Sudah 2 Tahun Harga Sapi Tak Naik, Peternak Rugi

Sudah 2 Tahun Harga Sapi Tak Naik, Peternak Rugi

Harga rata-rata sapi hidup di peternak tidak mengalami kenaikan dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. Peternak pun merasa dirugikan karena beban biaya pakan dan lain-lain naik 5-10% per tahun. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf mengungkapkan saat ini rata-rata harga berat hidup sapi di peternak antara Rp 40.000-42.000/kg. Angka ini sama persis seperti 2 tahun yang lalu alias tidak mengalami kenaikan.


"Sudah 2 tahun ini bertahan. Di peternak sekarang Rp 40.000-42.000/kg berat hidup sudah sangat baik sedangkan di jagal Rp 47.000/kg (harga karkas). Selisih Rp 5.000/kg itu kan wajar karena untuk biaya transportasi dan biaya susut juga risiko lainnya," kata dia kepada kumparan, Kamis (14/9). Oleh karena itu, dia menambahkan harga daging sapi di pasaran juga tak mengalami kenaikan. Saat ini harga daging sapi di pedagang dijual dengan harga Rp 120.000/kg.

"Biasanya naik 5-10% karena kenaikan harga bahan baku pakan dan sebagainya. Biasanya diikuti harga daging tetapi sekarang tetap Rp 120.000/kg," imbuhnya. Menurut Rochadi, salah satu penyebab harga sapi di peternak tidak mengalami kenaikan karena peredaran daging kerbau impor asal India yang cukup banyak di pasaran.

Daging kerbau impor India yang memiliki harga jual lebih murah, yaitu Rp 80.000/kg, mampu menekan lonjakan harga daging sapi lokal.  Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memang telah membuka keran impor daging kerbau India kepada Perum Bulog. Jumlahnya cukup besar, misalnya di tahun 2016 jumlah alokasi impor mencapai 100.000 ton dengan realisasi sekitar 59.000 ton. Sedangkan di tahun 2017, Kemendag kembali membuka impor daging kerbau sebanyak 70.000 ton sampai Maret 2017 ditambah 30.000 ton hingga akhir tahun ini.


"Harusnya harga sapi lokal naik tidak terlalu signifikan, normatifnya 5-10%. Biasanya Rp 120.000 bisa Rp 140.000, tetapi saat ini harganya tetap Rp 120.000-130.000/kg karena daging impor India," sebutnya.

kumparan.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :