi 30 cm, diameter 0,5 cm, dan kulit batang kecoklatan.

2. Anakan diambil dari pangkal batang bawah tanaman produktif dengan cara menggali tanah di sekitar pohon. Kemudian anakan dicabut beserta akar-akarnya secara berlahan-lahan dan berhati-hati.

3. Setelah anakan dicabut, lalu dirompes dan cabang-cabang dipotong, kemudian ditanam pada bedengan selebar 60cm dengan kedalaman parit 40cm.

B. Rundukan (Layering)
1. Bibit hasil rundukan dapat diperoleh dengan dua cara yaitu:

- Anakan pohon induk liar: Anakan yang agak panjang direbahkan melekat tanah, lalu cabang dijepit kayu dan ditimbun tanah. Penimbunan dilakukan tiap-tiap mata dan apabila telah cukup kuat tunas dapat dipisahkan dengan cara memotong cabangnya.

- Perundukan tempelan batang sawah : Dilakukan pada waktu tempelan dibuka (2 minggu), yaitu dengan memotong  2/3 bagian penampang batang sawah sekitar 2 cm di atas tempelan, dan bagian atas karatan dibenamkan di dalam tanah lalu ditekuk lagi ke atas. Kemudian pada tekukan diberi penjepit kayu atau bambu.

2. Setelah rundukan berumur sekitar 4 bulan, dilakukan pemisahan bakal bibit dengan cara memotong miring batang tersebut di bawah keratan atau tekukan. Lalu bekas luka diolesi defolatan.

C. Stek
Stek apel liar berukuran panjang 15-20cm (Diameter seragam dan lurus), Sebelum ditanam bagian bawah stek dicelupkan larutan Roton F untuk merangsang pertumbuhan akar. Jarak penanaman 30 x 25cm tiap bedengan ditanami dua baris, dan stek siap diokulasi pada umur 5 bulan, dengan diameter batang 1 cm dan perakaran cukup kuat.

Teknik Pembibitan
A. Penempelan
1. Pilih batang bawah yang memenuhi syarat, yaitu yang telah berumur 5 bulan, dan diameter batang ± 1 cm dan kulit batangnya mudah di kelupas dari kayu.
2. Ambil mata tempel dari cabang atau batang sehat yang berasal dari pohon apel varietas unggul yang telah terbukti keunggulanya. caranya adalah dengan menyayat mata tempel beserta kayunya sepanjang 2,5-5cm (Matanya di tengah-tengah). Kemudian lapisan kayu di buang dengan hati-hati agar matanya tidak rusak.
3. Buat lidah kulit batang yang terbuka pada batang bawah setinggi ± 20 cm dari pangkal batang dengan ukuran yang disesuaikan dengan mata tempel. Dan lidah tersebut diungkit dari kayunya dan dipotong setengahnya.
4. Masukkan mata tempel ke dalam lidah batang bawah sehingga menempel dengan baik, terus ikat tempelan dengan pita plastik putih dengan seluruh bagian tempelan.
5. Setelah 2-3 minggu, ikatan tempelan dapat di buka dan semprot/kompres dengan (ZPT). Kemudian tempelan yang jadi mempunyai tanda mata tempel yang berwarna hijau segar dan melekat.
6. Pada okulasi yang jadi, kerat batang sekitar 2 cm di atas okulasi dengan posisi melintang sedikit condong ke atas sedalam 2/3 bagian penampang. Tujuan untuk mengkonsentrasikan pertumbuhan sehingga memacu pertumbuhan mata tunas.

B. Penyambungan

1. Batang atas (entres) berupa cabang (pucuk cabang lateral).
2. Batang bawah dipotong pada ketinggian 20 cm dari leher akar.
3. Potong pucuknya dan belah bagian tengah batang bawah dengan panjang 2-5 cm.
4. Cabang entres dipotong sepanjang 15 cm (3 mata) dan daunnya dibuang, Kemudian pangkal batang atas diiris berbentuk baji. Panjang irisan sama dengan panjang belahan batang bawah. 
5. Batang atas disisipkan ke dalam batang bawah, sehingga kambium keduanya dapat bertemu.
6. Ikat sambungan dengan tali plastik serapat mungkin.
7. Kerudungi setiap sambungan dengan kantung plastik. Kemudian setelah berumur 2-3 minggu kerudung plastik dapat dibuka untuk melihat keberhasilan sambungan.

Pemeliharaan Pembibitan
Pemeliharaan batang bawah meliputi :
A. Pemupukan : Pemupukan dilakukan 1-2 bulan sekali dengan urea dan TSP, masing-masing 5 gram per tanaman, disebar mengelilingi sekitar tanaman.
B. Penyiangan : Waktu penyiangan tergantung pada pertumbuhan gulma.
C. Penyiraman : 1 minggu sekali (apabila tidak hujan).
D. Pemberantasan hama dan penyakit : Disemprotkan pestisida 2 kali tiap bulan dengan memperhatikan gejala serangan. Fungisida yang digunakan adalah Antracol atau Dithane. Sedangkan insektisida adalah Supracide atau Decis. Bersama dengan ini dapat pula diberikan pupuk daun, dan ditambah perekat (Agristic).

Pemindahan Bibit
Bibit okulasi grafting atau (penempelan dan sambungan) dapat dipindahkan ke lapangan pada umur minimal 6 bulan setelah okulasi. Dipotong-potong hingga 80-100 cm dan daun dirompes.

Pengolahan Media Tanam 
1. Persiapan : Persiapan yang diperlukan adalah persiapan pengolahan tanah dan pelaksanaan survei. Dan tujuan untuk mengetahui jenis tanaman, kemiringan tanah, keadaan tanah, menentukan kebutuhan tenaga kerja, bahan, peralatan, hingga biaya yang dibutuhkan/perlukan.

2. Pembukaan Lahan : Tanah diolah dengan cara menyangkul tanah sekaligus membersihkan sisa-sisa tanaman yang masih tertinggal.

3. Pembentukan Bedengan : Pada tanaman apel bedeng hampir tidak diperlukan, Tetapi hanya peninggian alur penanaman.

4. Pengapuran :  Pengapuran bertujuan untuk menjaga keseimbangan pH tanah. Pengapuran hanya dilakukan apabila pH tanah kurang dari 6.

5. Pemupukan : Pupuk yang diberikan pada pengolahan lahan adalah pupuk kandang sebanyak 20 gram) per lubang tanam yang di campur merata dengan tanah. Setelah itu dibiarkan selama 2 minggu.

Teknik Penanaman 

1. Penentuan Pola Tanam : Tanaman apel dapat di tanam secara monokultur maupun intercroping, Intercroping hanya dapat di lakukan apabila tanah belum tertutup tajuk-tajuk daun sebelum 2 tahun. Tetapi pada saat ini, setelah melalui beberapa penelitian intercroping pada tanaman apel dapat di lakukan dengan tanaman yang berhabitat rendah, Seperti : Cabai, Bawang Dan yang lainya. Tanaman apel tidak dapat di tnam pada jarak yang terlalu rapat karena akan menjadi sangat rimbun yang akan menyebabkan kelembaban Tinggi, Sirkulasi Udara kurang, Sinar matahari terhambat dan meningkatkan pertumbuhan penyakit Jarak tanam yang ideal untuk tanaman apel tergantung varietas. Untuk varietas manalagi dan Prices Moble adalah 3-3,5 x 3,5 m, Sedangkan untuk varietas Rome Beauty dan Anna dapat lebih pendek yaitu 2-3 x 2,5-3 m.

2. Pembuatan Lubang Tanam : Ukuran lubang tanm antara (50 x 50 x 50 cm) Sampai (1 x 1 x 1 m). Tanah atas dan tanah bawah di pisahkan, Masing-masing di campur pupuk kandang Kurang lebih 20 kg, Kemudian tanah di biarkan selama 2 minggu, Dan menjelang tanam tanah galian di kembalikan sesuai dengan asal mulanya.

3. Cara Penanaman : Penanaman apel di lakukan baik pada musim hujan atau kemarau (Di sawah) untuk lahan tegal dianjurkan pada musim hujan. Nah berikut di bawah ini cara menanam bibit apel adalah :

1. Masukkan tanah bagian bawah bibit kedalam lubang tanam.

2. Masukkan bibit di tengah lubang sambil diatar perakaranya agar menyebar.

3. Masukkan tanah bagian atas dalam lubang sampai sebatas akar dan di tambah tanah galian lubang tersebut.

4. Apabila semu tanh telah masuk, Kemudian tanah di tekan-tekan secara perlahan dengan tangan agar agar bibit tertanam kuat dan lurus. Dan untuk menahan angin, Bibit dapat di tanam pada ajir dengan ikatan longgar.

Pemeliharaan Tanaman

1. Penjarangan Dan Penyulaman : Penjarangan tanaman tidak di lakukan. Sedangkan penyulaman di lakukan pada tanaman yang mati atau di matikan karena tidak menghasilkan dengan cara menanam tanaman barumenggantikan tanaman yang lama. Penyulaman sebaiknya di lakukan pada musim hujan.

2. Penyiangan : Penyiangan hanya di lakukan di sekitar tanaman induk terdapat banyak gulma yng dinggap dapat mengganggu tanaman. Pada kebun yang di tanami apel dengan jarak tanam yang rapat sehingga Rumput-rumput tidak dapat tumbuh.

3. Pembubunan : Penyiangan yang biasanya di ikuti dengan pembubunan tanah, Pembubunan di maksutkan untuk meninggikan kembali tanah di sekitar tanaman agar tidaaak tergenang air dan juga untuk menggemburkn tanah. Pembubunan biasanya di lakukan setelah Panen atau bersamaan dengan pemupukan.

4. Perempalan/Pemangkasan : Bagian yang perlu di pangkas adalah bibit yang baru di tanam setinggi 80 cm, Tunas yang tumbuh di bawah 60 cm, Tunas-tunas ujung beberapa ruas dari pucuk, 4-6 mata dan bekas tangkai buah, Knop yang tidak subur, Cabang yng berpenyakit, Dan tidak produktif. Cabang yang menyulitkan bulan sampai di dapat bentuk yang di inginkan 4-5 tahun.

5. Pemupukan : Musim hujan/Tanah sawah. Bersamaan rompes daun.

Hama Dan Penyakit  

1. Hama. Kutu hijau (Aphis pomi Geer) 

Ciri : Kutu dewasa berwarna hijau kekuningan, Antena pendek, Panjang tubuh 1,8 mm, Ada yang bersayap dan ada pula tidak bersayap. Panjng sayap 1,7 mm, Berwarna hitam dan perkembangbiakan sangat cepat, telur dapat menetas dalam 3-4 hari.

Gejala : 1. Nimfa maupun kutu dewasa menyerang dengan menghisap cairan Sel-sel, Daun secara berkelompok di permukaan daun muda, terutama di ujung tunas muda, Tangkai cabang, bunga, dan buah, 

2. Kutu menghasilkan embun madu yng akan melapisi permukaan daun dan merangsang tumbuhnya jamur hitam (Embun jelaga) Dan daun berubah bentuk Mengkerut, Leriting, Terlambat berbunga, Buah-buah muda gugur, Jika tidak mutu buahpun terlihat jelek.

Pengendalian

1. Sanitasi kebun dan pengaturan jarak tanam jangan terlalu rapat.
2. Dengan musuh alami coccinellidae lycosa.
3. Dengan penyemprotan Supracide 40 EC (Ba Metidation) Dosis 2 cc/liter air atau 1-1,6 liter.
4. Supracide 40 EC dalam 500-800 liter/ha air dengn interval penyemprotan 2 minggu sekali.
5. Convidor 200 SL (b.a. Imidakloprid) Dosis 0,125-0,250 cc/liter air. 
6. Convidor 200 SL dalam 600 liter/h air dengan interval penyemprotan 10 hari sekali.
7. Convidor tersebut dapat mematikan sampai Telur-telurnya, Cara penyemprotan dari atas ke bawah. Dan penyemprotan di lakukan 1-2 minggu sebelum pembungaan dan di lanjutkan 1-1,5 bulan setelah bunga mekar sampai 15 hari sebelum Panen.

2. Tungau, Spinder mite, Cambuk merah, (panonychus Ulmi)


Ciri : Warna mewrah tua, Panjang 0,6 mm.

Gejala

1. Tungau menyerang daun dengan menghisap cairan Sel sel daun. 
2. Pada serangan hebat menimbulkan bercak kuning buram, cokelat, Dan mengering.
3. Pada buah yang menyebabkan bercak Keperak-perakan atau cokelat.

Pengendalian

1. Dengan musah alami coccinellidae dan lycosa.
2. Penyemprotan Akarisida Omite 570 EC sebanyak 2 cc/liter air atau 1 liter Akarisida Omite 570 EC dalam 500 liter air/hektar dengan interval 2 minggu.

3. Trips 

Ciri : Berukuran kecil dengan panjang 1 mm, nimfa berwarna putih Kekuning-kuningan , Dewasa berwarna cokelat kehitam-hitaman, Bergerak dengan cepat dan apabila di sentuh akan segera terbang menghindar.

Gejala

1. Menjerang daun, kuncup/tunas, dan buah yang masih sangat muda.
2. Pada daun terlihat Berbintik-bintik putih, kedua sisi daun menggulung keatas dan pertumbuhan tidak normal.
3. Pada ujung daun tunas mengering dan gugur.
4. Pada daun meninggalkan bekas luka yang berwarna cokelat keabu-abuan.

Pengendalian

1. Secara mekanis dengan membuang Telur-telur pada daun dan menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidak terlalu rapat.

2. Penyemprotan dengan intektisida seperti lannate 25 WP (b.a. Methomyl) dengan dosis 2 cc/liter air atau Lebaycid 550 EC (b.a. Fention) dengan dosis 2 cc/liter air pada saat tanaman sedang bertunas, Berbunga, Dan pembentukan buah.

4. Ulat Daun (Spodopteralitura) 

Ciri : Larva berwarna hijau dengan Garis-garis Abu-abu memanjang dari abdomen sampai kepala. Pada lateral larva terdapat bercak hitam yang berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran. Meletakkan telur secara berkelompok dan di tutupi dengan rambut halus yang berwarna cokelat muda. 

Gejala : Menyerang daun, Mengakibatkan Lubang-lubang tidak teratur hingga Tulang-tulang daun.

Pengendalian. 

1. Secara mekanis dengan membuang Telur-telur pada daun
2. Penyemprotan dengan penyemprotan seperti Tamaron 200 LC (b.a. Metamidofos) Dan Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos).

5. Serangga Penghisap Daun (Helopelthis Sp) 

Ciri : Helopelthis theivora dengan abdomen warna hitam dan merah, sedangkan helopelthis Antoni dengan abdomen warna merah dan putih, Serangga berukuran kecil,panjang nimfa yang baru menetes 1 mmdan panjang serangga dewasa 6-8 mm. Pada bagian thoraknya terdapat benjolan yang menyerupai jarum.

Gejala : Menyerang pada pagi hari, Sore atau pada saat keadaan berawan. Menyerang daun muda,Tunas dan buah buah dengan cara menghisap cairan sel, Daun yang terserang menjadi coklat dan perkembanganya tidak simetris, Tunas yang terserang menjadi coklat, Mengering dan akhirnya mati juga, Serangan pada buah menyebabkan buah menjadi bercak bercak coklat, nekrose, dan apabila buah membesar, Bagian bercak bercak ini pecah, yang menyebabkan kualitas buah menurun.

Pengendalian : 

1. Secara mekanis dengan cara pengerondongan atap plastik/pembelonsongan buah.
2. Penyemprotan dengan insektisida seperti : Lannate 25 WP (b.a. Metomyl), Baycarb 500 EC (b.a. BPMC) Yang di lakukan pada sore hari atau pagi hari.

6. Ulat Daun Hitam (Dasychira Inclusa Walker)

Ciri : Larva mempunyai 2 jambul dekat kepala berwarna hitam yang mengarah kerah samping kepala, Dan pada bagian badan terdapat 4 jambul yang merupakan kumpulan serta berwarna coklat Kehitam-hitaman. Di sepanjang 2 sisi tubuh terdapat rambut yang berwarna Abu-abu dan panjang larva 50 mm.

Gejala : Menyerang daun muda dan yang tua, Dan tanaman yang terserang tinggal tulang Daun daunya dengan kerusakan 30%. Dan pada siang hari larva bersembunyi di balik daun.  

Pengendalian : 

1. Secara mekanis dengan membuang telur telur yang biasanya di letakkan pada daun.
2. Penyemprotan insektisida Seperti : Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos) Dan matador 25 EC.

7. Lalat Buah (Rhagloletis Pomonella)

Ciri : Larva tidak berkaki, Setelah menetas dari telur 10 hari kemudian dapat segera memakan daging buah,Warna lalat hitam, Dan kaki Kekuning-kuningan lalu meletakkan telur pada buah,

Gejala : Bentuk buah menjad jelek,Dan terlihat benjol-benjol.

Pengendalian : 

1. Penyemprotan insektisida kontak seperti Lebacyd 550 EC. 
2. Membuat perangkat lalat jantan dengan menggunakan Methyleugenol sebanyak 0,1 cc lalu di teteskan pada kapas yang sudah di tetesi Insektisida 2 cc. Dan kapas tersebut di masukkan ke botol plastik (Bekas air mineral) Yang di gantungkan dengan ketinggian 2 meter,Karena aroma yang mirip Bau-bau yang di keluarkan sang betina, Maka si jantan tertarik dan menghisap kapas tersebut.

Penyakit

1. Penyakit Embun Tepung (Powdery Mildew)

 Penyebab : Padosphaera leucottich Salm. Dengan Stadia imperfeknya adalah oidium Sp.

Gejala :

1. Pada daun atas tampak Memutih atau putih, Tunas tidak normal, kerdil dan tidak berbuah, 
2. Pada buah berwarna coklat, Dan berkutil coklat.

Pengendalian

1. Memotong tunas atau bagian yang sakit dan di bakar.
2. Dengan menyemprotkan fungisida Nimrod 250 EC (2,5-5 cc/10 liter air (500 liter/Ha) Atau Afugan 300 EC (0,5-1 cc/liter air (Pencegahan) Dan 1-1,5 cc/liter air Setelah perompesan sampai tunas berumur 4-5 minggu dengan interval 5-7 Hari.

Penyakit Becak Daun (Marssonina coronaria J.J. Davis)

Gejala :
 Pada daun umur 4-6 minggu setelah perompesan terlihat brecak putih yang tidak teratur, Berwarna coklat, Dan permukaan atas timbul titik-titik hitam, Di mulai dari daun tua, Daun muda hingga seluruh bagian Gugur.

Pengendalian :

1. Jarak tanam tidak terlalu rapat, Dan bagian yang terserang di buang atau di bakar.

2. Di semprot fungisida Agrisan 60 WP 2 gram/liter air, Dosis 1000-2000 gram/ha sejak 10 hari setelah rompes dengan interval 1 minggu sebanyak 10 Aplikasi atau delseme MX 200 2gram/liter air, Henlate 0,5 gram/liter air sejak umur 4 hari setelah rompes dengan interval 7 hari hingga 4 minggu.

3. Jamur upas (Cortisium salmonicolor berk et Br).

Pengendalian : Mengurangi kelembaban kebun, Dan menghilangkan bagian tanaman yang sakit.

4. Penyakit kanker (Botryosphaeria Sp)

Gejala : Menyerang batang/cabang (Busuk, Warna coklat kehitaman, Dan terkadang mengeluarkan cairan). Dan buah (Bercak kecil warna coklat muda, Busuk, Mengelembung, Berair, Dan warna buah memucat.

Pengendalian :

1. Tidak memanen buah terlalu masak.
2. Mengurangi kelembaban kebun.
3. Membuang bagian yang sakit.
4. Pengerokkan batang yang sakit kemudian diolesi fungisida Difolatan 4 F 100 cc/10 liter air atau Copper sandoz.
5. Di semprotkan Benomyl 0,5 gram/liter air, Antracol 70 WP 2 gram/liter air.

5. Busuk buah (Gloeosporium Sp)

Gejala : Bercak kecil coklat dan berbintik-bintik hitam berubah menjadi Orange.
Pengendalian : Tidak memetik buah terlalu masak, Dan pencelupan dengan Benomyl 0,5 gram/liter air untuk mencegah penyakit pada penyimpanan.

6. Busuk Akar (Armilliaria Melea)

Gejala : Menjelang tanaman apel pada daerah dingin basah, D itandai dengan layunya daun, Gugur, Dan kulit akar membusuk.

Pengendalian : Dengan Eradifikasi, Yaitu membongkar/Mencabut tanaman yang terserang beserta Akar-akarnya, Dan bekas lubang tidak di tanami minimal (1 tahun).

8. Panen


Ciri-ciri Dan Umur Panen

Pada umumnya buah apel dapat di panen pada umur 4-5 bulan setelah bunga mekar. Dan tergantung pada varietas dan iklim. Rome beauty dapat di petik pada umur sekitar 120-141 hari dari bunga mekar, Dapat di panen pada umur 141 hari setelah bunga mekar dan Anna sekitar 100 hari. Tetapi pada musim hujan dan tempat yang lebih tinggi, Umur buah lebih panjang.

Pemanenan yang paling baik di lakukan pada saat tanaman mencapai tingkat masak fisiologis (Ripening), Yaitu tingkat di mana buah mempunyai kemampuan untuk menjadi masak normal setelah di panen. Ciri masak fisiologis Buah apel adalah : Ukuran buah terlihat maksimal, Aroma buah mulai terasa, Dan warna buah tampak cerah segar dan apabila di tekan terasa (Kres).

Cara Panen

Pemetikan apel di lakukan dengan cara memetik buah dengan tangan secara serempk untuk setiap kebun.

Periode Panen

Priode panen apel adalah, 6 bulan sekali bedasarkan siklus pemeliharaan yang sudah di lakukan.

Prakiraan Produksi

Produksi buh apel sangatlah tergantung dengan Varietas, Dengan secara umum produksi apel adalah 6-15 kg/Pohon.

PascaPanen

1. Pengumpulan : Setelah di petik, Buah apel di kumpulkan pada tempat yng teduh atau tidak terkena sinar matahari langsung agar laju respirasi berkurang sehingga di dapatkan apel yang tinggi kualitas juga kuantitasnya. Penggumpulan di lakukan dengan Hati-hati kalau bisa jangan di tumpuk dan di lempar-lemparkan. Kemudian di bawa dengan keranjang di gudang untuk di seleksi.

2. Penyortiran dan penggolongan : Penyortiran di lakukan untuk memisahkan antara buah yang baik dan bebas dari penyakit dengan buah yang jelek atau buah yang berpenyakit. Agar penyakit tidak tertular keseluruhan buah yang di panen yang dapat menurunan mutu produ. Penggolongan di lakukan untuk mengklasifikasikan produk berdasarkan jenis variets, Ukuran dan kualitas buah.

3.Penyimpanan : Pada dasarnya buah apel dapat di simpan lebih lama di banding dengan buah-buahan yang lain, Misalnya, Rome beauty 21-28 hari (Umur petik 113-120 hari) Atau 7-14 hari (Umur petik 127-141 hari).Untuk penyimpanan lebih lama (4-7 bulan) Haruslah di simpan pada suhu minus 6-0 deajat C dengan precooling 2,2 derajat C.

4.Pengemasan Dan Transportasi : Kemasan yang di gunakan adalah kardus dengan ukuran (48 x 33 x 37 cm) Dengan berat 35 kg buah apel. Dasar dan diatas susunan apel perlu di beri potongan kertas dan di susun miring (Tangkai sejajar panjang kotak). Kemudian dasar kotak di isi 3-3 atau 2-2 atau juga berselang 3-2 saling menutup ruang antar buah. (epetani)