Masih Banyak Peluang untuk Perempuan di Industri Kreatif

  • Kategori Ekonomi --
  • Selasa, 13 Februari 2018 11:40
Masih Banyak Peluang untuk Perempuan di Industri Kreatif

Peluang untuk perempuan di industri kreatif terbilang masih banyak. Salah satunya, menurut hemat desainer dan pembina industri kreatif Amy Atmanto, para perempuan bisa berkarya di bidang fashion.

Dalam rilis yang diterima Kompas.com kemarin, Amy yang menjadi juri pada pergelaran Festival Toleransi Rakyat oleh Wahid Foundation pada Jumat pekan lalu mengatakan bahwa perempuan dari wilayah perdesaan bisa memulai industri kreatif tersebut.

"Ke depan saya rasa orang di daerah tidak lagi dalam bayangan kita sebagai ibu-ibu yang tertinggal. Mungkin saat ini mereka beginner(pemula) tapi suatu saat mereka akan ke tahap advanced (lanjut)," kata Amy.

Amy yang juga pemilik Rumah Internet Atmanto (Riat) untuk para penyandang disabilitas yang letaknya di kawasan Jakarta Selatan itu memberikan apresiasi kepada para perempuan perdesaan yang ikut ambil bagian pada pertunjukan fashion dan kemampuan berbicara di depan umum itu.

Ia mengatakan bahwa pemenang pertama lomba, Qoriatul Azizah asal Batu, Malang, Jawa Timur, misalnya, mengaku menjahit sendiri busana yang dipakai untuk lomba. "Ini luar biasa," katanya.

Selain juara pertama Qoriatul Azizah asal Batu, Malang, Jawa Timur, lomba fesyen Festival Toleransi Rakyat pada Jumat (9/2/2018) menobatkan empat juara lainnya yakni Maria Sendi asal Malang sebagai juara kedua, Anita Sari asal Malang sebagai juara ketiga, Siti Fatimah asal Malang sebagai juara keempat, dan Galih Nur asal Klaten (Jawa Tengah) sebagai juara kelima.

Perempuan

Catatan terkumpul oleh Kompas.com menunjukkan bahwa dengan jumlah yang cukup besar, kaum perempuan di Indonesia diperhitungkan sebagai penggerak ekonomi modern. Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah pada lamannya depkop.go.idmencatat ada sekitar 46 juta lebih pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dari jumlah itu, 60 persennya adalah perempuan.

Sementara itu, dari laman Kompas.id sebagaimana data pada Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2014 adalah Rp 784,82 triliun dan pada 2015 menjadi Rp 852 triliun atau meningkat 8,6 persen.  
 
Sub-sektor kuliner tercatat berkontribusi sebesar 41,69 persen, kemudian fashion sebesar 18,15 persen, dan kriya sebesar 15,70 persen. Selain itu, industri film bertumbuh 10,28 persen, musik 7,26 persen, seni/arsitektur 6,62 persen, dan game tumbuh 6,68 persen.

Tiga negara tujuan ekspor komoditas ekonomi kreatif terbesar pada 2015 adalah Amerika Serikat 31,72 persen, Jepang 6,74 persen, dan Taiwan 4,99 persen. Walau bertumbuh, memang masih ada yang harus diperhatikan dalam pengembangan ekonomi kreatif. Salah satunya ekosistem bisnis dan investasi, di samping juga infrastruktur penunjang kegiatan.

Karena besarnya potensi ekonomi kreatif, pemerintah tidak ragu untuk memberikan bantuan permodalan. Sektor ini dinilai paling memberi kesempatan kerja kepada anak-anak muda, demikian juga khususnya kaum perempuan.

Ditinjau dari status jender, 62,84 persen tenaga kerja Indonesia pada 2015 adalah laki-laki. Sisanya atau 37,16 persen adalah perempuan. Namun, ekonomi kreatif justru membalik fakta itu. Berdasarkan data Bekraf, perempuan mendominasi ekonomi kreatif, yaitu 53,68 persen. Sisanya sebesar 46,52 persen adalah laki-laki.

kompas

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :