Jalan Terjal Menembus Pasar Global

  • Kategori UKM Desa --
  • Senin, 11 September 2017 12:26
Jalan Terjal Menembus Pasar Global

TRENGGALEK - KEDUA tangan Suwandi begitu cekatan mengikat kaki kursi yang terbuat dari bambu. Kaki kursi tidak diikat menggunakan karet atau tali, melainkan dari irisan kulit terluar bambu. Sesekali dia memperkuat ikatan tersebut dengan menggunakan mesin stapler.

Dalam sehari, ayah satu anak ini bisa menyelesaikan ikatan sebanyak tiga unit kaki kursi. Untuk satu kursi, Suwandi mendapat upah sebesar Rp25.000. Dia bekerja mulai dari pagi hingga sore. Lelaki bertubuh kurus ini mengaku tertarik terjun ke dunia industri kerajinan lantaran pekerjaannya ringan. Pendapatan juga lumayan dan mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

Sudah hampir 10 tahun terakhir ini pria berusia 42 tahun tersebut bekerja di 'Bambu Indah Craft', salah satu usaha kecil yang bergerak di bidang kerajinan anyaman bambu. Lokasinya berada di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Trenggalek, Jawa Timur. 

Di unit usaha milik Soekatno tersebut, Suwandi merupakan pekerja spesialis ikatan bambu. "Saya tidak hanya mengikat kaki kursi, tapi juga kerajinan bambu lain yang memang butuh diikatkan untuk memperkuat sambungan," katanya sembari merapikan ikatan.

Bambu Indah Craft dirintis Soekatno sejak tahun 1992. Pria berusia 58 tahun tersebut memilih usaha kerajinan dari bambu karena bahan bakunya melimpah. Di sisi lain, tidak butuh permodalan yang cukup besar untuk memulai usaha. Berkat kegigihannya, produknya sudah merambah pasar luar negeri seperti Brunei Darussalam dan Korea Selatan. 

"Dalam sebulan rata-rata minimal saya bisa mengirim satu kontainer. Nilainya di kisaran Rp50-an juta," ujar pria yang rambutnya sudah mulai memutih ini.

Ada ratusan jenis kerajinan yang dihasilkan dari rumah produksi Soekatno ini. Mulai dari tudung saji, tempat lampu, basket, tempat minum air mineral hingga mainan kuda lumping. Bisa dikatakan, segala macam perlengkapan rumah tangga, selama bisa dibuat dengan menggunakan bahan dari bambu, bisa dikerjakan oleh Soekatno. 

Dalam menjalankan bisnisnya, pria yang sejak kecil sudah belajar menganyam bambu ini dibantu 50 orang pekerja. Mereka adalah warga lokal. "Kerajinan dengan menggunakan bahan bambu ini sudah warisan turun temurun. Dari dulu di kampung kami ini sudah terbiasa membuat kerajinan dari bambu," kata Soekatno, Sabtu (9/9/2017)

Untuk mengembangkan bisnisnya, pria yang akrab disapa Pak Katno ini sering mengikuti kegiatan pameran di dalam maupun luar negeri. Pameran-pameran ini dia anggap sebagai pintu masuk untuk mencari pasar baru. Saat ini, dari semua produksi, sekitar 35% untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Sisanya untuk pasar domestik. 

"Memang sekarang secara total, ekspor mulai menurun. Tapi alhamdulillah untuk kerajinan bambu ini tidak ada penurunan. Justru permintaan terus naik. Ya rata-rata kenaikan permintaan tiap tahun mencapai 10%," ujar Soekatno sambil tersenyum.

Trenggalek merupakan daerah yang kurang mampu bersaing dan lambat maju secara infrastruktur dibanding kabupaten lainnya di Provinsi Jawa Timur (Jatim). Jarak dari ibukota Jatim, yakni Surabaya radiusnya mencapai 181 kilometer (km). Sekitar 60% daerah ini adalah pegununan dan perbukitan. Kabupaten di ujung selatan Pulau Jawa ini memiliki jumlah penduduk 827.873 jiwa. Sekitar 49,2% warga Trenggalek adalah angkatan kerja. 

Artinya, setiap satu orang di usia produktif harus menanggung hidup satu orang lainnya. Enam dari sepuluh warga Trenggalek saat ini berprofesi sebagai petani. Separuh dari angka tadi adalah petani gurem yang memiliki lahan hanya setengah hektare. 

Berdasarkan data tahun 2011 saja ada 87.938 rumah tangga dinyatakan miskin. Keterbatasan infrastruktur mengakibatkan Trenggalek belum bisa terkoneksi dengan daerah tetangganya seperti Kediri, Tulungagung, dan Ponorogo. "Negara harus hadir untuk mengangkat derajat UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) di Trenggalek," ujar Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak.

Pemerintah menganggap saat ini UMKM berperan penting dalam mengentaskan masyarakat dari jurang kemiskinan. Di Jatim ada sebanyak 6,8 juta UMKM dan mampu menyerap sebanyak 11 juta tenaga kerja. Dari Rp1.800 triliun produk domestik regional bruto (PDRB) Jatim, sekitar 56% kontribusinya berasal dari sektor UMKM. Sedangkan secara nasional, jumlah pelaku sektor ini mencapai 55 juta unit dengan menyerap 100 juta lebih tenaga kerja. "Untuk memajukan UMKM, perusahaan besar seperti BUMN harus ikut membantu memfasilitasi agar UMKM bisa berkembang," pinta Emil.

Selain keterlibatan BUMN, menurut Emil, pembinaan dari pemerintah terhadap pelaku UMKM harus terus-menerus dilakukan. Ini dilakukan agar secara kualitas dapat bersaing dengan produk-produk yang dijual di ritel besar. 

Permodalan memang penting, namun ketika tidak ada pembinaan tentang tata cara membuat produk yang bermutu, produk UMKM tidak akan mampu terserap di pasar, baik pasar domestik maupun ekspor. "Terus terang saya tidak banyak membangun infrastruktur jalan untuk menggerakkan perekonomian. Sebab bagi saya pergerakan ekonomi ditunjang dari kualitas pelaku usaha (UMKM). Makanya saya terus memperkuat pembinaan pada mereka (UMKM)," pungkasnya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, nilai ekspor Januari sampai Juli tahun 2017 mencapai USD10,9 miliar, turun 2,95% dibanding ekspor periode yang sama tahun 2016 yang mencapai USD11,2 miliar. Nilai ekspor di bulan Juli mencapai USD1,5 miliar, naik 14,92% dibanding Juni yang mencapai USD1,3 miliar. 

Dari sisi komoditi, ekspor migas selama Januari sampai Juli mencapai USD689,72 juta, naik 31,11% dibanding periode yang sama tahun 2016 yang mencapai USD526,05 juta. Di periode ini, ekspor nonmigas, termasuk di dalamnya produk kerajinan, mencapai USD10,2 miliar turun 4,62% dibanding periode yang sama tahun 2016 yang mencapai USD10,7 miliar. 

Produk dari Jatim yang banyak diekspor adalah perhiasan, tembaga, lemak dan minyak hewan, serta kayu. Negara tujuan ekspor produk nonmigas yang terbesar adalah Jepang, diikuti Amerika Serikat dan Tiongkok. Sedangkan untuk negara ASEAN tujuan ekspor adalah Malaysia, diikuti Singapura, Thailand dan Vietnam. Sementara untuk negara Uni Eropa tujuan ekspor adalah Belanda, Jerman dan Italia.

Di sisi lain, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim menganggap pameran menjadi pendorong bagi kemajuan usaha, salah satu UMKM. Sayangnya, saat ini even pameran, khususnya yang berskala besar, masih jarang diadakan. Padahal, ini merupakan sarana efektif guna mempromosikan produk-produk tertentu. 

Frekuensi pameran, khususnya di kota besar seperti Surabaya, perlu ditambah. Bila perlu tiap bulan ada pameran di semua daerah, baik di Surabaya maupun di kota-kota lain di Jatim. "Pameran merupakan sarana promosi yang efektif karena mempertemukan langsung produsen dengan konsumen. Jika sudah bertemu, jualan akan lebih mudah,"ujar staf ahli Kadin Jatim Jamhadi.

Terpisah, Senior Business Officer Chief Jatim Rudy Fang menilai, produk UMKM Jatim belum siap bersaing di pasar internasional. Pasalnya, sebagian besar produk dari sektor ini belum mengantongi sertifikasi ekspor dan diakui internasional. 

Tak hanya itu, lanjut dia, untuk salah satu sulitnya produk UMKM masuk ke pasar ekspor akibat rumitnya aturan dari pemerintah Indonesia. Seharusnya, yang diberi lisensi ekspor tak hanya perusahaan besar. Produk UMKM juga berhak untuk mendapatkannya. "Selain itu, untuk produk makanan minuman yang akan diekspor, selain lisensi juga harus mengantongi sertifikat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Itu belum termasuk terbentur persyaratan teknis dari luar negeri," katanya.

sindonews.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :