RI Produsen Beras No.3 Dunia Tapi Harganya Mahal, Kok Bisa?

  • Kategori Ekonomi --
  • Senin, 19 Juni 2017 09:38
RI Produsen Beras No.3 Dunia Tapi Harganya Mahal, Kok Bisa?

Jakarta - Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lain sesama produsen beras, harga beras di Indonesia relatif lebih mahal. Selain itu, harga makanan paling pokok penduduk di tanah air ini ternyata juga masih lebih mahal ketimbang harga rata-rata beras internasional.

Data Badan Pangan Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) merilis harga beras di Indonesia dengan harga beras rata-rata internasional di 2016 lalu. Harga beras dalam negeri US$ 1 /kg, sedangkan harga beras internasional hanya sekitar US$ 0,4 /kg.

Sebagai pembanding, harga di sejumlah negara penghasil beras ASEAN seperti Kamboja adalah US$ 0,42/kg. Harga beras di Thailand US$ 0,33/kg, Vietnam US$ 0,31/kg. Lalu harga beras di Myanmar bahkan US$ 0,28/kg.

Beberapa negara yang selama ini jadi eksportir beras dunia seperti India, juga memiliki harga beras yang lebih murah yakni US$ 0,48/kg, Bangladesh US$ 0,46/kg, Pakistan US$ 0,42/kg, dan Sri Lanka US$ 0,50/kg.

Indonesia saat ini tercatat sebagai negara penghasil beras terbesar ketiga di dunia dengan produksi gabah sebesar 70 juta ton, dengan konversi menjadi beras sekitar 39 juta ton beras, dengan kebutuhan rata-rata beras per bulan 2,67 juta ton.

Indonesia Representative Assistant Food and Agriculture Organization (FAO), Ageng Herianto, mengatakan lebih mahalnya harga beras ketimbang negara produsen lain di ASEAN tersebut lantaran ongkos produksi padi yang tinggi, khususnya karena sempitnya kepemilikan lahan petani.

"Mahal karena komponen ongkos sewa lahan terutama. Itu sangat tinggi, karena banyak petani enggak punya lahan, jadi dia harus sewa, atau punya lahan tapi sedikit. Jatuhnya di ongkos produksi padi yang mahal, jadinya harga jual relatif lebih mahal," jelas Ageng kepada detikFinance, Minggu (18/6/2017).

Diungkapkannya, pola lahan di Indonesia yang sifatnya tersebar dan sempit membuat biaya produksi padi di Indonesia kurang efisien. Selain itu, basis produksi beras di Indonesia juga terlalu bergantung pada Pulau Jawa.

Hal ini berbeda dengan sistem budidaya di negara-negara Lembah Sungai Mekong seperti Thailand, Myanmar, dan Vietnam yang memiliki skala tanam sangat luas dengan kontur tanah yang datar, infrastruktur seperti jalan dan irigasi yang baik, mekanisasi pertanian yang lebih luas, dan pasca panen yang lebih baik.

Di Vietnam, bahkan penguasaan tanah dilakukan negara, sehingga pengaturan penanaman padi diatur sangat ketat, terlebih hampir sangat minim terjadinya konversi lahan pertanian sebagaimana yang banyak terjadi di Indonesia.

"Sawah di negara-negara produsen beras besar di ASEAN itu lahannya flat jadi satu. Kita lahannya kecil-kecil, sehingga kurang efisien. Produktivitas memang kita tinggi, tapi ongkos produksinya lebih mahal," ungkap Ageng.

"Vietnam itu lahan dikuasai negara, sehingga tidak boleh ada perubahan atau konversi. Wajar lahannya tetap luas. Sedang di kita kepemilikan pribadi petani, kepemilikannya kecil, sudah begitu semakin sempit," tambahnya.

Selain permasalahan lahan, komponen lain yang menciptakan biaya tinggi pada petani-petani di Indonesia yakni penggunaan pupuk yang tinggi.

"Tentu kemudian pupuk, karena lahan petani terbatas di Indonesia, untuk mengejar produksi yang tinggi supaya nutup (balik modal), pengunaan pupuknya tinggi," terang Ageng.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan mahalnya harga beras Indonesia tak hanya karena mahalnya ongkos produksi padi petani dalam negeri, melainkan juga karena tingginya marjin dalam tata niaga beras.

"Mahal berasnya Indonesia juga karena disparitas harga yang tinggi dari produsen atau petani hingga ke konsumen. Marjin di tata niaga tinggi. Bahkan disparitasnya ini bisa hampir 100%. Harga beras yang kita beli di pasar harganya Rp 11.000/kg, di petani bisa hanya Rp 6.000/kg," ucap Enny.

Tata niaga perberasan yang panjang dan kurang efisien ini jadi kontributor dominan mahalnya harga beras di Indonesia. Kemudian yakni pengelolaan pasca panen petani padi di Indonesia yang masih sangat tradisional. Penanganan padi pasca dipanen yang masih sangat sederhana, membuat banyak panen padi yang hilang (loss) cukup besar.

"Yang tidak bisa dilupakan itu loss dari pasca panen. Kita kan tahu kalau petani panen jemurnya sederhana, mesin perontoknya seadanya, ini kan mempengaruhi ke jumlah loss padi, kemudian juga pengaruh ke kualitas, dalam hal ini tingkat pecahnya," terang Enny.

Namun demikian, beberapa negara lain di Asia memiliki harga beras yang lebih mahal ketimbang Indonesia, seperti Jepang yang harga berasnya US$ 4,11/kg, Filipina US$ 0,82/kg, China US$ 0,91/kg, Korea Selatan US$ 1,57, Laos US$ 1,01/kg, Nepal US$ 1,03/kg, Arab Saudi US$ 2,16/kg, dan Palestina US$ 1,95/kg. (idr/wdl)

detik.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :