Bernilai Ekonomi Tinggi, Budidaya Umbi Porang Belum Banyak Diminati

  • Kategori Komoditi --
  • Kamis, 15 Juni 2017 14:43
Bernilai Ekonomi Tinggi, Budidaya Umbi Porang Belum Banyak Diminati

Porang, atau yang biasa disebut Iles-iles atau Suweg oleh orang Jawa merupakan jenis umbi yang hidup di hutan tropis. Tanaman yang bisa juga ditanam di dataran rendah tersebut mudah hidup di antara tegakan pohon hutan seperti misalnya Jati dan Pohon Sono.

Porang mempunyai umbi dengan kandungan Glucocaman yang sangat tinggi. Tanaman Porang atau amorphopallus oncophillus, memang belum terlalu dikenal oleh masyarakat, padahal permintaan akan Porang relatif sangat tinggi khususnya untuk industri kesehatan dan  kecantikan. Meski proses pembudidayaan dianggap mudah, namun masih sedikit orang yang membudidayakan porang.

Budidaya Porang yang baik adalah dengan cara menanam Porang di bawah pohon besar, seperti menanam pada pohon Jati. Selain, tak akan merusak tanaman lainnya, sistem tanam seperti ini tak juga sebagai pemanfaatan lahan kosong untuk menghasilkan nilai ekonomi tinggi.

Di Indonesia, memang masih tergolong sedikit orang yang membudidayakan Porang, akan tetapi terdapat beberapa daerah yang mampu menyokong perekonomiannya melalui budidaya tanaman Porang.

Sukiyem, warga desa Klangon, Madiun adalah salah satu petani yang membudidayakan Porang. Ia terlihat sedang menjemur potongan porang. Ia menceritakan potongan porang ini harus dikeringkan sebelum dikirim ke pengepul dan nantinya dijual ke luar negeri.

Proses pengeringan ini tentu saja berdasarkan cuaca, apabila dalam keadaan cuaca panas, proses pengeringan akan lebih cepat. Namun idealnya memakan waktu selama tiga hari. Setelah itu porang akan menyusut dan berubah menjadi berwarna hitam.

“Penyusutannya cukup tinggi, biasanya untuk 1 kuintal porang kalau kering hanya menjadi 17 kg. Tapi itu tergantung kualitas porangnya juga. Ada porang yang kualitasnya bagus, menyusutnya juga tidak terlalu tinggi,” jelas dia, seperti yang dilansir oleh Madiunpos.com

Pada tahun 2016 lalu, harga Porang basah dibanderol mulai dari Rp3000 per kilogram dan porang kering Rp35.000 per kilogram. Namun saat ini harga Porang kering turun menjadi Rp29.000 per kilogram. Selanjutnya, Porang yang kering ini akan diserahkan ke pengepul dan dilanjutkan dijual ke luar negeri.

Jepang dan Tiongkok merupakan beberapa contoh negara yang menjadi tujuan ekspor Porang. Disana Porang dijadikan sebagai bahan makanan seperti mie, jeli, dan tepung maupun obat-obatan.

Simon B Widjanarko, pakar Porang yang merupakan guru besar di Universitas Brawijaya Malang menjelaskan bahwa, Porang memiiki khasiat untuk menurunkan kolesterol setelah diesktrak menjadi tepung.

Ia menurturkan bahwa potensi tepung Porang dinilai sangat besar. Namun sayang, hingga saat ini pabrik tepung Porang masih dikuasai asing, yaitu Jepang dengan pabriknya di Kabupaten Pasuruan.

”Tanaman porang banyak dijumpai di Madiun, Kediri, Nganjuk dan daerah lainnya. Untuk di Malang, Universitas Brawijaya akan menanamnya di hutan pendidikan UB Forest,” tuturnya

kursrupiah.net

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :