Munduktemu merintis jalan menjadi desa wisata

Munduktemu merintis jalan menjadi desa wisata

 Putu, Gede, Wayan, Made, Kadek, Nyoman, Komang, Ketut. Nama-nama ini sangat-sangat populer di Pulau Bali. Tapi, di Desa Munduktemu, ada satu nama lagi, lo, yang sedang naik daun: Lisa.

Tapi, Lisa bukan nama orang. Kok? Ya, Lisa adalah singkatan dari Lihat Sampah Ambil. Lisa merupakan satu dari dua program kebersihan di desa yang terletak di Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, itu.

Maklum, Munduktemu sedang merintis jalan jadi desa wisata. “Kebersihan, kan, juga ikut menunjang rencana kami menjadikan Munduktemu sebagai desa wisata,” kata I Nyoman Wintara Perbekel atau Kepala Desa Munduktemu.

Kegiatan kebersihan untuk membuka jalan desa yang berada di perbukitan Pupuan itu, sekitar tiga jam perjalanan darat dari Bandara Ngurah Rai, jadi desa wisata bergulir mulai empat tahun lalu. Enam banjar atawa dusun yang ada di Munduktemu ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Selain Lisa, ada Program Giat Satu Bersih. I Ketut Agus Saputra, Kepala Dusun Kebonjero, menjelaskan, program ini berupa gotong royong membersihkan lingkungan terutama jalan desa setiap tanggal satu.

Pagi hari saban tanggal satu, kaum lelaki membersihkan lingkungan. Misalnya, menyabit rumput dan ilalang serta membenahi saluran air yang ada di pinggir jalan desa. “Sore harinya, giliran kaum perempuan yang membersihkan lingkungan, seperti menyapu jalanan dan memungut sampah plastik,” ujar Ketut Agus.

Tentu, bukan tanpa alasan desa yang ada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga 800 mdpl itu ingin jadi desa wisata. Pilihan menjadikan Munduktemu sebagai desa wisata, Nyoman mengatakan, agar masyarakat bisa menikmati langsung manfaat dari kunjungan turis.

Desa wisata berarti tidak melibatkan investor dalam penyediaan fasilitas penunjang. Misalnya, penginapan dan tempat makan. Alhasil, masyarakat yang menyediakan dan mengelola sendiri pariwisata di Munduktemu. “Kami tidak ingin jadi penonton,” tegas Nyoman.

Selain itu, dengan menjadi desa wisata, tidak ada intervensi untuk menjual pariwisata yang bukan khas desa dengan 1.156 kepala keluarga (KK) tersebut. “Kami ingin menjual Munduktemu dengan kesehariannya,” ucap Nyoman.

Menonjolkan kopi

Sesuai konsepnya, desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, serta fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tatacara dan tradisi yang berlaku di desa itu.

Nah, Munduktemu sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta, Nyoman menuturkan, ingin menonjolkan kopi sebagai kekhasan mereka.

Itu sebabnya, salah satu paket wisata yang bakal mereka tawarkan adalah proses produksi kopi. Mulai memetik, menyangrai, hingga menumbuk biji kopi secara tradisional jadi kopi bubuk.

Apalagi, I Ketut Sukarya, salah satu pekebun kopi Munduktemu, berani mengklaim, kopi robusta pupuan merupakan yang terbaik di Indonesia. Dan, pekebun kopi robusta Munduktemu merupakan perintis penanaman kopi secara modern di Bali pada 1970-an silam.

Maksudnya modern, cara menanam kopinya sudah ditata. Contoh, tinggi maksimal tanaman kopi harus 1,5 meter. Lebih dari itu harus dipotong.

Lalu, pekebun melakukan klon cabang tanaman kopi robusta asli Munduktemu dengan bibit unggul. “Sebelumnya, tanaman kopi dibiarkan tumbuh tanpa dilakukan penataan,” kisah Ketut Sukarya yang mengelola kebun kopi seluas tiga hektare (ha) di Kebonjero.

I Made Sana, pekebun kopi Munduktemu lainnya, menambahkan, pada 1990-an, banyak pekebun kopi dari luar Bali yang datang ke Munduktemu untuk belajar cara menanam kopi robusta. Termasuk mahasiswa jurusan pertanian yang praktik kerja lapangan.

Dan tahun ini, Nyoman menyebutkan, kopi robusta pupuan mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis (SIG) dari Kementerian Hukum dan HAM. Sebab, kopi robusta pupuan memiliki pengelolaan produksi hingga panen yang baik. Lalu, kopi pupuan punya cita rasa khas yakni aroma coklat.

Menurut Nyoman, pekebun kopi di Pupuan menerapkan sistem tumpang sari. Mereka menanam kopi berdampingan dengan tanaman kakao.

Di Munduktemu sendiri, luas perkebunan kopi mencapai 1.200 ha. “Sebanyak 90% penduduk bekerja sebagai pekebun kopi,” kata lelaki 40 tahun ini.

Pemandangan indah

Tentu, turis yang melancong ke Munduktemu tidak hanya mendapat suguhan proses produksi kopi. Nyoman bilang, wisatawan juga bisa ikut ambil bagian dalam pembuatan lengis tanusan alias minyak kelapa secara tradisional, mulai mengupas kelapa, mencari dagingnya, memarut, memeras, menyaring, hingga memasak.

Sistem tumpang sari juga membuat pekebun kopi menanam buah-buahan, seperti salak dan manggis. Tapi, ada beberapa pekebun yang menanam salak di lahan tersendiri, tidak bercampur dengan kopi. Bahkan, Nyoman bilang, ada pekebun yang sudah menata kebun salaknya sampai rapi jali.

Itu sebabnya, Munduktemu juga bakal menawarkan paket wisata memetik salak. “Pekebun bisa menjual salak lebih mahal dari tengkulak, dan turis bisa mendapatkan harga lebih murah dari toko buah. Semua senang,” ujar Nyoman.

Proses produksi kopi dan pemetikan buah salak ini sudah mengundang sejumlah turis asing datang ke Munduktemu. Bahkan, rombongan wisatawan asal Korea Selatan sempat berencana mengunjungi desa ini namun Nyoman menolak. “Soalnya, mereka ingin menginap dan kami jelas belum siap untuk itu,” imbuh Nyoman.

Bukan cuma itu, Munduktemu yang terletak di daerah perbukitan punya pemandangan yang cakep. Di beberapa titik, seperti di rumah Nyoman, pelancong bisa menyaksikan pesona matahari terbit alias sunrise dengan latar Gunung Batukaru. Gunung setinggi 2.276 mdpl ini merupakan gunung tertinggi kedua di Bali, setelah Gunung Agung 3.142 mdpl yang tengah berstatus Awas.

Masih dari areal sekitar rumah Nyoman, turis juga bisa menikmati matahari terbenam atawa sunset dengan hamparan perkebunan dan perbukitan. Di tempat ini, Nyoman membuat panggung untuk pelancong melakukan swafoto (selfie).

Bila turis bermalam di Munduktemu, ada paket wisata menangkap ikan di sungai menggunakan alat bubu. “Pasang alatnya di kali sore hari, pagi hari kembali lagi untuk melihat hasilnya,” jelas Nyoman.

Pura Luhur Pucak Batugaing yang terletak di Kebonjero juga bakal jadi objek wisata Munduktemu. Tempat sembahyang ini terletak di puncak tertinggi perbukitan Munduktemu yang dikelilingi hutan kecil. 

Bentuk pokdarwis

Tapi, tak mudah merintis jalan sebagai desa wisata. Wintara mengungkapkan, tantangan terbesar justru datang dari masyarakat Munduktemu sendiri. “Karakter masyarakat kami, bicara pariwisata, yang ada di benak mereka adalah pariwisata yang wah, yang mewah kayak Kuta. Jadi, mereka akan pesimistis,” beber Nyoman.

Itu sebabnya, upaya merintis Munduktemu sebagai desa wisata mulai dari kegiatan kebersihan. Ini pun awalnya enggak mudah. Nyoman mengatakan, ada saja masyarakat yang menentang gerakan itu.

Setelah berjalan empat tahun, Nyoman mengakui, masyarakat makin sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan termasuk di sungai. “Memang belum 100%,” katanya.

Meski begitu, semua banjar sepakat untuk melahirkan peraturan desa (perdes) tentang sampah. Beleid ini juga mengatur sanksi. Untuk desa dinas, sanksinya berupa sanksi sosial. Misalnya, memampang foto pembuang sampah sembarangan dalam akun media sosial Desa Munduktemu.

Sementara untuk desa pakraman atau desa ada, ada denda sebesar Rp 100.000 untuk pembuang sampah sembarangan. “Yang Rp 50.000 masuk ke desa adat, yang Rp 50.000 untuk pelapor yang berani melaporkan pembuang sampah sembarangan,” ujar Nyoman.

Nah, upaya merintis Munduktemu sebagai desa wisata yang mulai dari kegiatan kebersihan juga berbarengan dengan penyediaan air bersih layak minum. “Tanpa ada air, tidak mungkin mengembangkan desa wisata,” tegas Nyoman.

Untuk pengadaan air bersih layak minum, Munduktemu memanfaatkan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dari pemerintah pusat. Tahun ini, program ini masuk ke Kebonjero dengan dana dari pemerintah pusat Rp 1,8 miliar dan Pemerintah Kabupaten Tabanan Rp 200 juta.

Lantaran berbasis masyarakat, program itu juga melibatkan masyarakat. Di Kebonjero, misalnya, masyarakat membantu menyediakan pipa untuk menyalurkan air dari kantong-kantong menuju rumah mereka. “Berkat Program Pamsimas, masyarakat sudah 100% menikmati air bersih yang layak minum,” sebut Nyoman.

Dan hebatnya, Munduktemu terpilih menjadi desa terbaik dalam Program Pamsimas. Penghargaan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini diberikan di pertengahan Desember lalu.

Langkah selanjutnya adalah  membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis) untuk mengelola pariwisata di Munduktemu. Pembentukannya di 2017.

“Anggaran operasionalnya dari dana desa lewat penyertaan modal ke badan usaha milik desa (BUMDes). Sebab, Undang-Undang Desa melarang dana desa langsung diberikan ke organisasi semacam pokdarwis,” imbuh Nyoman.

Munduktemu sudah punya BUMDes yang berdiri dua tahun lalu. Namanya: Sri Sedana. Saat ini, “perusahaan” milik desa ini baru memproduksi kopi biji sangrai dan bubuk dengan merek Leak Bali Coffee.

Pemerintah Kabupaten Tabanan memang punya Program BUMDes untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) desa dan  mengangkat potensi lokal. Untuk pembentukannya, Munduktemu mendapat kucurkan dana Rp 200 juta.

Untuk memproduksi kopi, BUMDes membentuk lima kelompok yang membuat kopi. BUMDes lantas mengirim mereka ke Jember, Jawa Timur, untuk mengikuti pelatihan produksi kopi sesuai standar.

Menurut Nyoman, BUMDes membeli kopi dari pekebun dengan harga yang lebih mahal, yakni 5% plus Rp 750 per kilogram dari harga pasaran. Dengan begitu, keberadaan BUMDes ini juga bisa mensejahterakan para pekebun.

“Tapi, memang kami belum bisa menyerap semua hasil panen karena pemasaran Leak Bali Coffee masih terbatas,” ujarnya.

Lantaran di Munduktemu belum ada penginapan, Nyoman menyatakan, desanya sedang menyiapkan rumah warga sebagai homestay. Tentu, bangunannya tidak semewah vila.

Yang utama adalah WAH, yakni WC-nya bersih, Aman lingkungannya, dan keluarga si pemilik rumah Harmonis. “Kan, tidak baik kalau ada tamu menginap tapi keluarga pemilik rumah bertengkar,” kata Nyoman.

Yang juga jadi pekerjaan besar dalam persiapan sebagai desa wisata adalah sumber daya manusia. Karena itu, Nyoman mengadakan les budi pekerti dan bahasa Inggris untuk anak-anak muda Munduktemu.

Dengan begitu, mereka siap menyambut turis asing. Tapi lebih dari itu, anak-anak muda Munduktemu tetap mau tinggal di desa lantaran mereka bisa mendapatkan penghasilan dari sektor pariwisata. “Kebanyakan anak muda desa kami, kan, keluar desa untuk bekerja di kota,” ungkap Nyoman.

Persiapan menjadi desa wisata juga sampai ke kebiasaan masyarakat yang kecil-kecil. Misalnya, masyarakat yang kesal terkadang suka memukul anjing yang mencuri makanan. Nah, “Turis asing tidak suka dengan hal ini,” sebutnya.

Nyoman berharap, status desa wisata bisa terwujud di pertengahan 2018. Sehingga, Munduktemu kelak bisa jadi alternatif bahkan objek wisata utama di pulau dewata.

Dan yang paling penting, masyarakat Munduktemu tidak jadi penonton tapi pelaku utama sektor pariwisata.

kontan

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :