Akuaponik tawarkan keuntungan berlipat

Akuaponik tawarkan keuntungan berlipat

 Akuaponik adalah sistem pertanian yang mengkombinasikan akuakultur dan hidroponik. Setahun belakangan, akuaponik mulai dilirik para petani modern. Selain efisien, hasil panen akuaponik ada dua macam, yakni sayuran atau buah dan ikan.

Kecintaan pada bidang pertanian mendorong Jusuf Randi mendirikan Randi Farm. Kini, petani asal Purwokerto, Jawa Tengah ini memakai sistem akuaponik setelah sebelumnya menerapkan hidroponik. Menurutnya, sistem akuaponik lebih efisien dari sistem lainnya.

Ia mengkombinasikan kangkung organik dan lele dalam akuaponiknya. Dalam sekali panen, Randi bisa mendapatkan 240 kilogram (kg) kangkung organik dan satu ton lele. “Sayur bisa panen tiap bulan, sementara lele empat sampai lima bulan sekali,” tuturnya. Randi menjual kangkung Rp 3.000 per ikat ( 1kg=4-5 ikat) dan lele Rp 15.000 per kg.

Selain bertani, Randi Farm juga menjual instalasi mini hidroponik dan akuaponik seharga Rp 1,5 juta per set. Dalam sebulan, ia bisa menjual hingga enam set instalasi aquaponik

Pelaku usaha lainnya adalah Arief Marzocchie asal Purworejo, Jawa Tengah. Sejak 2016, ia mulai menggeluti pertanian dengan sistem akuaponik. “Dulu awalnya hidroponik, tapi terhenti karena masalah nutrisi tanaman,” tuturnya.   

Akuaponik sendiri cocok diterapkan dalam sebuah pekarangan yang tidak luas seperti di rumah, kantor, kos-kosan, balkon dan lain-lain. Menurut Arief, akuaponik ini sangat hemat air, karena air dalam budidaya ikan di sirkulasi dan dialirkan ke media tanaman.

Arief menanam berbagai jenis sayuran seperti bayam hijau, bayam merah, kangkung, sawi hijau dan lainnya. “Pakai sistem akuaponik, masa panennya bisa lebih cepat dibanding dengan sistem tradisional,” katanya.

Misal, untuk tanaman kangkung, bila dengan sistem tanam tradisional mencapai 35-40 hari panen. Sedangkan dengan sistem akuaponik tanaman kangkung bisa di panen pada 25-28 hari saja.

Sama seperti Randi, Arief juga menjual instalasi aquaponik. Harga produk instalasi bervariasi mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 3 juta.“Karena sistem akuaponik masih baru, belum terlalu banyak peminatnya. Saya sebulan kira-kira bisa menjual 10–15 instalasi,” katanya. Maka, dalam sebulan Arief dapat meraup omzet Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.

Meski sistem tanaman akuaponik ini masih belum dikenal masyarakat, Arief terus gencar berpromosi lewat sosial media seperti Instagram dan Facebook. Tak hanya itu, Ia juga terus menawarkan ke komunitas masyarakat seperti forum PKK dan kelompok Tani lainnya agar semakin dikenal oleh masyarakat.

Jauhkan ikan dari stres dan cermati kondisi akar tanaman

Boleh dibilang, akuaponik merupakan sistem pertanian modern, karena merupakan kombinasi antara akuakultur dan hidroponik. Keduanya dipraktikkan agar saling menguntungkan.

Media menanamnya sama seperti hidroponik, yakni pipa paralon, pompa air dan ada selang untuk menyalurkan nutrisi tanaman. "Bedanya, kalau akuaponik ini bisa diletakkan di atas kolam ikan. Jadi membudidayakan aneka sayur sambil pelihara ikan sekaligus. Sehingga, bisa memanen sayur dan ikan sekaligus," jelas Jusuf Randi, praktisi akuaponik sekaligus pemilik Randi Farm.  

Dalam akuaponik, kotoran ikan diberikan kepada tanaman. Namun, diubah dulu menjadi nitrat dan nitrit melalui proses alami. Senyawa nitrit inilah yang menjadi nutrisi tanaman.  Kemudian, setelah terbebas dari kandungan nitrit, air bersirkulasi kembali ke sistem akuakultur.

Selain mempersiapkan pipa-pipa yang dilubangi sebagai tempat tanaman, juga harus dibuat kolam atau bak pemeliharaan. Sedangkan. untuk media tanam dan bibit ada beberapa media yang bisa digunakan, seperti pasir kasar, ijuk, arang kayu, arang sekam, ijuk, pecahan batu bata, kerikil, batu apung, dan batu zeolit.

Benih siap ditanam di pipa jika ketinggiannya sudah mencapai 10 centimeter (cm). Jadi sebelumnya harus disemai lebih dulu di tempat terpisah. Randi menyarankan agar benih dipindahkan ke pipa saat sore hari. Karena pada sore hari, tanaman sedang dalam kondisi baik.  

Jarak penanaman tergantung dari jenis tanamannya. Misal, kangkung, pakchoi dan selada jarak tanam yang dianjurkan 10 cm. Sedangkan untuk tanaman buah, seperti tomat, cabai dan terung sayur, hendaknya jarak tanaman sekitar 40 cm.

Tantangan dalam sistem akuakultur adalah menjaga ikan agar tidak stres. Pasalnya, nutrisi tanaman dalam akuaponik bergantung pada feses atau kotoran ikan. Biasanya kendala datang dari suhu tinggi. 'Suhu yang tinggi akan menyebabkan ikan stres. Kalau sudah stress, nafsu makan berkurang, sehingga produksi kotoran atau limbah pun sedikit," terang Arief.

Kendala kedua, yakni  kurangnya nutrisi yang diserap oleh akar tanaman. Arief mengatakan, ciri akar yang baik memiliki kondisi putih bersih dan agak kemerah-merahan. Pemeliharaan akar juga penting, agar bisa menyerap partikel hasil perombakan limbah kolam secara maksimal. "Jika kondisi akar tak baik, maka penyerapan nutrisi akan berkurang dan menyebabkan kematian tanaman," tuturnya.

Kendala ketiga adalah serangan hama pada tanaman sayur, yaitu ulat dan ayam yang bisa membuat lubang daun maupun batang. Selain itu, penyakit ikan harus selalu dikontrol. Pemberian pakan yang tepat dan teratur, kontrol kualitas dan kuantitas air bisa mengantisipasi adanya penyakit ikan.

Sebaiknya air kolam dibersihkan tiap dua minggu untuk menghilangkan amonia dari kotoran ikan dan sisa pakan ikan. Usahakan pula ada kucuran air untuk tingkatkan oksigen. 

kontan.co.id

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :