Kampung Di Tengah Hutan Kalimantan Ini Dikenal Dunia berkat Prestasi Kepala Desa

Kampung Di Tengah Hutan Kalimantan Ini Dikenal Dunia berkat Prestasi Kepala Desa

Kampung Merabu di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, makin dikenal dunia internasional. Kampung di tengah hutan itu kini menjadi destinasi alternatif bagi para pelancong yang senang dengan kehidupan alami di hutan.

AKSES ke Kampung Merabu bisa memacu adrenalin. Jalan tanah berbatu terhampar sejak keluar dari jalur poros Berau–Samarinda masuk ke Muara Lesan, Kecamatan Kelay. Dari pusat Kota Berau menuju Merabu biasanya diperlukan waktu 3–4 jam perjalanan.

Tapi, jalan Muara Lesan yang sebetulnya jalur alternatif itu harus menerabas hutan. Jalannya tak begitu lebar, tapi bisa dilewati mobil double cabin. Pengendara harus superhati-hati karena lebar jalannya ngepres. Di sisi kiri terdapat jurang, sedangkan di sisi kanan tebing yang rawan longsor. Padahal, tidak ada pagar atau separator yang menandai tepi jalan itu.

Rabu lalu (18/1) Jawa Pos bersama tim The Nature Conservancy (TNC) yang selama ini menjadi pendamping masyarakat Kampung Merabu melewati rute tersebut. Setelah perjalanan darat yang cukup menegangkan, perjalanan beralih ke rute air. Kami harus menyeberangi Sungai Kelay selebar 20 meter yang berarus deras.

Tapi, untuk menyeberang, mobil kami tak bisa berenang kalau tidak ingin terseret arus sungai. Maka, sebelum menyeberang, sang sopir Kadir Sukri Kamil turun, kemudian memukul-mukul velg mobil dengan batu. Rupanya, suara velg itu dipakai untuk memanggil perahu kayu yang akan mengangkut mobil kami.

Tak lama kemudian, perahu bermesin 15 PK datang menghampiri rombongan kami. Tanpa dikomando, mulut perahu mengarah ke tepi sungai di dekat mobil yang akan diangkut. Begitu semua siap, mobil Mitsubishi Triton berbobot 2.850 kg itu mundur perlahan masuk ke perahu.

Meski terbilang sudah biasa mengangkut kendaraan, nakhoda perahu Abdul Rifai, 65, mengaku masih sering tegang ketika menyeberangi sungai tersebut. ’’Saya juga deg-degan,” celetuk Abdul Rifai seolah membaca wajah kami yang ketakutan. Maklum, yang diangkut barang yang cukup berat sehingga mengkhawatirkan kekuatan perahu sederhana itu.

Sensasi rute menuju ke Merabu belum usai. Masih ada lagi jalan tanah berbatu dan berkelok-kelok yang harus kami lalui. Tidak ada rumah penduduk di sepanjang jalan. Yang ada hanya barisan pepohonan di pinggir jalan.

Sejam kemudian, kami sampai di pintu masuk Kampung Merabu. Tapi, rumah-rumah warga berada di seberang Sungai Bu. Kampung Merabu berada di muara Sungai Bu. Artinya, kami harus menyeberangi sungai lagi untuk sampai ke tujuan.

Perjalanan menyeberangi Sungai Bu tak kalah menantang. Kali ini tanpa menumpang perahu lagi. Mobil langsung terjun ke sungai selebar 15 meter itu. Masalahnya, kalau tidak hati-hati dan tidak hapal jalurnya, mobil bisa terperosok di kedalaman sungai.

’’Lihat arusnya, kalau ada riak, itu berarti dangkal,” kata Kamil yang sudah terbiasa menyeberangi sungai dengan mengendarai mobil.

***

Kepala Kampung Merabu Franly Aprilano Oley sedang berada di rumah kayu panggungnya ketika kami tiba. Rumah penduduk Merabu umumnya dicat warna-warni. Rumah Franly dominan warna hijau.

Mengenakan kaus oblong dan celana pendek, dia menyambut kami dengan hangat. Pembawaan Franly begitu santai. Mungkin karena usianya yang masih muda. Pada 27 April nanti dia baru berusia 28 tahun.

Saat diangkat menjadi kepala Kampung Merabu pada 2012, Franly masih 23 tahun. Bila ada penghargaan untuk kepala kampung atau kepala desa termuda di Indonesia, dia bisa masuk nominasi. ’’Saat itu saya paling muda se-Berau,” ujar pria kelahiran Manado tersebut.

Franly memang bukan penduduk asli Merabu. Dia datang ke kampung berpenduduk 64 kepala keluarga itu sebagai tukang kayu yang membangun sekolah baru. Tapi, dalam perantauannya tersebut, Franly kepincut dengan bunga desa setempat, Mariana. Mereka lantas menikah pada November 2010 dan kini dikaruniai dua putri: Jessica Aulia Oley, 5, dan Jennifer Quinsy Oley, 2.

Setelah menikah, Franly mendapat tawaran menjadi guru tidak tetap di SD kampung itu. Franly yang lulusan Jurusan Tata Busana SMK I Tondano diminta menjadi guru bahasa Inggris. Lantaran keterbatasan SDM, kadang dia menjadi guru kelas saat guru lain tidak masuk. Bahkan, dia pernah mengajar murid satu sekolah. ’’Dari enam kelas, saya bagi dua kelas,” kata Franly, lantas tersenyum.

Jadi guru dengan gaji Rp 300 ribu sebulan dia anggap sebagai pengabdian. Tapi, dia harus tetap menjaga dapur agar tetap ngepul dengan bekerja serabutan. Mulai menjadi juru langsir (porter) barang, tukang pungut sarang walet, hingga pencari madu.

Hingga akhirnya garis nasib mengantarnya menjadi kepala kampung. Itu pun secara kebetulan. Sebab, sebetulnya dia tidak berniat menjadi kepala kampung. Dia hanya penggenap.

Hal tersebut terjadi lantaran calon yang memenuhi syarat hanya seorang. Padahal, pemilihan kepala kampung di daerah mayoritas suku Dayak Lebo itu tidak mungkin hanya menampilkan calon tunggal.

Dari situlah, berbekal ijazah SMK, dengan terpaksa Franly akhirnya mendaftarkan diri. Padahal, istri, mertua, dan orang tuanya berkeberatan lantaran Franly masih muda. ”Tapi, pertimbangannya waktu itu daripada nanti dijabat orang pemda karena tidak segera ada pemilihan, maka saya lalu maju dan tak disangka malah menang,” tutur dia.

Setahun menjabat, Franly banyak belajar dari kepala kampung dua periode sebelumnya, Asrani. Mulai sistem birokrasi kampung hingga cara berkomunikasi dengan warga. Dia juga intens berdiskusi dengan tim TNC yang sudah lama menjadi pendamping masyarakat kampung tersebut.

Community Engagement and Protected Area Manager TNC Taufik Hidayat menilai Franly sebagai kepala kampung yang cerdas. Dia mengibaratkan Franly seperti batu akik yang sudah punya kualitas bagus, tinggal dipoles agar mengilat. ”Dia (Franly) mau belajar dengan cepat,” ujar Taufik.

Franly dan warga Merabu sangat beruntung memiliki hutan di belakang kampung. Dia lalu membentuk lembaga desa Kerima Puri yang bertugas mengelola hutan desa. Kini Kerima Puri akan diubah menjadi badan usaha milik desa.

”Pada 2012 kami usulkan 10 ribu hektare kawasan hutan di desa kami menjadi hutan lindung desa. Usulan itu terwujud pada 2014,” kata dia.

Luas Kampung Merabu sendiri sekitar 22 ribu hektare. Area seluas itu mencakup hutan hujan tropis hingga pegunungan karst. Masyarakat bisa memanfaatkan hutan tapi tidak boleh mengambil kayunya. Hanya boleh memanfaatkan hasil alam lainnya seperti madu hutan, rotan, sarang burung walet, dan usaha ekowisata.

Kebetulan di tengah hutan itu juga terdapat Danau Nyadeng yang begitu jernih airnya. Ada juga Gua Beloyot yang memiliki artefak prasejarah berupa jejak tapak tangan manusia purba di dinding gua. ”Kata peneliti, (jejak tangan, Red) itu peninggalan 4 ribu tahun silam,” jelas Franly.

Berkat keberhasilan menjaga hutan tersebut, Merabu mendapat peringkat kedua pengelolaan hutan adat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2016. Mereka hanya kalah oleh Solok, Sumatera Barat.

Berkat prestasinya itu, Franly sering diundang ke Jakarta sebagai pembicara di berbagai forum tentang lingkungan, khususnya pengelolaan hutan. Bahkan, pada November 2016 dia diundang ke Marrakesh, Maroko. Dia diminta menjadi pembicara dalam forum internasional tentang pengelolaan hutan adat dan perubahan iklim. ”Kami membuktikan Merabu bisa tampil di kancah dunia,” ujar dia.

Franly mengibaratkan, dulu ketika orang mencari Kampung Merabu lewat mesin pencari Google, yang muncul Gunung Merbabu atau kayu Merbau. Merabu seolah tidak dikenal. ”Sekarang sudah berubah. Orang mencari Merabu sudah banyak beritanya,” katanya, lantas tersenyum.

Ucapan Franly bukan omong kosong. Buktinya, Kamis siang (19/1) tiga turis asal Prancis berkunjung ke kampung itu. Jawa Pos menemui mereka saat sedang bersantai di rumah Pdt Dedi Usman yang dijadikan home stay.

”Kami baru datang. Jauh juga tempatnya, tapi asyik. Beautiful,” ujar Aline Colombain yang datang bersama Enelis Charron dan Ludovic Flury.

Aline menuturkan, dirinya mendapat informasi tentang Merabu dari Lonely Planet, salah satu buku referensi tepercaya bagi para pelancong dunia. Di buku itu disebutkan bahwa Merabu menjadi satu di antara delapan destinasi wisata alternatif di Kalimantan yang perlu dikunjungi.

Mereka berencana tinggal empat hari di Merabu. Mereka juga ingin menembus hutan hujan tropis untuk menyambangi Danau Nyadeng dan Gua Beloyot. ”Tentu saja saya ingin ke hutan dan pergi ke gua,” kata dia.

jawapos

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :