Unsoed lepas padi Parimas, ini berbagai keunggulannya

Kabar Desa | DiLihat : 808 | Senin, 5 Juni 2017 13:01
Unsoed lepas padi Parimas, ini berbagai keunggulannya

Jawa Tengah - Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) kini memiliki varietas padi unggulan yang baru saja dilepas bulan Mei lalu. Padi gogo yang diberi nama padi "Parimas" itu dilepas berdasar Surat Keputusan Menter Pertanian nomor 336/Kpts/TP. 03/5/2017 pada awal bulan Mei lalu.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Prof Dr Suwarto MS mengatakan, padi ini diberi nama Parimas lantaran bibit unggul padi atau pari dalam bahasa Jawa yang berasal dari Banyumas. Padi gogo ini memiliki daya tahan jika tumbuh di lahan kering.

"Parimas diambil dari kata pari dan Banyumas. Ini kami usulkan bersama Konsorsium Penelitian Padi Nasional," kata Suwarto, Sabtu (3/6).

Pria asli Banyumas ini menuturkan, pemuliaan tanaman padi gogo yang dilakukan bersama Ir Hartati MS dan Agus Riyanto MSi itu sudah dimulai sejak tahun 2007. Awalnya, uji coba dilakukan pada satu lahan di wilayah Kecamatan Baturraden.

Sempat berkali-kali gagal panen, Suwarto tak menyerah. Hingga akhirnya, padi dari Galur Padi Gogo G37 ini mulai menampakkan hasil sekitar tahun 2016 lalu.

Parimas, kata dia, memiliki keunggulan potensi hasil tinggi, tahan terhadap penyakit blas ras 073, toleran terhadap keracunan A1 dan kekeringan, memiliki bentuk keras dan tekstur nasi pulen. Tetap mampu panen meski ditanam di lahan yang kurang air dan tingkat kesuburan yang rendah.

"Kemampuan adaptasinya cukup baik apabila ditanam di lahan kering subur, lahan kering masam maupun ketinggian 700 meter di atas permukaan laut," ujarnya.

Suwarto mengatakan, saat ini padi Parimas sudah dikembangkan di 16 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, hingga Pulau Kalimantan.

Ke depannya, seperti padi Unsoed lainnya, Suwarto tidak mau menarik royalti untuk petani yang ingin mengembangkan teknologi Parimas. Hal itu bertujuan untuk menyebarluaskan pengetahuan dan membantu produksi tani masyarakat.

"Kami tidak akan tarik royalti ke petani. Yang ingin mengembangkan atau menanam silakan saja," tandasnya. (suk) 

merdeka.com