Kolaborasi Kawasan Perdesaan Tingkatkan Nilai Produk Unggulan

Kabar Desa | DiLihat : 576 | Rabu, 23 Agustus 2017 11:15
Kolaborasi Kawasan Perdesaan Tingkatkan Nilai Produk Unggulan

INFO NASIONAL - Berbagai program digulirkan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mempercepat pembangunan di desa-desa. Percepatan pembangunan ini pun semakin digencarkan dengan fokus pada pembangunan di kawasan perdesaan. Kawasan perdesaan terus didorong untuk menghasilkan produk unggulan sehingga semakin kompetitif.

“Desa harus berkolaborasi dan membangun konsensus dalam lapangan yang lebih luas. Kawasan perdesaan harus menjadi pangkal dari pendalaman dan pembesaran pembangunan desa,” ujar Direktur Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan Ahmad Erani Yustika saat Sarasehan Kebangsaan bertajuk “Mengibarkan Bendera Pembangunan Desa dan Kawasan Perdesaan” di Jakarta, Senin, 21 Agustus 2017.

Menurutnya, pembangunan tidak hanya berupa capaian ekonomi, tapi juga harus memperhatikan pembangunan bidang sosial dan budaya. “Kondisi di lapangan harus menjadi pertimbangan utama. Jangan sampai secara ekonomi tercapai, tapi menambah luka di bidang sosial dan budaya. Sehingga mereka kehilangan kepercayaan dan putus asa. Karena itu, pembangunan menjawab kebutuhan riil di lapangan serta dengan pendekatan yang benar,” tuturnya.

Pembangunan ekonomi desa harus dikembangkan dengan skala ekonomi yang memadai. Erani menilai adanya kolaborasi antardesa akan membuat transaksi ekonomi memiliki nilai tambah. Selain itu, posisi tawar desa akan meningkat. “Penguatan posisi tawar bisa melalui organisasi sosial ekonomi yang kuat, seperti koperasi atau BUMDes (badan usaha milik desa). Jangan saling mematikan desa lain. Pada level tertentu harus dibuka kolaborasi desa,” katanya.

Desa mempunyai dua kewenangan pokok, yaitu kewenangan lokal berskala desa dan kewenangan hak asal usul. Pertama, desa memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan dan terdapat dalam musyawarah desa (musdes). Kedua, hak asal usul terkait dengan pengetahuan kearifan lokal desa, budaya, adat, dan sosial-politik yang menjadi bahan baku untuk menghidupkan komunitas.

Menurut Erani, ada neraca yang menggembirakan bagi pembangunan di desa. Pertama, warga antusias karena ada ruang untuk partisipasi pembangunan melalui musdes. Kedua, adanya transparansi melalui publikasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Ketiga, gotong royong mulai hidup kembali, misalnya pengerjaan proyek dengan dana desa harus swakelola. Pola tersebut menjadi instrumen perekat antarwarga. Keempat, inovasi terjadi di desa.

“Kami terus mendorong berbagai program pemberdayaan dan pembangunan kawasan melalui peningkatan prasarana dan sarana, pengembangan ekonomi, dan pemanfaatan sumber daya alam di kawasan perdesaan. Optimalisasi kesemuanya akan dikembangkan menjadi komoditas unggulan,” ucapnya. (*)


tempo.co