Harga Bawang Merah Jatuh, Kementan Minta Bulog Turun Tangan

Harga Bawang Merah Jatuh, Kementan Minta Bulog Turun Tangan

Harga rata-rata bawang merah di pasaran anjlok. Petani mengeluhkan hal itu, karena dengan harga yang berlaku saat ini tak bisa menutupi biaya penanaman dan pasca-panen.  Dari data Informasi Pangan Jakarta, Selasa (9/1), rata-rata harga bawang merah di DKI Jakarta sebesar Rp 26.861/ kg. Namun sejumlah pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, bisa menjual hingga Rp 11.000/ kg.

Harga tersebut sudah jauh di bawah acuan, yakni Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 27 tahun 2017, tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen. Dalam Permendag itu ditetapkan, acuan harga penjualan di konsumen sebesar Rp 32.000/ kg.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto mengatakan pihaknya melakukan berbagai upaya agar harga bawang merah bisa kembali normal. Salah satunya kerja sama dengan Perum Bulog untuk membeli lebih banyak bawang merah dari petani.

"Pertama Bulog akan melakukan serapan, melakukan pembelian. Tapi Bulog juga diminta membantu bagaimana memasarkan, nanti mencari industri sehingga bisa diserap. Bulog juga karena (bawang merah) bukan penugasan, sehingga pakai uang (Bulog) sendiri," ujar Prihasto di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (9/1).

Selanjutnya untuk jangka panjang, dia meminta para petani bisa melakukan pemurnian dari varietas bawang merah yang ditanam. Selama ini, benih bawang merah yang sama ditanam terus-menerus menyebabkan hasil tanaman kecil sehingga daya saing tergerus.

Nantinya, lanjut Prihasto, Kementan akan membantu mengirim benih unggul untuk skala nasional. Pihaknya juga akan mengalokasikan bijih true shallot seed (TSS) untuk area 200 hektare.

"Jadi kami bukan hanya di Brebes tapi nasional, kami alokasikan 200 hektare bijih TSS. Jadi itu yang sedang kami upayakan di 2018. Perlu edukasi para petani dengan penggunaan teknologi ini. Memang menambah waktu tanam 1 bulan, tapi biaya produksi berkurang," jelasnya.

Cara lainnya adalah meminimalisir penggunaan pestisida, dengan teknologi yang lebih ramah lingkungan. "Yang lain teknologi ramah lingkungan, seperti penggunaan pestisida. Itu kan biaya produksinya 30%, kalau biayanya Rp 100 juta untuk tanam bawang, Rp 30 juta itu untuk pestisida saja," kata dia.

 

kumparan

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :