Kembangkan Desa Berbasis Ekonomi Syariah

Kembangkan Desa Berbasis Ekonomi Syariah

Empat desa di Jatim bakal dipilih sebagai kandidat pilot project desa berbasis ekonomi syariah. Program tersebut merupakan kerja sama antara Bank Indonesia (BI) dan Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI).

Empat desa tersebut adalah Desa Karanganyar, Kabupaten Bondowoso; Desa Cukir, Kabupaten Jombang; Desa Bendosari, Kabupaten Malang; dan Desa Panjerejo, Kabupaten Tulungagung.

Ketua Pokja Industri Desa Komite Ekonomi dan Industri Nasional Aries Mufti mengatakan, saat ini desa di Indonesia masih didominasi desa tertinggal dan sangat tertinggal (63,82 persen). Total angkatan kerja di desa yang saat ini berjumlah 58,4 juta orang juga didominasi lulusan sekolah dasar. Yakni, 57,78 persen.

Faktor rendahnya pendidikan di pedesaan tersebut mengakibatkan tingginya persentase penduduk miskin. Hingga saat ini penduduk miskin di pedesaan mencapai 13,96 persen, lebih tinggi daripada penduduk miskin di perkotaan yang hanya 7,43 persen.

Kondisi tersebut membuat banyak penduduk desa yang lebih memilih tinggal di kota. Pada 2016, jumlah penduduk Indonesia di pedesaan hanya 46 persen. ”Potret pedesaan saat ini adalah miskin, migrasi, dan lulusan SD,” jelasnya.

Meski pemerintah telah mengucurkan dana hingga Rp 47 triliun pada 2016, pendapatan warga desa justru turun 1 persen. Angka kemiskinan pun stagnan di angka 14 persen. ”Dana desa yang disalurkan itu naik 127 persen, tapi pendapatan warga malah turun. Ibaratnya memberi uang kepada anak SD,” katanya.

Fenomena itulah yang mendorong BI dan IAEI Jatim membentuk desa percontohan yang berbasis ekonomi syariah. Sebab, sebanyak 36,1 juta penduduk di Jatim adalah muslim. Angka tersebut adalah 97,2 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Jatim dan 17,4 persen dari total populasi nasional.

Jatim juga memiliki jumlah pesantren yang sangat banyak sehingga punya sumber daya manusia (SDM) untuk mengembangkan ekonomi syariah. ”Penduduk muslim juga kebanyakan berada di desa,” katanya.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Jatim Herawanto menyatakan, terdapat lima pilar yang menjadi indikator desa percontohan. Mulai SDM dan kondisi sosial, lingkungan biotis dan infrastruktur, kelembagaan masyarakat, potensi ekonomi, hingga akses keuangan. ”Dari lima indikator tersebut, Desa Cukir menjadi yang terbaik,” ungkapnya.

Ketua IAEI Jatim Muzakki mengatakan, setelah menentukan kandidat desa, pihaknya bakal menerapkan teori perubahan untuk mengubah mindset masyarakat desa terlebih dahulu. ”Level paling rendah yang perlu diubah terlebih dahulu adalah pengetahuan. Lalu, awareness, policy making, dan practice,” jelasnya. (*)

jawapos.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :