Menarik minat generasi muda untuk bertani

Menarik minat generasi muda untuk bertani

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kependudukan telah merilis hasil survei baru-baru ini yang memperlihatkan bahwa Indonesia terancam krisis petani. Ini akibat usia petani nasional mengalami ancaman penuaan karena sebagian besar petani berusia 45 tahun ke atas.

Hal tersebut merujuk hasil survei yang mencatat bahwa rata-rata usia petani padi di tiga desa pertanian padi Jawa Tengah mencapai 52 tahun dan sedikit pemuda yang bersedia untuk melanjutkan pertanian keluarga. Bahkan anak petani yang kembali menjadi petani untuk melanjutkan usaha tani keluarga hanya berjumlah sekitar tiga persen.

Berkaca dari hasil survei tersebut, bila ke depan kondisi itu dibiarkan saja, maka Indonesia akan mengalami krisis petani. “Oleh karena itu, pemerintah perlu membuat kebijakan regenerasi petani di negeri ini untuk mencegahnya, yakni dengan mendorong pemuda menjadi petani,” kata Vanda Ningrum, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI di Seminar Pemuda dan Pertanian Berkelanjutan, dipantau dari laman LIPI hari ini.

Lalu untuk mendorong pemuda mau menjadi petani, lanjut Vanda, pemerintah perlu memperhatikan empat aspek ini. Pertama, membuat kebijakanyang dapat memberikan akses lahan bagi pemuda. Kedua, kebijakan yang memberikan jaminan pasar bagi pemuda tani untuk mengelola pertanian. 

Kemudian yang ketiga adalah perlunya pendidikan mengenai teknologi serta variasi teknik budidaya pertanian yang berkelanjutan kepada kalangan pemuda pedesaan terutama pada lahan pertanian yang terbatas. Teknik budidaya yang berkelanjutan ini akan mengurangi ketergantungan petani pada penggunaan pupuk kimia dan lebih adaptif pada perubahan lingkungan. Keempat, adalah pemberian insentif bagi profesi petani untuk menarik pemuda menjadi petani.

Keberadaan pemuda tani ini penting, tekan Vanda, khususnya terkait kedaulatan pangan pada masa yang akan datang dan sebagai bentuk gerakan petani yang otonom dalam era globalisasi saat ini. “Pemerintah perlu memberikan perhatian besar dalam menciptakan strategi kebijakan pertanian yang dapat memberikan dampak langsung pada terciptanya regenerasi petani untuk menjaga keberlanjutan penanian keluarga yang menopang kebutuhan pangan nasional,” jelas Vanda.

Untuk itu, regenerasi pemuda menjadi petani sekarang ini menjadi amatlah penting. Harap diingat pula bahwa pemuda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan pertanian karena pemuda adalah generasi penerus yang diharapkan melanjutkan usaha pertanian keluarga.

Namun, sekarang ini pemuda desa yang bersedia menjadi petani jumlahnya sangat sedikit. Data Kementerian Pemuda dan Olahraga 2014 mencatat sebanyak 52.000 pemuda meninggalkan desa dan mencari penghidupan di perkotaan.

Sementara itu, ketersediaan lapangan kerja di kota belum mencukupi untuk menampung angkatan kerja dari desa. Sebagian besar dari mereka, bekerja di sektor informal tanpa jaminan kerja yang layak, sedangkan sisanya yang tidak mendapatkan pekerjaan akan menambah angka pengangguran di kota.

Modernisasi yang terjadi pada keluarga, sekolah, sawah dan aktivitas nonpertanian telah membentuk pemuda pedesaan bersikap modern. Pada akhirnya mereka memilih migrasi ke kota dibanding bertahan di desa menjadi seorang petani. 

rimanews.com 

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :