Budidaya Jamur Tiram, Jurnalis Ini Raup Belasan Juta Per Bulan

Budidaya Jamur Tiram, Jurnalis Ini Raup Belasan Juta Per Bulan

Berbekal pengetahuan dari seorang teman sepergaulan, pemuda dari Dusun Rumbia, Desa Tanete, Kecamatan Simbang di Kabupaten Maros, menggeluti usaha yang tak lazim dilakoni pemuda seusianya.

Dengan melakoni budidaya jamur tiram di sebuah gubuk beratap daun nipa, berdinding bilah bambu di belakang rumah milik orang tuanya, Jumaedi (26) merintis usahanya sejak 2015 kemarin. Tidak tanggung-tanggung bahkan omset yang dimilikinya bisa mencapai 7 juta rupiah setiap bulannya.

"Omzetnya kini sudah mencapai jutaan rupiah perbulan. Memang belum cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga, tapi kami sangat terbantu dengan usaha ini," beberanya.

Edi yang juga berprofesi sebagai seorang jurnalis ini, mengaku kesulitan saat merintis usahanya. Bahkan, tidak jarang dia harus mendapat cibiran dari tetangga di kampung halamanya, lantaran usah yang digelutinya dianggap tidak lazim di mata masyarakat.

Dengan modal pas-pasan yang dia miliki, Edi memberanikan diri meminjam uang ke orang tuanya sebesar Rp10 juta untuk memulai usaha budidaya jamur tiramnya. Karena dirinya merasa cocok melakoni usaha tersebut, dan tidak mengganggu aktivitas keseharianya sebagai seorang jurnalis di sebuah surat kabar. "Saya mencoba karena saya merasa cocok," kata Edi.

Setelah usaha berjalan selama beberapa tahun, kini Edi bersama isterinya Rika Amelia dapat memanen jerih payahnya berkisar 6 sampai 8 kilogram jamur tiram perharinya. Jika harga perkilogramnya berkisar Rp20.000 hingga Rp35.000, maka Edi bisa mengantongi uang sekitar Rp7 juta per bulannya.

Untuk setiap wadah tempat jamur tiram tumbuh, Edi membutuhkan bahan baku berupa serbuk gergaji yang sudah diayak dan dicampurkan dengan dedak, kapur serta sedikit air. Campuran ini lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk dimasak di sebuah drum besar selama 12 jam lamanya.

Setelah proses rebus selesai, wadah yang berbentuk botol plastik itu disimpan di dalam sebuah gubuk yang gelap dan steril. "Kita simpan di tempatnya, lalu kita menunggu 25 sampai 30 hari kedepannya, setelah itu jamurnya sudah bisa dipanen," papar Edi.

Dibalik bisnis yang ia geluti itu, Edi mengaku tidak terlalu memburu keuntungan. Bagi Edi, ia hendak berpesan bagi siapa saja untuk berani memulai sebuah usaha apapun jenisnya, yang penting halal dan bermanfaat.

"Kadang saya tidak menjualnya, saya hanya bagi-bagikan saja ke warga. Gizi jamur inikan sangat tinggi dan cocok bagi anak-anak untuk tumbuh kembangnya," sebutnya.

Belum lagi, kata Edi, kebutuhan jamur untuk industri rumah makan di Sulawesi Selatan masih belum tercukupi. Sehingga, bisnis budidaya jamur ini dinilai memiliki prospek yang cerah ke depannya.

kabar.news

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :