Siap Restorasi Gambut, Sumatera Selatan Tidak Ingin Salah Langkah

Siap Restorasi Gambut, Sumatera Selatan Tidak Ingin Salah Langkah

Sumatera Selatan merupakan provinsi yang siap melakukan restorasi gambut. Agar tidak salah langkah, Sumatera Selatan terus belajar dari berbagai pihak yang dinilai berhasil melakukan program restorasi tersebut, sebagaimana Kalimantan Barat.

“Kami belajar, berkomunikasi dan bekerja sama, dengan siapa pun yang memiliki kesuksesan maupun keinginan melakukan restorasi gambut yang memberikan dampak positif bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat,” kata Dr. Najib Asmani, Koordinator Tim Restorasi Gambut (TRG) Sumatera Selatan didampingi Ketua Tim Ahli TRG Sumsel Dr. Robiyanto H. Susanto, dan sejumlah anggota TRG Sumsel. Keterangan ini diberikannya saat kunjungan ke Desa Sumber Agung, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Jumat (21/07/2017).

Di Desa Sumber Agung, TRG Sumatera Selatan mencari tahu bagaimana pemerintah desa eks transmigran tersebut mampu membiayai pembangunan sekat kanal, membeli peralatan pemadam kebakaran, dan memiliki biaya operasional kelompok peduli api. Dana itu, diambil dari dana desa.

“Ternyata dasar hukumnya peraturan bupati (Perbup). Sumatera Selatan akan mendorong kebijakan seperti ini, mudah-mudahan Gubernur Alex Noerdin mendukung,” kata Najib kepada Mongabay Indonesia.

Sementara Robiyanto, yang merupakan pakar hidrologi gambut, memberikan saran agar Desa Sumber Agung tidak hanya membuat sekat kanal, tapi menjadikan lahan gambut yang selama ini terbakar, termasuk pada 2015 seluas 500 hektare, dijadikan daerah cadangan air.

“Caranya menutup semua kanal yang ada di sana,” katanya. “Jika menjadi daerah cadangan air, yang selalu basah, selain terhindar kebakaran juga turut membantu pembasahan lahan sekita,” ujarnya.

Kepala Desa Sumber Agung Arifin Noor Azis yang berusia 30 tahun, menjelaskan selain dari dana desa, upaya restorasi gambut dan pencegahan kebakaran di desanya juga berkat dukungan berbagai pihak. Terutama LSM Sampan yang selama ini melakukan pendampingan.

“Terkait usulan adanya daerah cadangan air tersebut, kami sangat berterima kasih dan semoga bisa kami wujudkan,” katanya.

Menurut Arifin, desanya juga tengah mencari pengembangan ekonomi kreatif masyarakat yang memanfaatkan tanaman gambut. Tentunya, yang tidak merusak hutan dan lahan. “Saat ini, tengah dikembangkan manisan dan tepung dari buah nipah. Kita lagi mencari formula terbaik. Kalau sudah ketemu baru dipasarkan.”

Restorasi mangrove untuk bekantan

Rombongan TRG Sumsel juga melakukan kunjungan ke lokasi restorasi mangrove yang dilakukan perusahaan HPH PT. Kandelia Alam, yang lokasinya di Sungai Seluang, Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya.

Lahan yang akan direstorasi luasnya mencapai 6.000 hektare yang ditargetkan hingga tahun 2052. “Tapi, saat ini sekitar 100 hektare kita tanam mangrove yang berada di belakang tanaman nipah,” kata Fairus Mulia, Direktur Utama PT. Kandelia Alam.

Restorasi ini menanam mangrove jenis Sonneratia caseolaris atau dikenal sebagai pidada merah yang sangat digemari bekantan, biasa dipanggil monyet belanda. “Jadi restorasi konservasi ini memang diperuntukkan sebagai habitat bekantan,” kata Fairus. Dalam menjalankan program ini, perusahaan didukung IDH dan WWF. “Dana dari IDH dan pendampingan dari WWF,” jelasnya.

Sumber ekonomi dari restorasi ini akan dijadikan ekowisata. “Saat ini kita tengah mengembangkan ekowisata di lokasi restorasi,” jelasnya.

Najib Asmani menilai, restorasi yang dilakukan PT. Kandelia Alam dapat diterapkan di Sumatera Selatan. “Restorasi memberikan dampak baik bagi ekosistem dan juga tetap menghasilkan pendapatan melalui pariwisata. Satu hal yang pantas ditiru berbagai pihak di Sumsel.”

Di Sumatera Selatan, kata Najib, banyak lokasi yang dapat dijadikan area restorasi. Misalnya di sekitar Taman Nasional Sembilang, Cengal, dan lainnya. “Bahkan di Sumsel jika dijadikan objek wisata bukan sebatas ekowisata, juga wisata sejarah dan budaya,” terangnya.

mongabay.co.id

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :