‘Jangan Sampai Mereka Tak Kenal Lagi Tanah, Cacing Dan Lingkungan Mereka’

‘Jangan Sampai Mereka Tak Kenal Lagi Tanah, Cacing Dan Lingkungan Mereka’

Ada banyak jalan menuju Roma, ada banyak cara mendidik tunas bangsa. Terlebih lagi, mendidik agar para calon penerus itu memiliki kepekaan terhadap lingkungan, alam dan sesama.

Sekolah Dasar (SD) Pangudi Luhur Kalirejo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta ini misalnya. Pihak sekolah mengambil langkah dengan mengembangkan pertanian organik kepada siswa dan siswinya.

“Kami kemudian mengembangkan pertanian organik supaya anak didik peka terhadap alam, lingkungan, dan sesama. Kami tidak ingin, anak didik kami terkontaminasi dengan teknologi. Sehingga mereka melupakan alam dan lingkungan,” kata Wali Kelas V SD Pangudi Luhur Kalirejo, Martinah Nurcahyanti. 

Ia juga mengatakan, siswa SD di tempatnya mengajar merupakan anak-anak yang tinggal di desa. Sehingga, dengan program itu diharapkan agar jangan sampai mereka tidak mengenal lagi tanah, cacing dan lingkungan mereka. Lalu lebih mengenal telepon genggam.

Selain itu, area lahan pertanian organik juga bisa menjadi sarana belajar. Tapi, bukan itu tujuan utamanya.

“Kami tidak ingin anak didik kami terjebak perkembangan teknologi dan menyebabkan kehilangan identitas. Kemajuan teknologi sepatutnya untuk memajukan. Bukan menyebabkan keterbelakangan,” jelasnya.

Bukan Sekadar Menanam

Ia mengatakan di lahan pertanian organik ini, siswa diajari menanam berbagai macam tumbuhan. Mulai dari jagung, jesin, boncis, kangkung, kenikir, pare, tomat, cabai. Termasuk juga budi daya ikan hingga beternak kelinci.

Setiap satu minggu sekali, siswa diajak berkebun dan memanen hasil dari bertani, beternak dan budi daya ikan. Siswa juga diajarkan menjual hasil bertani mereka setiap Minggu.

“Dampak dari belajar di alam ini belum dapat terlihat. Bagi kami, menanamkan kepekaan terhadap alam, lingkungan dan sesama adalah hal utama. Persaingan ke depan sangat berat. Sehingga anak didik perlu dibekali sejak dini. Supaya tidak kehilangan identitas,” tegasnya.

Martinah mengatakan, sekolah juga membekali hal lain kepada siswa didik untuk pengembangan diri. Seperti Science Club, Karawitan, dan Masak-memasak.

“Materi pengembangan diri untuk bekal keseimbangan keterampilan, moral, budaya, dan ilmu,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulon Progo, Sumarsana mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada kepala sekolah, guru dan komite. Sebab telah mendidik, mengajarkan dan membimbing serta memberi contoh kepada siswa tentang apa, bagaimana caranya dan manfaat dari pertanian organik.

“Semoga SD Pangudi Luhur menginspirasi sekolah lain,” tutupnya, seperti dikutip dari Antara pada Rabu (7/2/2018).

infonawacita

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :