Menanam Untung Kebun Tempuyung (2)

Menanam Untung Kebun Tempuyung (2)

Hampir sama dengan tanaman herbal lainnya, pembudidayaan tempuyung mudah. Hanya perlu lahan gembur yang subur dan tidak becek untuk menanam tempuyung.

Para pembudidaya juga tak mengaku kesulitan menanam tempuyung. Termasuk Asfiyak Toga As di Blitar, Jawa Timur. Menurut dia, hal penting dalam penanaman tempuyung adalah kondisi tanah yang gembur dan perawatan yang teratur.

Toga menggunakan polybag yang diisi tanah bercampur sekam sebagai media tanam. Setelah itu, bibit tanaman pun ditaburkan dan diaduk dalam tanah. Tapi, jangan lupa untuk melubangi pinggir polybag agar tanaman bibit berkembang.  

Setelah itu, penyiraman rutin dilakukan setiap hari, termasuk pemberian pupuk kandang atau pupuk kompos. “Tiga bulan kemudian, daun mulai dipanen. Kalau perawatan teratur bisa kurang tiga bulan panen daunnya,” jelas Toga.

Pembibitan tempuyung juga bisa dilakukan melalui batang. Caranya, dengan memotong batang, nantinya tanaman akan tumbuh lagi. Tanaman ini cukup bandel dan tumbuh liar.

Toga juga bilang, semakin timbun, tanaman akan kian banyak menghasilkan anakan. Cara perawatan pembibitan cara ini pun sama, rutin disiram dan pemupukan. Panen bisa lebih cepat. Dalam dua bulan, Anda bisa memanen tiga kilo daun segar.  

Bicara soal perawatan, selain pemeliharaan yang teratur, Toga bilang hal penting yang harus diperhatikan adalah kondisi tanah yang tidak boleh lembab. Sebab tanah yang lembab dapat membuat tanaman mati. Itulah mengapa Toga membudidaya menggunakan media polybag agar air yang disiram ke tanaman bisa mengalir dibawah polybag.

Roni Pranata, pembudidaya daun tempuyung asal Yogyakarta lain bilang, tak kesulitan dalam memelihara tanaman ini. Biasa tumbuh liar, tanaman tempuyung cenderung tahan terhadap hama. "Biasanya yang perlu dihindari hanya belalang kapak," ujar Roni.

Sementara untuk jenis tanah yang cocok untuk tanaman ini adalah tanah gembur yang tidak becek. Meski harus ditanam di tanah yang kering, tempuyung lebih cocok hidup di dataran tinggi. Jika ditanam di daerah panas seperti Yogyakarta, Roni menyarankan adanya peneduhan.

Setelah ditanam, tempuyung butuh waktu sekitar 4-6 bulan hingga bisa dipanen daunnya. Untuk umur tanaman itu sendiri, bisa bertahan hingga 8 bulan. "Setelah 8 bulan biasanya akan dicabut dan diganti tanaman baru," jelas Roni.

Selama menunggu panen, tempuyung dapat dirawat dengan memberi pupuk organik. Jika ingin lakukan penyemprotan, Roni menganjurkan pakai pestisida organik. Pasalnya, tempuyung lebih banyak memiliki khasiat herbal, hingga sebaiknya tak terkontaminasi bahan kimia.

Kendala bertanam tempuyung adalah sulit mencari bibit. Selain belum banyak pembudidaya, "Kebanyakan akan mencari tempuyung yang tumbuh liar," jelasnya.

(Selesai)

sumber : kontan.co.id

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :