Petani sepakat Indonesia swasembada jagung

Petani sepakat Indonesia swasembada jagung

 JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kemtan) mengklaim tahun ini Indonesia sudah mencapai swasembada jagung. Bahkan, menurut Sumardjo Gatot Irianto, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kemtan, produksi padi dan jagung sudah melampaui target. Hingga akhir tahun Kemtan memperkirakan produksi jagung bisa mencapai 27,9 juta ton.

Sholahuddin, Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) mengatakan, tahun ini produksi jagung memang meningkat dibandingkan tahun lalu. Hal tersebut disebabkan adanya penambahan luas lahan serta cuaca yang semakin baik sehingga mendorong peningkatan produktivitas lahan.

Menurut Sholahuddin, bila berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), maka Indonesia akan swasembada. Dia bilang, BPS memuat produksi jagung hingga 24 juta ton, sementara kebutuhan jagung nasional sebanyak 22 juta hingga 23 juta ton dalam setahun. "Saat ini panen di beberapa daerah memang melimpah, hingga akhir bulan November masih akan ada panen lagi, " ujar Sholahuddin kepada KONTAN, Minggu (12/11).

Dia menurutkan, pada Desember dan Januari mendatang tidak akan ada panen jagung. Panen raya akan dimulai pada Februari hingga Maret, dimana pada saat itu 60% dari produksi jagung nasional akan dipanen.

Dari sisi petani, Sholahuddin pun merasa produksi jagung masih mencukupi kebutuhan nasional, khususnya kebutuhan industri. Dia bilang, saat ini kebutuhan industri pakan ternak paling besar dimana mereka membutuhkan jagung 7 juta-8 juta ton per tahun. "Kami merasa produksi cukup karena sampai saat ini tidak ada industri yang kekurangan bahan baku," tambahnya.

Menurut Sholahuddin, adanya industri yang mengimpor gandum sebagai pakan ternak karena industri ingin menggantikan jagung dengan gandum. Dia merasa terdapat golongan tertentu yang menetapkan harga tinggi untuk menunjukkan bahwa produksi jagung kurang. Meski begitum dia merasa industri tidak akan menggunakan gandum dalam waktu yang lama lantaran harganya yang tinggi dan kualitas pakan yang dihasilkan tidak begitu baik.

Saat ini harga jagung dengan derajat air 15% di tingkat petani sebesar Rp 3.650 per kg, sementara di tingkat industri Rp 3.850 per kg-Rp 3.900 per kg. Harga ini menurun dari September dan Oktober, dimana pada saat itu harga jagung sempat menyentuh Rp 4.100 per kg di tingkat industri.

Menurut Sholahuddin, penurunan harga ini merupakan akibat dari melimpahnya hasil panen. "Ketika harga di kisaran Rp 3.500 - Rp 3.600 di petani itu sudah baik. Hal tersebut disebabkan petani sudah untung dan peternak juga tidak berat," ujar Sholahuddin.

Sholahuddin berpendapat, pemerintah pun memiliki peran dalam meningkatkan produksi jagung tahun ini. Apalagi dengan adanya bantuan benih dan alat mesin pertanian (alsintan).

Hanya saja, menurutnya pemerintah sebaiknya tidak memberikan benih jagung secara langsung namun memberikan subsidi benih. "Hal ini supaya petani bisa memilih varietas benih yang ingin digunakan," katanya.

kontan.co.id 

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :