Limbah Pangan Disulap Jadi Energi Terbarukan dan Pupuk Organik

Limbah Pangan Disulap Jadi Energi Terbarukan dan Pupuk Organik

Menjelang siang, seorang lelaki setengah baya, Satiman, 62, baru saja rampung mencangkul. Lokasinya berada di pinggiran areal persawahan di Kelurahan Mersi, Kecamatan Purwokerto Timur, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng).

 

Dia kemudian mempersilakan untuk masuk ke sebuah ruangan yang menjadi gudang sampah. Namun, sebagian dimanfaatkan untuk tempat meja dan kursi. Tidak ketinggalan di situ ada sebuah kompor. Sengaja kompor dipasang di situ, karena untuk memasak sekaligus demo. “Kompor memang sengaja dipasang di sini untuk demo kepada para tamu. Sebab, kompor ini bukan menggunakan elpiji, melainkan biogas dari sampah,” ungkap Satiman yang kini merupakan Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Adipati Mersi tersebut.

Satiman lantas menerangkan kalau sudah sejak tahun 2012 lalu, KSM Adipati Mersi mengolah sampah organik menjadi biogas melalui instalasi bio methagreen. Sampah-sampah yang diolah menjadi biogas berasal dari sisa sayuran, buah-buahan dan bahan pangan lainnya. “Kami mendapat pasokan dari Pasar Wage, pasar terbesar di Purwokerto. Jalinan kerja sama dengan pihak pasar ditandatangani pada 2014 silam. Setiap pekan, ada dua hingga tiga kali pasokan sisa berbagai bahan pangan dari pasar tersebut. Setiap kali pasokan, sekitar 75 kg hingga 100 kg,”jelasnya.

Dengan jumlah sampah sisa pangan yang masih cukup terbatas, maka biogas yang dihasilkan juga baru menjangkau empat hingga lima rumah saja. Jika saja setiap harinya ada pasokan sampai 300 kg atau 3 kuintal, maka biogas yang dihasilkan bakal menjangkau 30 rumah. “Memang tidak mudah untuk mendapatkan pasokan sisa sampah organik dari pasar. Namun demikian, kami akan terus berusaha untuk meningkatkan tambahan pasokan sampah organik. Sebab, kapasitas bio methagreen yang menjadi instalasi pengolahan mampu memproses sampah sampai 3 kuintal tersebut,”ungkapnya.

Satiman menjelaskan, untuk proses mengolah sampah sisa pangan menjadi biogas tidak terlalu rumit, karena telah ada instalasi pengubahnya bernama bio methagreen. Sampah-sampah sisa pangan dikumpulkan ke dalam lokasi penampungan. Sebagian di antaranya masuk dalam bak penampung instalasi bio methagreen. Instalasi tersebut merupakan pembangkit biogas dengan prinsip kedap udara atau anaerob. Bagian utama terdiri dari digester, lubang masuk bahan baku berupa sisa sampah pangan dan ada lubang pengeluaran serta pipa penyaluran biogas.

Dengan menyalurkan biogas, maka warga yang mendapat pasokan dapat menghemat pembelian elpiji 3 kg. “Walaupun belum banyak yang mendapatkan pasokan biogas, namun mereka sudah dapat menghemat pembelian. Biasanya, satu keluarga membeli 3-4 tabung dalam sebulan dengan harga kisaran Rp18 ribu, namun setelah ada pasokan dari biogas dari sampah, mereka tidak lagi membeli elpiji,”kata Satiman.

Bahkan, lanjut Satiman, sebetulnya gas metan yang dimanfaatka

Satiman menambahkan selain biogas, instalasi bio methagreen yang mengolah sampah organik tersebut juga menghasilkan bahan organik cair. “Bahan organik cair tersebut dapat langsung dimanfaatkan untuk pupuk organik ke tanaman. Untuk produksi dari instalasi di Kelurahan Mersi, belum terlalu banyak. Karena dalam sebulan, produksinya baru sekitar 250 liter. Kami telah kerja sama dengan dinas di lingkungan Pemkab Banyumas yang membeli pupuk organik cair dari kami. Harganya Rp15 ribu per liter. Namun demikian, kalau dengan masyarakat, kami menjual dengan harga Rp7 ribu setiap liternya. Sengaja belum kami komersialkan karena produksi masih terbatas,”ujarnya.

Bahan organik cair itu, lanjut Satiman, dimanfaatkan juga untuk “starter’ pembuatan kompos. “Jadi bahan organik cair itu sebagai campuran untuk mengolah kompos dengan bahan baku dedaunan dan ranting pohon. Kebetulan di sini ada dua tempat sebagai pengolah kompos. Tiap bulannya pupuk kompos yang dhasilkan mencapai 2 ton. Kalau kompos, tidak dijual seperti pupuk cair. Kompos hanya untuk memenuhi kebutuhan anggota KSM Adipati Mersi,”ungkapnya.

Menurut Satiman, KSM Adipati Mersi yang kini hampir memanfaatkan seluruh jengkal tanah milik desa tersebut. Ada bangunan 4 x 7 meter sebagai tempat instalasi bio methagreen, kemudian ada ruang yang digunakan sebagai gudang sampah dan semacam sekretariat serta ada pendopo untuk pertemuan dan rapat. Pihaknya juga menanami beragam sayuran dengan sistem hidroponik. “Kami ingin, lokasi ini dimanfaatkan secara keseluruhan, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,”ujar Satiman.

Bank Sampah

Perjalanan KSM Adipati Mersi dimulai pada 2010 silam. Ketika itu, ada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) perkotaan. Kemudian ada pembentukan Badan Keswadayaan Masyarakat (KSM) untuk menanggulangi kemiskinan di perkotaan. “Waktu itu, saya menjadi koordinator BKM Mersi Makmur. Salah satu kegiatannya adalah penataan lingkungan berbasis masyarakat,”ujar Satiman.

Kegiatan utama penataan lingkungan adalah pengumpulan sampah yang kemudian menjadi bank sampah. Apalagi, dalam program penataan lingkungan berbasis masyarakat tersebut, ada kucuran dana cukup besar, mencapai Rp1 miliar. “Setelah berkumpul bersama, maka akhirnya disepakati untuk membentuk bank sampah sebagai bagian dari penataan lingkungan di Kelurahan Mersi,” katanya.

Dikatakan oleh Satiman, pada awal menggerakkan warga untuk mengumpulkan sampah begitu susah. Bahkan, waktu itu tidak ada yang mau ikut serta mengumpulkan sampah. “Makanya, langkah awal saya bersama dengan keluarga. Sampai-sampai isteri dan anak saya ikut serta mengumpulkan sampah. Pengalaman itu justru tidak membuat patrah arang, malah memicu semangat,”katanya.

Cara untuk menyadarkan masyarakat setempat agar mau mengumpulkan sampah adalah terus melakukan sosialisasi kepada seluruh warga di Kelurahan Mersi. Di kelurahan setempat ada sekitar 7 ribu penduduk yang tersebar pada 37 RT di 7 RW. “Alhamdulillah, setelah melalui proses panjang akhirnya warga mulai sadar dengan mengumpulkan sampah. KSM Adipati Mersi juga memiliki kendaraan untuk mengangkut sampah. Setiap keluarga diberi tiga jenis tas. Di antaranya adalah untuk barang pecah belah, kertas dan plastik,” kata Satiman.

Kini, ibu-ibu PKK juga aktif dalam mengumpulkan sampah. Istilahnya adalah sedekah sampah, karena meski nantinya sampah-sampah yang yang dikumpulkan akan mendapat imbalan, tetapi harganya lebih terjangkau. “Istilahnya memang sedekah sampah, karena sampah disedekahkan untuk kepentingan kelompok. Untuk gelas plastik sisa air mineral, misalnya, harganya Rp2.500 per kg, kardus Rp1.000 per kg dan kertas Rp500 per kg. Uang yang dibayarkan untuk ibu-ibu PKK disetor sebagai kas untuk menjalankan program kegiatan ibu-ibu,”jelasnya.

Tidak hanya itu, para ibu anggota KSM Adipati Mersi juga membuat beragam kerajinan dari sampah plastik. “Sampah-sampah plastik tersebut dimanfaatkan untuk pembuatan tas, dompet, keranjang serta asesoris lainnya. “Memang belum terlalu banyak produksinya. Biasanya hanya dipamerkan pada saat berbarengan dengan pameran teknologi pengolahan limbah pangan menjadi energi terbarukan. Kalau saat pameran, harganya dipatok antara Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per buah,”ujar Satiman.Satiman kini tidak hanya mengelola KSM Adipati Mersi saja, melainkan juga berkeliling menjadi pembicara ke luar daerah. Ia diminta memberikan resep dan berbagi pengalaman bagaimana mengelola sampah hingga dapat diolah menjadi biogas. Yang tidak kalah penting adalah konsistensi seorang Satiman untuk tetap menjaga semangat anggotanya dan warga agar tetap melakukan pengelolaan sampah. Konsistensi itu sangat penting, sebab kerap kerajian setelah ada bantuan peralatan kebanyakan menjadi mangkrak. Inilah yang membedakan Satiman, ia tetap bersemangat dan akan terus mengelola sampah yang biasanya langsung dibuang menjadi sesuatu yang jauh lebih bermanfaat.

sumber : mongbhay.co.id 

 

  • Bagikan :
  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :