Invasi dan Inovasi untuk UMKM

  • Kategori UKM Desa --
  • Kamis, 26 Oktober 2017 11:18
Invasi dan Inovasi untuk UMKM

UMKM memang masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional dan daerah. Ini ditunjukkan oleh keberadaannya yang besar. 

Tahun 2015 misalnya, jumlahnya sekitar 56,5 juta unit dan menjadi sumber pertumbuhan nilai tambah. UMKM telah mampu menyerap lapangan pekerjaan sebesar 107,6 juta. Dinamika pertumbuhan antar sektor memperlihatkan peningkatan cukup tajam un tuk subsektor UMKM bidang industri kreatif, komunikasi, kuliner, dan trading. 

Namun untuk bidang pertanian dan industri stagnan. Yang muncul adalah dua tipologi perkembangan UMKM. Tipologi pertama, UMKM yang pertumbuhannya masih tinggi, tetapi pertumbuhan jumlah dan eksistensinya tidaklah bermutu. Pada kelompok pertama ini, pendatang baru cukup besar jumlahnya. Namun saat bersama an jumlah UMKM yang tutup dengan berbagai penyebab juga cukup tinggi. 

Pada tipologi pertama ini bia sanya UMKM muncul keberadaannya akibat dari replikasi jenis dan bentuk usaha yang sebenarnya sudah biasa berkembang. Cirinya adalah teknologi yang rendah, produk dan jasa yang tidak memberikan arti inovasi baru. Mereka datang karena mudah memasuki pasar, tanpa regulasi. 

Namun mudahnya masuk juga sebanding dengan mudahnya luluh lantak karena kalah bersaing dengan usaha sejenis yang ada. Kajian ekonomi oleh Dr Heliani dari Universitas Andalas pada disertasinya menemukan, hanya sekitar 10-12% usaha mikro di Kota Bukittinggi mampu berubah menjadi usaha kecil. 

Naiknya usaha mikro menjadi usaha kecil terutama karena mereka mau melakukan ino - vasi, fokus, dan mau bersinergi dengan pemasok input dan pasar. Para pendatang baru masuk pada kawasan dan jenis usaha serupa. Bisa lantaran kurang berpengalaman karena baru, pasar jenis yang sama sudah jenuh, atau masuk pasar dengan kreativitas dan inovasi sehingga menumbuh kan konsumen baru. 

Di bidang perdagangan, misalnya UMKM ritel rumahan, yang berjejer tidak berjauhan satu dengan yang lain, ditemui dan menjadi pemandangan di kota-kota sampai ke pelosok. Mereka dengan menjual barang yang sama akan membuat yang satu masuk baru dan yang lain mungkin bisa berangsur-angsur tutup. 

Usaha kuliner yang sama juga begitu. Satu jual jagung bakar, maka di kawasan itu muncul puluhan atau bahkan ratusan penjual jagung bakar. Begitulah skenario yang ada dihadapan pasar barang sejenis UMKM yang rentan. Singkatnya tipologi pertama tumbuh dengan kualitas rendah. Adapun tipologi kedua adalah jenis UMKM yang melakukan inovasi. 

Perubahan segmen pasar, bentuk, rasa, dan tampilan telah menjadikan mereka ek sis. Usaha-usaha angkot yang memakai sistem digital telah secepat kilat pertumbuhannya. Saat bersamaan angkot yang tidak ada inovasi pelan-pelan tumbang dan mati suri. Demikian juga pada dunia fesyen. Mereka yang masuk dengan berbagai inovasi (termasuk inovasi harga) akan lebih eksis. 

Mereka yang tidak melakukan inovasi akan mudah gulung tikar, apalagi tidak memperhitungkan efisiensi dan peran pesaing. Produk-produk pertanian mudah masuk ke pasar ekspor ketika mereka melakukan inovasi. 

Katakan produk kopi lokal, ketika ada inovasi budi daya, tanpa pupuk, inovasi pengolahan melalui pemisahan biji berkualitas, dan pencapaian kekeringan yang pas menurut selera pasar, maka me reka bisa masuk ke pasar in ternasional dengan mudah. Kata kuncinya inovasi merupakan sebuah faktor produksi yang tidak bisa terelakkan. Fung sinya mesti diperbesar dalam memperkuat eksistensi dari UMKM. 

Invasi dan Inovasi 

Riset-riset di perguruan ting gi (PT) selama ini lebih banyak berupaya masuk kekajian ilmiah. Di dalamnya problem UMKM dijawab dengan menemukan berbagai faktor peubah untuk menjelaskan bagaimana problem yang dihadapi UMKM terjawab. Jawaban secara saintifik tentu sangat perlu. Namun dia tidak hanya berada pada pemahaman ilmiah dan berhenti di situ. 

Tahapan setelah itu adalah bagaimana menggunakan hasil kajian ilmiah sebagai dasar untuk melakukan “perubahan” dalam skala laboratorium, uji coba, rekayasa, dan sejenisnya. Proses yang disebut sebagai invasi teknologi, sedemikian rupa sehingga hasil uji coba dalam skala laboratorium, usaha, dan uji coba sangat bermanfaat untuk dijadikan dasar dalam proses pengembangan produk UMKM berikutnya. 

Tahapan invasi ini masih sangat terbatas. Baru dilakukan baik oleh dunia PT maupun lem baga riset dan pengembangan pada perusahaan-perusahaan yang ada. Proses invasi tidaklah datang dengan mudah begitu saja. Pada saat masyarakat belum menyukai ilmu pengetahuan atau masyarakat tidak terbiasa menemukan inovasi, diperlukan perjalanan dan pembentukan proses untuk menuju ke arah masyarakat suka akan pembaruan dan inovasi. 

Invasi bisa saja pada skala kecil. Sedikit berubah namun pas diperlukan oleh masyarakat. Diperlukan tes selera konsumen. Jika produk teknologi tinggi, dapat dipahami invasi produk bisa dalam skala biaya yang mahal. Tidak mudah menemukan dan menghasilkan dengan proses invasi. Jika produk barang dan jasa sudah dikelola oleh dunia usaha dengan inovasi baru, unsur teknologi sudah dapat dicatat sebagai faktor produksi baru. 

Lomba Inventor 

Pemerintah daerah, untuk berbagai bidang kefungsiannya, dapat menyelenggarakan dan mendorong agar para inventor lahir. Tidak saja dari perguruan tinggi setempat, tetapi juga perlu didorong dari masyarakat-masyarakat tempatan. Menemukan kekuatan baru dan mengombinasikan inisiasi pemda, dunia PT, dan dunia usaha/industri adalah mutlak diperlukan. 

Dalam skala bulanan, kegiatan inventor sebenarnya dapat dilakukan secara meriah di tingkat pemerintah daerah. Dimulai dengan desain yang menarik perlombaan inventor. 

Dimulai dengan membentuk dewan juri, penyediaan dana murah untuk mereka yang sudah skala kesiapan teknologinya technologically readiness level (TRL-9) dan pada saat bersamaan bisa menawarkan mana di antara pemenang UMKMnya mendapatkan pem biayaan dengan dana murah untuk melakukan penetrasi pasar. 

Upaya ini tidak sekadar gelaran teknologi tepat guna (TTG) atau sejenisnya, tetapi upaya menyelenggarakan berba gai lomba produktif dan inovatif bagi inventor-inventor yang ada di daerah-daerah. Ketika para inventor memang meyakinkan baik dari bisnis maupun teknis, ketika itu pro ses keberadaan mereka, pengurusan izin dan penyediaan modal dari kredit murah dapat dibantu melalui sebuah sistem yang mudah dan lebih intensif oleh pemerintah setempat. 

Hanya dengan cara dilakukan secara berulang dan terarah, inovasi akan dilahirkan oleh inventor-inventor yang mau mengorbankan diri mereka dalam menghasilkan rekayasa produk barang dan jasa. Me reka akan masuk kemudian pada kelompok di mana tipologi tumbuh dan berkembangnya UMKM akan menguasai pasar dan kuat tampil dengan cara baru. 

ELFINDRI 

Profesor Ekonomi SDM Universitas Andalas dan Sekretaris Majelis Riset DPT Kemenristekdikti 

sindonews.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :