Lintas Waktu Dunia Pertanian dan Turunannya (1)

Jejak Tani | DiLihat : 666 | Sabtu, 25 Juli 2020 | 11:01
Lintas Waktu Dunia Pertanian dan Turunannya (1)

SEBELUM teknologi pertanian berkembang seperti yang kita alami dewasa ini, teknologi pertanian masih sangat sederhana. Mungkin sekali secara kebetulan beberapa biji-bijian yang terbuang sewaktu kaum ibu menyiapkan makanan berkecambah dan tumbuh menjadi tanaman yang menghasilkan.

 

Kejadian seperti itu menimbulkan keinginan pada kaum ibu untuk menanam kembali sebagian biji-bijian yang mereka kumpulkan dari lapangan dan muncullah usaha bercocok tanam sebagai salah satu kegiatan pertama pertanian.

 

Demikian pula sebagian hewan yang tertangkap sebagai hasil perburuan mungkin sekali tidak dibunuh untuk dimakan karena ada anggota keluarga yang menggunakannya sebagai permainan. Akhirnya hewan yang dipelihara itu berkembang biak dan lahirlah usaha peternakan yang pertama sebagai imbangan bercocok tanam dalam kegiatan pertanian.

 

Di dalam kepustakaan kuno terdapat cerita bahwa penemu kegiatan pertanian ialah Kaisar Cina Shen Nung. Ketika itu ia melihat rakyatnya senang makan daging sapi dan ayam yang diperoleh dari hasil perburuan, serta mengumpulkan buah-buahan, biji-bijian dan kacang-kacangan.

 

Akan tetapi semakin lama rakyatnya bertambah banyak dan lingkungannya tidak dapat memberikan hasil alam yang cukup untuk mendukung kehidupan. Maka ia mencetuskan gagasan membuat suatu alat pengolah tanah dari sebilah kayu yang ditajamkan dan ditempelkan pada suatu tongkat. Itulah model bajak yang pertama, dan dengan bajak tersebut ia menyuruh rakyatnya mengolah tanah dan bertanam jawawut. Jawawut tidak hanya digunakan langsung sebagai makanan rakyatnya tetapi juga dapat digunakan untuk makanan sapi dan ayam.

 

Usaha bercocok tanam buah-buahan pertama yang tercatat dalam sejarah mungkin dapat dikemukakan melalui orang Babilonia Kuno yang telah mengetahui bahwa pohon kurma akan lebih banyak buahnya apabila semacam tepung yang dihasilkan bunga pohon yang manduldipukul-pukulkan ke tandan bunga pohon yang mampu berbuah. Pada waktu itu belum jelas bagi petani kurma bahwa pohon yang mandul itu bukannya mandul, melainkan pohon yang berbunga jantan.

 

Terungkapnya pengetahuan bahwa pohon kurma itu ada dua jenis, yang sekarang kita namakan berumah dua, mungkin sekali terjadi karena pada mulanya mereka memusnahkan semua tanaman yang tidak menghasilkan buah. Hal ini mengakibatkan pohon-pohon yang biasanya berbuah, berguguran putiknya, dan tahulah mereka bahwa pohon yang mereka sangka tidak berguna karena mandul itu memegang peranan penting dalam pembentukan buah.

 

Hal itu menyebabkan naluri petani bekerja dan berusaha membuat lebih banyak bunga pohon yang “subur” dapat berubah menjadi buah dengan memukul-mukulkan tandan bunga dari pohon “mandul” ke tandan bunga pohon “subur”. Pekerjaan yang dilakukan petani ini sekaligus mengubah status pohon kurma dari sekumpulan tumbuhan yang hanya dimanfaatkan hasilnya, menjadi sekumpulan tanaman yang ditingkatkan pemanfaatan hasilnya melalui pemeliharaan.

 

Usaha pemeliharaan terhadap makhluk hidup lain yang dilakukan manusia ini adalah ciri utama kegiatan pertanian.Di mana-mana di seluruh dunia, pada suatu tahap dalam peradaban kuno, orang akan beralih dari usaha berburu dan mengumpulkan hasil alam ke usaha bercocok tanam.

 

Dengan bercocok tanam keperluan akan bahan makanan dapat diperoleh sewaktu-waktu dari tempat yang letaknya dekat ke tempat bermukim. Dengan demikian setiap hari dan selama keadaan cuaca mengizinkan dapat tersedia bahan makanan segar yang tidak perlu diawetkan. Apalagi ketika itu cara-cara mengawetkan makanan belum banyak diketahui orang selain cara-cara mengeringkan dan mengasapkan makanan.

 

Atas dasar berbagai pengamatan kepurbakalaan, diduga usaha pertanian di berbagai masyarakat primitif diprakarsai oleh kaum wanita dengan maksud untuk lebih mudah menyediakan makanan bagi keluarganya. Karena itu pertanian dapat dianggap sebagai suatu usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertugas menyediakan bahan makanan bagi manusia.

 

Pertanian sebagai sumber kehidupan manusia merupakan lapangan kerja yang bersumber dari ilmu pertanian. Sudah selayaknya kalau kita lebih dahulu mengetahui apa yang dimaksud dengan pertanian. Pertanyaan ini agak ganjil untuk didengarkan oleh setiap orang yang mengetahui, bahwa yang dimaksud dengan pertanian itu tidak lain adalah “bercocok tanam”. Memang demikian arti pertanian dalam percakapan sehari-hari. Arti sehari-hari sering disebut dengan nama “pertanian dalam arti sempit”.

 

Arti pertanian yang lebih luas daripada pengertian sehari-hari adalah bahwa pertanian meliputi bidang bercocok tanam (pertanian dalam arti sempit), perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, pengolahan hasil bumi dan pemasaran hasil bumi. Berdasarkan atas pengertian tersebut, maka dalam ilmu pertanian lazim dilakukan pembedaan pengertian antara pertanian dalam arti sempit, yakni kegiatan bercocok tanam dengan pengertian pertanian dalam arti luas yang mencakup bidang pertanaman, perikanan, peternakan, perkebunan dan kehutanan.

 

Dengan sendirinya akan timbul pertanyaan ciri-ciri atau patokan “apakah yang dipergunakan oleh ilmu pertanian untuk menentukan apakah suatu sumber kehidupan masuk dalam bidang pertanian?” Pertanyaan yang sangat sederhana ini nyatanya tak mudah untuk dijawab secara tegas, artinya jawaban yang diberikan masih mengandung kelemahan, khususnya dalam penentuan batas-batasnya.

 

Namun demikian sebagai pedoman atau patokan-patokan suatu kegiatan pertanian dapat kita pergunakan syarat-syarat berikut: 1.dalam proses produksi harus terbentuk bahan-bahan organik yang berasal dari zat-zat anorganik dengan bantuan tumbuh-tumbuhan atau hewan seperti, tumbuh-tumbuhan, ternak, ikan, ulat sutera, laba-laba, dan sebagainya; 2.adanya usaha manusia untuk memperbaharui proses produksi yang bersifat “reproduktif” dan/atau “usaha pelestarian/budidaya”.

 

Kedua syarat itu harus dipenuhi. Jika hanya satu dari dua syarat itu yang terpenuhi, maka usaha produksi itu belum dapat digolongkan menjadi pertanian. Contoh: pengumpulan bahan makanan seperti, umbi-umbian, daun-daunan, buah-buahan, ikan dan hewan dari hutan, padang rumput, sungai, rawa, dan sebagainya oleh suku-suku yang masih hidup mengembara belum dapat dianggap sebagai usaha pertanian, karena usaha “reproduktif dan budidaya belum dilakukan”. Usaha tersebut dinamakan usaha pengumpulan.

 

Sebaliknya penangkapan ikan dari laut, sungai, rawa, danau, empang, tambak yang diiringi dengan penjagaan kelestarian hidup dari hewan-hewan tersebut dapat digolongkan ke dalam pengertian pertanian dalam arti luas .Produk yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan dan hewan itu tidak selalu dapat langsung dipergunakan atau dimakan oleh manusia, umumnya perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu.

 

Pengolahan hasil pertanian dan terlebih lagi bahwa pengolahan itu masih merupakan satu mata rantai dari kegiatan pertanian, maka pada umumnya masih digolongkan dalam pertanian. Contoh kegiatan pengolahan tersebut adalah pembuatan gula mangkok, gula tanjung, penumbukan padi, pembuatan keju di rumah, dan sebagainya. Bahkan usaha pemasaran hasil pertanian yang dilakukan oleh petani-petani kecil di desa-desa atau pasar desa, lazimnya masih digolongkan dalam bidang pertanian. (edi kusmiadi/bersambung)