Ikatan BEM Pertanian Indonesia Gelar Program Bina Desa Nasional

Ikatan BEM Pertanian Indonesia Gelar Program Bina Desa Nasional

Surakarta - Ikatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pertanian Indonesia menggelar Program Bina Desa Nasional. Ini merupakan sebuah program yang dilakukan sebagai bentuk pengabdian, tanggung jawab sosial, dan implementasi serta tindakan nyata dalam menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi.

Dalam siaran pers Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diterima Rabu (7/6) disebutkan, Program Bina desa merupakan salah satu bentuk dari pengembangan masyarakat dengan metode bottom up, yaitu masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh desa mereka. Sementara, mahasiswa hanya berfungsi sebagai fasilitator.

Salah satu kegiatan terkait program itu adalah digelarnya seminar nasional bertema "Peran Generasi Muda dalam Proses Revitalisasi Pertanian Indonesia" yang digelar di kampus Fakultas Pertanian UNS, Rabu (31/5) lalu.

Seminar digelar atas kerja sama antara BEM Fakultas Pertanian UNS dengan Ikatan Badan Eksekutif Mahasiswa Pertanian Indonesia (IBEMPI). Seminar nasional merupakan satu dari serangkaian kegiatan yang dilakukan IBEMPI dengan tajuk Bina Desa Nasional 2017.

Pada Program Bina Desa Nasional 2017, Fakultas Pertanian UNS menjadi tuan rumah dan rangkaian kegiatan dihadiri oleh anggota IBEMPI dari seluruh Indonesia. Acara itu dihadiri perwakilan mahasiswa dari 25 perguruan tinggi pertanian.

Desa Pereng, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, merupakan fokus lokasi dari rangkaian kegiatan Bina Desa Nasional IBEMPI yang dilaksanakan pada 1-3 Juni 2017.

Sementara, seminar nasional dihadiri Wakil Bupati Karanganyar Rohadi Widodo, Andreas Gunapradangga pemilik PT Agrikencana Prakarsa, Asisten Perekonomiann, Pembangunan, dan Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Karanganyar, Siti Maesaroh, dan Guru Besar Fakultas Pertanian UNS Prof Dr Ir Suntoro MS.

"Kabupaten Karanganyar dengan program industri, pertanian, dan pariwisata telah mengembangkan 15 desa yang tersebar di 5 kecamatan, antara lain di Ngargoyoso, Tawangmangu, Karangpandan, Matesih, dan Mojogedang menjadi kawasan sentra beras organik," ujar Rohadi.

Andreas Gunapradangga mendorong mahasiswa agar mempunyai nilai lebih agar dapat "menjual diir" di dunia kerja yang semakin kompetitif. Alumni program studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNS itu memotivasi mahasiswa untuk menciptakan usaha sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Sedangkan, Suntoro mengatakan, saat ini sektor pertanian tidak begitu dihargai, karena dianggap hanya sebagai penyedia pangan. Padahal, katanya, pertanian juga berfungsi sebagai stabilitas lingkungan.

"Dalam menghadapi krisis ekonomi nasional pada 1997/1998, sektor pertanian terbukti sebagai sektor yang paling bisa bertahan bila dibandingkan dengan sektor industri," ujarnya.

beritasatu.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :