Pupuk Kimia Rusak Sawah, Hampir 50 Persen Sawah di Limapuluh Kota Tercemar

  • Kategori Ekonomi --
  • Jumat, 21 April 2017 11:39
Pupuk Kimia Rusak Sawah, Hampir 50 Persen Sawah di Limapuluh Kota Tercemar

LIMAPULUH KOTA, HALUAN – Penggunaan pupuk kimia ternyata bisa merusak sawah dan ekosistemnya. Seperti terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota. Hampir 50 persen areal sawah sudah rusak dan tercemar akibat penggunaan pupuk kimia puluhan tahun. Akibatnya, zat hara dan kualitas tanah menurun.

Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holticultura dan Perkebunan Kabupaten Limapuluh Kota, Aprizul Nazar, selain terjadinya kerusakan tanah persawahan, juga pencemaran air di sekitar area sawah. Bahkan ekosistem di sawah seperti belut, ikan, cacing dan katak sudah turun populasinya.

Dikatakan Aprizul Nazar, dari 23 ribu hektare lebih sawah di Kabupaten Limapuluh Kota, separuhnya sudah rusak dan tercemar akibat penggunaan pupuk urea yang telah berlangsung puluhan tahun.

“Jika zat kimia terus ditebar di atas tanah, pastinya tanah tersebut akan tercemar. Jika sudah seperti ini, kualitas tanaman akan menurun. Termasuk ekosistem yang ada diareal persawahan seperti belut, ikan, cacing dan katak. Padahal ekosistem ini juga bisa membantu produktivitas padi yang ditanami di sawah,” kata Aprizul kepada Haluan, Rabu (19/4).

Ia juga mengatakan solusi untuk mengembalikan kualitas tanah di sawah ini tidak lain kembali ke pupuk organik atau pupuk alami. Di sekitar sawah, banyak terdapat bahan untuk diolah menjadi pupuk organik. Solusi ini juga bisa mengirit biaya petani dalam bercocok tanam.

“Sudah ada sebagian kecil petani yang sadar akan hal ini dan mau beralih ke pupuk organik. Mereka memanfaatkan bahan alami saja untuk pupuk seperti kotoran ternak, dedaunan dan ampas kayu. Jika mau beralih ke pupuk organik, dipastikan hasil panen petani akan lebih berkualitas dan jauh lebih irit,” katanyaUntuk mendorong peralihan pupuk organik ini, Pemkab Limapuluh Kota sudah menyediakan 27 unit mesin pengolahan pupuk organik yang akan dibagikan ke kelompok tani di 27 nagari.

“Setiap mesin mampu memproduksi ratusan karung pupuk organik. Namun, produksi tetap membutuhkan bahan baku pupuk untuk diolah. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan pupuk petani satu nagari,” katanya.

Jika hasil pengolahan pupuk, petani bisa mengekspor pupuk organik miliknya ke luar daerah dan pemasaran akan dibantu oleh Pemkab Limapuluh Kota.

“Kami akan membentuk asosiasi petani sadar pupuk organik untuk mengalihkan petani dari pupuk kimia ke pupuk organik. Jika produksinya berlebih, nanti pemkab bersama asosiasi ini yang membantu mencari pemasarannya,” tuturnya. (h/ang)

sumber : harianhaluan.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :