Pemanfaatan Bambu Bisa Jadi Solusi Perubahan Iklim

Pemanfaatan Bambu Bisa Jadi Solusi Perubahan Iklim

JAKARTA - Pemanfaatan tanaman bambu di Indonesia dapat menjadi salah satu solusi pengendalian perubahan iklim. Tanaman bambu dinilai efektif untuk merehabilitasi lahan terdegradasi, mampu menyerap dan menyimpan karbon, dan dapat diolah menjadi berbagai jenis produk berkualitas.

Selain itu, pemanfaatan bambu dapat memberi kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Ini terungkap pada salah satu sesi diskusi panel di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim (COP UNFCCC) ke-23 di Bonn, Jerman, Selasa (7/11). Diskusi dipimpin oleh Penasihat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wahjudi Wardojo.

Pendiri Yayasan Bambu Lestari Arief Rabik menyampaikan tanaman bambu dapat ditanam di berbagai kondisi lahan. Ini menjadikannya unggul jika dimanfaatkan untuk merehabilitasi hutan dan lahan. "Bambu adalah tanaman juara untuk memperbaiki kondisi lahan," tuturnya dikutip dari keterangan resmi KLHK.

Arief mengatakan satu rumpun tanaman bambu dapat menyimpan hingga 5.000 liter air sehingga sangat baik sebagai tanaman pengatur tata air. Sementara satu ha tanaman bambu dapat menyerap 50 ton gas rumah kaca setara karbondioksida setiap tahunnya.

Produktivitas spesies bambu Indonesia juga lebih tinggi hingga empat kali lipat jika dibandingkan dengan spesies bambu dari Negara beriklim subtropis. "Produktivitas bambu juga sangat tinggi mencapai 50 ton per ha per tahun," imbuhnya.

Budidaya bambu juga tidak sulit dan dapat dilakukan oleh masyarakat. Sayangnya, nilai keekonomian bambu saat ini masih rendah. Padahal, kebutuhan industri akan bambu terus berkembang. Berbagai jenis produk berkualitas bisa dihasilkan dari tanaman bambu mulai dari serat tekstil hingga panel untuk keperluan konstruksi.

Arief mengatakan kini tengah digenjot pengembangan 1.000 Desa Bambu di seluruh Indonesia yang juga didukung KLHK. Setiap desa akan menanam sedikitnya 70.000 bibit bambu seluas 2.000 ha atau setara 35 rumpun/ha. Pihaknya akan melakukan pembinaan bagi masyarakat untuk melakukan budidaya tanaman bambu dan pengolahan bambu hingga setengah jadi.

Peneliti pada Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi LHK sekaligus Koordinator Tim Proyek Organisasi Kayu Tropis Internasional (ITTO) Desi Ekawati menyampaikan saat ini tengah dikembangkan teknik pembibitan bambu. Berdasarkan teknik yang dikembangkan, bibit bambu ditanam setelah terbentuk rumpun yang terdiri dari beberapa tunas bambu.

"Dengan Spartan seedling, rumpun bambu sudah mulai bisa dipanen secara selektif setelah 2-3 tahun. Padahal kalau penanaman konvensional yang hanya satu bibit, butuh 8-9 tahun," jelasnya.

Manajer Riset dan Pengembangan MOSO, sebuah perusahaan pengolah bambu terintegrasi asal Belanda, Arjan Van Der Vegte menegaskan potensi besar pemanfaatan bambu. Pihaknya sudah memproses bambu menjadi produk flooring dan berbagai produk konstruksi.

"Kami siap mendukung pengembangan 1.000 desa bambu dan berharap tanaman bambu bisa menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional Indonesia," katanya.

Pada agenda acara hari-2 Paviliun Indonesia telah membahas empat tema diskusi pada panel diskusi Paviliun Indonesia pada COP 23 UNFCCC yang terdiri dari: Dialog Antar Agama tentang Inisiatif Kehidupan secara Berkelanjutan, Solusi Dengan Perspektif Gender untuk Pengendalian Perubahan Iklim dengan moderator Agus Pambagyo Penasehat Senior Menteri LHK, dan tema Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Manfaatnya Bagi Masyarakat, dan Pengembangan Industri Sumberdaya Bambu Indonesia yang Menarik Pembeli, dengan moderator Wahjudi Wardojo, Penasehat Senior Menteri LHK.

bisnis.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :