Bercocok Tanam ala Penghuni Apartemen Manfaatkan Lahan Terbatas, Gunakan Sampah Daur Ulang Sebagai Pupuk

Bercocok Tanam ala Penghuni Apartemen Manfaatkan Lahan Terbatas, Gunakan Sampah Daur Ulang Sebagai Pupuk

Keterbatasan ruang bercocok tanam mendorong warga perkotaan lebih kreatif. Salah satunya dilakukan Inner City Management (ICM), perusahaan pengelola apartemen di Jakarta. ICM menerapkan konsep urban farming, yaitu bercocok tanam ala masyarakat kota. ”Jadi, lahan terbatas betul-betul dimanfaatkan untuk ditumbuhi tanaman,” tutur Koordinator Estate and Green Waste ICM, EM Kadek di Jakarta, belum lama ini.

Kadek menyebut awalnya tindakan itu hanya berupaya menanggulangi persoalan sampah penghuni apartemen cukup banyak setiap hari. Sampah itu akhirnya dipisahkan antara yang bisa didaur ulang (organik) dan sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual.

Sampah organik antara lain menghasilkan kompos padat, cair dan gas metana. Sedang sampah anorganik macam plastik, kertas atau karton, kaleng, botol, dan lain-lain boleh diambil pemulung. Kompos-kompos itu kemudian dimanfaatkan untuk menanam tanaman hias, sayuran, dan lain-lain untuk mempercantik lingkungan apartemen dan sayuran gratis.

Menurut Kadek, pemanfaatan kompos itu kemudian memberikan ide untuk menanam tanaman produktif untuk bisa dikonsumsi. Percobaan dilakukan dengan memanfaatkan lahan terbuka di atap menara apartemen. Menggunakan drum bekas dipotong dua, proses menanam tanaman produksi itu membuahkan hasil.

Diantaranya kangkung Pakcoy dan sejenisnya. Hasil tanaman itu awalnya dikonsumsi secara internal. Itu karena hasil tanaman produktif tersebut masih sangat terbatas. ”Ya, mau dijual ke pasar kontinuitasnya belum memenuhi. Jadi, memang untuk konsumsi secara terbatas. Karena itu, kami menyebut Urban Farming,” ulas Kadek.

Pihak ICM kemudian menyebarkan dan menginformasikan tentang penanaman itu kepada para penghuni apartemen. Sosialisasi dari mulut ke mulut itu rupanya mendapat respon cukup positif. Sebagian penghuni antusias untuk ikut periode panen tanaman. Bahkan, tidak jarang penghuni memesan tanaman yang ingin dikonsumsi. ”Jadi, penghuni petik hasil panen sendiri, cuci hasil panen, ditimbang, lalu bayar. Penghuni merasa seperti rekreasi karena banyak yang baru mencoba panen tanaman,” ungkapnya.

Uang hasil penjualan itu dimanfaatkan untuk biaya pemeliharaan sarana bercocok tanam hingga membayar upah pekerja yang ditugaskan khusus mengurus tanaman produksi. Kegiatan itu juga menciptakan lapangan pekerjan mandiri dan memberdayakan para pemulung, sehingga terjadi aspek sosial di dalamnya. ”Di sini terjadi swasembada biaya dan kontinuitas usaha. Semua tercatat, dan pengeluaran dilaporkan,” beber Kadek.

Kadek melanjutkan, konsep itu sudah diterapkan sejak tahun 2011 lalu. Saat ini, Urban Farming sudah diterapkan di Apartemen Nias Residence Kelapa Gading dan Apartemen Mediterania Garden 2 Residence Tanjung Duren. Ke depan, sejumlah apartemen dikelola Inner City juga akan mengaplikasikan Urban Farming, salah satunya Kalibata City. Urban farming dijamin tidak merusak gedung apartemen. ”Standar keamanan, keselamatan, dan kenyaman penghuni tetap diprioritaskan,  jadi semua pasti aman,” ucapnya.

Berkat kreativitas itu, Kadek beberapa kali diminta untuk berbagi konsep mengembangkan urban farming. Setidaknya bilang Kadek, Kedutaan Besar Belanda pernah mengajaknya berbagi ilmu karena konsep itu dianggap berhasil. Selain itu, Kadek juga beberapa kali diminta pihak Kelurahan Tanjung Duren Selatan untuk membagikan ilmunya kepada kelompok Ibu PKK Kelurahan. ”Kami senang bisa berbagi konsep itu agar lebih banyak orang bisa menerapkannya. Bahkan penghuni apartemen yang kami kelola minta diperbanyak lahan yang digunakan untuk urban farming itu,” tukas Kadek. (far)

indopos.co.id

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :