Berpetualang di Perkampungan Suku Baduy, Desa Wisata yang Terisolasi

Berpetualang di Perkampungan Suku Baduy, Desa Wisata yang Terisolasi

JAKARTA, - Bagi Anda yang suka travelling ke tempat asri dan alami, Baduy bisa menjadi pilihan terbaik. Desa ini terkenal karena keindahannya dan terisolasi dari gemerlap dunia luar.

Berwisata ke perkampungan suku Baduy lebih seru jika taveler mengunjungi Baduy Dalam. Jangan lewatkan kesempatan menginap di Baduy Dalam. Di Baduy Dalam, terdapat tiga kampung yaitu Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik.

Perjalanan dari Baduy Luar ke Baduy Dalam bisa ditempuh sekitar enam jam. Perjalanan ke Baduy Dalam, memang agak lebih sulit dan lebih jauh daripada perjalanan ke Baduy Luar.

Anda akan banyak menemui tanjakan yang tinggi dengan jalan berbatu. Agak turun ke bawah, terdapat jembatan kayu yang di bawahnya mengalir sungai yang deras. Di sini, Anda bisa beristirahat jika mau.

Persiapkan perbekalan minum yang cukup untuk perjalanan. Tapi jangan khawatir, jika  kehabisan minum, Anda dapat membelinya di jalan. Warga Baduy juga menjual minuman, bagi Anda yang kehabisan air minum.

Berkunjung ke perkampungan Baduy memang selalu meninggalkan kesan tersendiri. Anda bisa mempelajari semua kebudayaan suku di sini. Enaknya, masyarakat di sini juga menerima orang luar, asalkan pengunjung mematuhi aturan yang diterapkan.

Ingin tahu apa saja kebudayaan suku Baduy? Berikut ulasan iNews.id, ketika berbincang dengan salah satu warga suku Baduy Luar, Idik, belum lama ini.

Kepercayaan suku Baduy

Warga Baduy menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Menurut Idik, warga Baduy Luar menganut kepercayaan segala sesuatu yang ada di dunia tidak boleh diubah dalam bentuk apa pun.

“Lojor heunteu beunang dipotong, pendek heunteu beunang disambung yang artinya panjang tidak bisa atau tidak boleh  dipotong, pendek tidak bisa atau tidak boleh disambung,” ucap Idik di Baduy Luar.

Aktivitas warga

Warga Baduy tidak sekolah, oleh karena itu mereka tidak dapat menulis. Hal ini sudah menjadi peraturan di Baduy. Pekerjaan sehari-hari perempuan Baduy menyulam dan yang laki-laki  membuat gula aren, membuat tas (teureup), dan pergi ke ladang.

Pakaian suku Baduy 

Pakaian yang digunakan warga di Baduy Luar dengan corak berwarna biru, sedangkan di Baduy Dalam mereka memakai pakaian berwarna putih serta ikat kepala putih.

Peraturan yang dianut oleh suku Baduy

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke perkamungan Baduy harus memahami aturan yang diberlakukan. Suku Baduy menganut kebiasaan, seperti memakai pakaian berwarna hitam/putih dengan ikat kepala putih, tidak boleh menggunakan alat elektronik, tidak boleh menggunakan kendaraan, tidak boleh memakai sandal, atap rumah harus menghadap selatan dan tidak boleh memakai sabun serta sampo karena dapat merusak alam.

Ritual kematian

Ritual yang dijalankan ketika ada orang Baduy meninggal adalah mengecek harta, lalu seminggu kemudian mengadakan makan-makan. Prosesnya, yaitu dimandikan, dikafani, dan selama tujuh  hari didoakan. Lalu tidak ada batu nisan di kuburan warga suku Baduy.

Proses melahirkan

Proses melahirkan perempuan suku Baduy menggunakan bantuan dukun beranak (paraji). Dokter di Baduy hanya ada satu orang. "Tidak ada akte lahir di Baduy, jadi tanggal kelahiran dihitung dengan musim atau per tahun," tutur Idik.

inews.id

 

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :