Kerajinan serutan bambu ini telah sampai di Eropa

Kabar Desa | DiLihat : 661 | Rabu, 3 Mei 2017 14:04
Kerajinan serutan bambu ini telah sampai di Eropa

Merdeka.com, Jawa Tengah - Serutan bambu sisa para tukang kayu biasanya dibuang begitu saja. Adapula sebagian orang yang memanfaatkannya sebagai pengganti kayu bakar untuk menyalakan tungku.

Tapi di tangan Niko Arstiyanto (49), sisa potongan berupa serutan atau grajen bambu itu justru disulap menjadi patung dan relief dengan nilai seni tinggi. Di sanggar seninya, Ris Studio Art, pematung ini membuat berbagai kerajinan yang unik.

“Awalnya saya sering melihat orang di desa kalau mau menyalakan api di tungku dengan membakar serutan bambu. Dari situ saya muncul ide untuk memanfaatkan limbah serutan ini sebagai bahan membuat relief,” ungkap Niko, yang puluhan tahun menekuni kerajinan patung dan relief ini Senin (1/5).

Niko mengumpulkan serutan bambu itu dari beberapa rumah tangga dan tukang kayu. Setelah terkumpul, bapak satu anak ini membawa limbah bambu itu ke studio seni miliknya di Kelurahan Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto Timur, Purwokerto.

Sebelum direkatkan satu sama lain, bahan bambu tersebut direndam menggunakan cairan khusus agar lebih kuat mereka. Meski terbuat dari bahan limbah bambu, Niko menjamin hasil karyanya tetap awet. Dia punya cara sendiri untuk mengawetkannya.

"Bahan limbah bambunya direndam dulu untuk kekuatannya, lalu diberi pengawet bambu agar tidak kena rayap," jelasnya.

Setelah 10 tahun lebih menekuni profesi ini, lambat laun karya Niko mulai dikenal. Bahkan, hasil karyanya ternyata memiliki peminat besar dari para turis Eropa.

“Di Eropa itu tidak ada bambu, sehingga orang-orang sana menyukai kerajinan dari bambu. Pemesan relief buatan saya ada yang dari Paris, Italia dan negara-negara lainnya,” kata dia.

Setelah menetap di Purwokerto tahun 2010, Niko sering ikut pameran untuk mengenalkan hasil karyanya. Kini bukan hanya orang Eropa yang menjadi peminat hasil karyanya, masyarakat Indonesia pun banyak yang memesan relief dari limbah bambu ini.

“Satu relief biasanya saya buat selama satu bulan. Pernah membuat relief berbentuk gorila setinggi orang dewasa. Harga yang termurah itu kisaran Rp 300 ribu, kalau yang paling mahal saya pernah menjual dengan harga Rp 40 juta kepada orang Italia,” ujarnya.

sumber : jateng.merdeka.com