Ada Roadmap Percepatan, Bioteknologi Bisa Berlari Kencang

Ada Roadmap Percepatan, Bioteknologi Bisa Berlari Kencang

JAKARTA - Pengembangan bioteknologi dalam negeri diharapkan dapat berlari kencang menyusul sedang disusunnya peta jalan percepatan pengembangan produk rekayasa genetik 2018-2045.

Direktur Indonesian Biotechnology Information Center (IndoBic) Bambang Purwantara menilai banyak peraturan yang membatasi pengembangan bioteknologi. Diantaranya, kata dia, PP No 21/2005 yang belum pernah direvisi, sementara banyak perkembangan yang terjadi. Proses perizinan sejak pengembangan hingga pelepasan benih untuk konsumsi, ribet. Butuh setidaknya waktu 7 tahun untuk sampai diloloskan.

"Juga perlu penguatan riset. Monsanto memiliki 1.000 peneliti dengan investasi besar. Sementara, Indonesia anggaran riset dipotong setiap tahun. Kita tidak bisa berharap banyak dengan anggaran yang terus dipotong," kata dia dalam diskusi Dampak Global Tanaman Biotek: Efek Ekonomi dan Lingkungan 1996-2015 di Jakarta, Senin (11/9/2017).

Dalam laporan Graham Brookes yang dirilis PG Economics tercatat, dari 1996-2005, bioteknologi tanaman mengurangi penggunaan pestisida sebesar 619 juta kg atau setara dengan pengurangan globar sebesar 8,1%. Ini lebih dari jumlah total produk pestisida yang digunakan China setiap tahunnya, yang berarti mengurangi dampak lingkungan.

Tanaman biotek memungkinkan petani menanam lebih banyak tanpa perlu menggunakan lahan tambahan. Graham mencontohkan, jika tanaman bioteknologi tidak tersedia bagi petani pada 2015, maka untuk mempertahankan tingkat produksi global pada tahun yang sama menggunakan tambahan 8,4 juta ha kedelai, 7,4 juta ha jagung, 3 juta ha kapas, dan 0,7 juta kanola. Ini setara dengan membutuhkan 11% tambahan lahan subur di Amerika Serikat atau sekitar 31% dari lahan subur di Brasil atau 13% dari area tanam di China.

Bioteknologi tanaman juga memungkinkan petani untuk meningkatkan hasil panen. Dalam kurun waktu 20 tahun, penggunaan teknologi tahan serangga yang digunakan dalam kapaa dan jagung meningkatkan hasil panen rata-rata 13,1% untuk jagung dan 15% untuk kapas. Begitu pula, adopsi teknologi toleran herbisida pada kedelai meningkatkan hasil panen sebesar 15%.

Pada 2016, luas area global tanaman biotek meningkat menjadi 185,1 juta ha dari 179,7 juta ha pada 2015. Sejumlah negara seperti, Brazil, Argentina, India, AS, dan Kanada, memiliki lahan penanaman biotek sekitar 91%. Komoditi yang dikembangkan diantaranya kedelai biotek, jagung biotek, kapas biotek, dan kanola biotek.

Kedelai menjadi komoditi dengan laju adopsi global paling cepat yakni 78%, diikuti kapas 64%, jagung 26%, dan kanola 24%.

"Indonesia belum masuk dalam peta tanaman biotek. Sementara Brazil, India, dan Argentina sudah lebih masif," imbuhnya.

bisnis.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :