Sarjana Pertanian Ditantang ke Desa Tertinggal

Kabar Desa | DiLihat : 537 | Selasa, 23 Mei 2017 10:32
Sarjana Pertanian Ditantang ke Desa Tertinggal

PALMERAH -- Para sarjana pertanian ditantang untuk bekerja dan mengabdi di desa tertinggal. Demikian juga sarjana pertambangan, perikanan, perhutanan, dan agribisnis.

Tantangan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes-PDTT) Johozua M Yoltuwu.

Menurut Johozua, segelintir para sarjana tersebut yang mau bekerja di desa tertingal. Padahal, desa tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang ahli dibidangnya.

Tercatat sebanyak 144 kabupaten yang saat ini masih tergolong daerah tertinggal. Contohnya Papua dan Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi sumber daya alam yang dapat dimaksimalkan.

"SDM kita di daerah tertinggal sangat kecil. Padahal dibutuhkan banyak sarjana untuk mengembangkan wilayah tersebut," kata Johozua di acara seminar nasional Kemitraan Strategis dalam Mendukung Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal yang digelar Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI di Jakarta, Minggu (21/5).

Johozua menambahkan bahwa Presiden Joko Widodo telah berupaya menyelesaikan pembangunan jalan trans Papua.

Jalan tersebut menghubungkan Distrik Mumugu di Kabupaten Asmat lanjut hingga Batas Batu yang merupakan perbatasan Kabupaten Nduga dan Kabupaten Asmat, dilanjutkan lagi sampai Nduga - Kabupaten Jayawijaya. Panjang jalan tersebut 4,300 km, namun yang sudah terbebaskan 3,800 km.

Pembangunan jalan tersebut ditujukan untuk memudahkan akses masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Oleh sebab itu, dibutuhkan sarjana yang mumpuni untuk mengembangkan wilayah tersebut.

Untuk mewujudkan para sarjana mau mau bekerja di desa tertinggal, lanjutnya, maka pihaknya akan melakukan konsolidasi untuk membedah potensi yang ada di desa. Kemudian juga memfasilitasi sekolah kejuruan, vokasi, dan perguruan tinggi agar lulusannya mengaplikasikan ilmunya di desa tertinggal.

"Memang harus ada kerja sama lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi supaya lulusan yang dihasilkan mau kembali membangun desa," ujar Johozua.

Sementara itu, Rektor Institut STIAMI, Panji Hendrarso, menyatakan, pihaknya siap membantu pemerintah di dalam mengembangkan desa tertinggal.

Salah satu langkah yang sudah dilakukan dengan menciptakan suasana lingkungan yang kondusif bagi mahasiswa agar dapat terus mengembangkan kreativitas.

Hal itu ditujukan untuk melahirkan sarjana yang kreatif.

"Selain menciptakan ruang kreativitas, perguruan tinggi juga perlu mengintegrasikan proses kreasi, produksi, dan distribusi hasil kreativitas tersebut dengan pihahk-pihak terkait termasuk pemerintah dan industri," tutur Panji. (dod)

wartakota