Petani Kalteng Pertahankan Padi Para Raja dari Kepunahan

Petani Kalteng Pertahankan Padi Para Raja dari Kepunahan

Jakarta - Indonesia memiliki kekayaan plasma nutfah padi yang cukup besar berupa varietas lokal. Varietas lokal padi telah dibudidayakan secara turun menurun oleh masyarakat pada lingkungan spesifik, baik di lahan sawah, lahan kering, hingga lahan pasang surut.

Sehingga, varietas lokal masing-masing memiliki sifat tahan/toleran terhadap cekaman biotik maupun abiotik yang terjadi pada lingkungan tersebut. Di antara padi lokal yang sudah terancam punah di berbagai daerah, masih terdapat jenis tertentu yang tetap diminati masyarakat setempat. 

Biasanya padi lokal lebih disukai dan sulit tergantikan oleh varietas unggul karena memiliki keunggulan dalam hal rasa, aroma dan harga jual yang lebih tinggi. Padi lokal perlu terus dilestarikan secara optimal oleh pemerintah daerah, bersinergi dengan Kementerian Pertanian dan petani setempat untuk dikembangkan secara ekonomi guna mendukung program ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Kalteng, Fery Fahruddin Munir menyatakan hingga saat ini tidak kurang dari 25 jenis padi lokal telah dieksplorasi oleh BPTP Kalimantan Tengah. Selain itu juga dikoleksi di Bank Gen, Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Bogor. 

"Semuanya merupakan sumber daya genetik atau plasma nutfah lokal yang bermanfaat untuk pengembangan pertanian padi ke depan. Sebagian dari plasma nutfah tersebut juga telah didaftarkan ke Pusat perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian," ujar Fery dalam keterangan tertulis, Jumat (5/1/2018).

Fery mengatakan, di antara padi lokal 'unggul' tersebut antara lain padi Ronik atau Dara Maayan asal Kabupaten Lamandau. Padi lokal tersebut memiliki karakter bentuk gabah yang sangat kecil, beraroma wangi dan pulen. 

"Dalam sejarahnya padi Ronik atau Dara Maayan merupakan makanan para raja di Kerajaan Kotawaringin (Lamandau saat masih bergabung dengan kabupaten Kotawaringin Barat), dan banyak ditanam di keluarga-keluarga istana," ungkapnya.

Seiring dengan waktu, keberadaan padi tersebut sulit ditemukan. Saat ini hanya terdapat satu keluarga petani yang menanamnya. Dara Maayan adalah padi lokal spesifik lahan kering dan berlereng.

Pemerintah Kabupaten Lamandau memandang perlu untuk melindungi keberadaan padi Ronik atau Dara Maayan yang sudah terancam punah, yaitu dengan melakukan pendaftaran ke PPVTPP pada tahun 2017. 

Fery menambahkan selain Dara Maayan, ada padi spesifik lahan pasang surut bernama 'Brenti', yang banyak ditanam petani di lahan pasang surut kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau. Berbagai keunggulan dari padi lokal tersebut antara lain tahan terhadap kondisi lingkungan dengan pH rendah, toleran Fe, tahan serangan OPT dan tahan genangan yang cukup lama. 

Secara umum karakteristik padi lokal Brenti memiliki tinggi tanaman antara 130-160 cm, dengan warna pangkal batang yang hijau. Jumlah anakan sedang yaitu 6-8 anakan per rumpun, bentuk daun panjang dan terkulai. 

Memiliki buah yang cukup lebat dengan malai yang tergolong panjang, yaitu antara 27-32 cm. Warna bulir kuning bening hingga keemasan dengan jumlah gabah per malai antara 137-183 butir. Umur tanaman sekitar 120-130 hari.

Pada periode panen bulan Desember-Februari 2017/2018, padi lokal Brenti turut berkontribusi memberikan sumbangan produksi pagi kabupaten Kapuas. Khusus di Kelompok Tani Sidodadi I Desa Bungai Jaya kecamatan Basarang kabupaten Kapuas, luas tanaman padi Brenti mencapai 46 ha. 

"Dari hasil panen padi Brenti yang dilakukan di awal Januari 2018 diperoleh produktivitas sebanyak 2,1 t/ha. Panen padi lokal kali ini memberikan hasil yang cukup baik, karena rata-rata produktivitas padi lokal di kabupaten Kapuas khususnya dan Kalimantan Tengah umumnya hanya berkisar antara 1,5-1,8 t/ha," paparnya.

Kepala Dinas Pertanian yang hadir pada panen tersebut, Anjono Bakti berharap agar petani yang telah panen padi lokal ini segera melakukan persiapan lahan kembali untuk menanam padi unggul pada periode Agustus – Oktober 2018. Sehingga pola tanam padi lokal – padi unggul dapat dilaksanakan. 

"Adapun pada periode Januari - Mei lahan umumnya tergenang, sehingga petani tidak bisa melakukan pertanaman," kata Anjono.

Saat berdialog dengan kelompok tani, peneliti BPTP Kalimantan Tengah peneliti BPTP Kalteng Susilawati menjelaskan pentingnya menanam padi-padi lokal dalam upaya melestarikan sumber plasma nutfah Kalimantan Tengah. 

Plasma nutfah akan selalu dicari dan dimanfaatkan dalam pembentukan varietas-varietas unggul baru. Ditambahkan juga bahwa dalam pengembangan pertanian lahan rawa, maka teknologi-teknologi spesifik lokasi akan tetap dikedepankan. 

"Lahan-lahan yang selalu tergenang, akan dicarikan solusinya, apakah melalui pembangunan, perbaikan dan penyempurnaan sistem tata airnya, atau dengan memilih varietas tanamannya, seperti padi Brenti yang tahan genangan. Dengan demikian lahan pertanian akan dapat dimanfaatkan sepanjang tahun," jelasnya. (ega/hns)

detik

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :