Dunia Harus Perhatikan Hutan Kaltara Rusak, Berakibat Bencana

  • Kategori Ekonomi --
  • Rabu, 6 Desember 2017 10:06
Dunia Harus Perhatikan Hutan Kaltara Rusak, Berakibat Bencana

TANJUNG SELOR – Masuk kawasan Heart of Borneo (HoB) atau jantung Kalimantan, hutan di Kalimantan Utara (Kaltara) punya arti penting bagi dunia. Dengan 70 persen wilayah yang masih berupa hutan, Kaltara memiliki nilai tawar bagi negara-negara pendonor.

Namun, perlu usaha ekstra untuk menjaganya, mengingat semakin banyak pelaku usaha yang ingin masuk ke Kaltara. Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara Syarifuddin mengatakan, dunia harus ikut memperhatikan keberadaan hutan di provinsi termuda ini.

Sebab, jika hutan di Kalimantan rusak akan menyebabkan kekacauan bagi dunia, terutama berkaitan dengan lingkungan. Pemprov Kaltara pun sudah berkomitmen menjaga kelestarian hutan.

Syarifuddin menjelaskan, Kaltara memiliki area konservasi yang sangat luas. Di antaranya, keberadaan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) yang mencapai 1,3 juta hektare. TNKM, kata dia, merupakan salah satu taman nasional terluas yang ada di Indonesia. Keberadaanya merupakan berkah yang harus dijaga oleh masyarakat.

“Dunia harus memperhatikan dan ikut menjaga hutan di Kaltara. Kalau tidak dijaga, dunia akan kacau. Karena hutannya tidak ada,” tuturnya, belum lama ini.

Salah satu perhatian dunia yang bisa diberikan, yakni pemberian bantuan dana untuk melakukan penelitian dan pelestarian hutan. Setiap tahunnya, milyaran rupiah bantuan luar negeri masuk ke Indonesia untuk sektor lingkungan hidup dan kehutanan. Untuk itu, diharapkan setiap tahun bisa semakin besar bantuan dari dunia untuk hutan di Indonesia, terutama ke Kaltara.

Hutan di Kaltara ke depan akan dikembangkan dengan konsep pemanfaatan hasil hutannya, bukan mengambil hasil hutan berupa kayu. Di antaranya, dijadikan wisata alam yang disukai oleh wisatawan mancanegara. Potensinya pun cukup besar, mengingat setiap tahun selalu ada wisatawan mancanegara yang berkunjung ke hutan Kaltara, khususnya ke TNKM.

“Sehingga hutan tetap terjaga, masyarakat bisa mengambil hasil hutan dengan tidak menebang pohon. Kalau hutan ditebang, akhirnya gundul dan bikin bencana,” ujarnya.

Kepala Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Nunukan Bastiang mengatakan, hutan di Nunukan cukup berisiko adanya pembalakan liar yang bisa mengganggu lingkungan, terutama terkait sumber bahan baku air bersih. Apalagi, letaknya yang berada di perbatasan dengan tiga unit wilayah (Nunukan, Lumbis dan Krayan) membutuhkan perhatian ekstra untuk pengamanannya.

“Itu menjadi tugas Polisi Kehutanan (Polhut) untuk pengamanan. Dan, kerja sama juga dengan Polres Nunukan,” ungkapnya.

Untuk menjaga hutan, pihaknya melakukan pembinaan dan fasilitasi kepada masyarakat sekitar hutan, baik yang perorangan, kelompok maupun koperasi yang memiliki hak pengelolaan hutan (Perhutanan Sosial). “Bentuk sinergi dengan masyarakat di antaranya dengan melegalkan mereka memanfaatkan hutan, asalkan tidak merusaknya,” terangnya. 

prokal.co

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :