Restorasi Gambut, Pemerintah Gandeng 36 BUMDes

Restorasi Gambut, Pemerintah Gandeng 36 BUMDes

BANJARBARU – Badan Restorasi Gambut melatih 36 badan usaha milik desa (BUMDes) di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat memanfaatkan potensi lokal dalam merestorasi lahan gambut. Misalnya dengan menanam jelutung, nanas, atau kayu galam yang cocok dibudidayakan di area gambut.

Deputi III Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut, Myrna A. Safitri, mengatakan akan memfasilitasi BUMDes untuk membuat perencanaan bisnis. “Tapi soal kemitraan, kami lihat dulu apa potensi setiap desa. Kami perlu menggalang partisipasi masyarakat. Kalau sifatnya cuma proyek, wasalam, tidak berkembang,” ujar dia di sela pembukaan pelatihan, di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dikutip dari Koran Tempo edisi Selasa 3 Oktober 2017


Ia menjelaskan, masyarakat di area lahan gambut bisa dilibatkan dalam program pembasahan lahan, revegetasi tanaman, dan revitalisasi kehidupan ekonomi desa. Melalui pelatihan, Myrna berharap BUMDes bisa mewujudkan ketahanan lingkungan, ekonomi, dan sosial di area restorasi gambut.

Ia menambahkan, dari 1.205 desa/kelurahan di area lahan gambut, mayoritas berstatus sangat tertinggal dan tertinggal. Itu sebabnya, Myrna mendorong pelaku BUMDes memanfaatkan potensi desa berbasis lahan gambut dan berkelanjutan demi meningkatkan kesejahteraan warga. “BUMDes harus berperan meningkatkan status desa melalui pemanfaatan potensi lokal. Indeks Desa Membangun harus naik.”

Sebelumnya, Badan Restorasi Gambut telah melatih 36 desa di Sumatera dan tiga desa di Merauke, Papua. Di Sumatera, kata Myrna, ada potensi perkebunan kelapa karena banyak permintaan dari Malaysia. Adapun dana pemberdayaan desa bersumber dari APBN, lembaga donor, dan korporasi swasta pemegang izin pengelolaan hutan tanaman industri (HTI).

Ketua Tim Restorasi Gambut Kalimantan Selatan, Saut N. Samosir, mengusulkan agar BUMDes di Kalimantan sebaiknya mengelola hutan galam karena banyak permintaan kayu galam olahan dari Jawa. Sebab, karakteristik galam mudah ditanam dan cepat berkembang di lahan gambut. Saut melihat belum ada pengelolaan hutan galam secara komunal kemasyarakatan. Selain itu, potensi perikanan dan peternakan bisa dikembangkan. “Kalimantan Selatan ini masih mendatangkan telur dari Jawa. BUMDes bisa didorong memanfaatkan setiap potensi itu.”


tempo.co

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :