Mengenal Lamahu, Desa Digital Pertama di Indonesia

  • Kategori Desa --
  • Selasa, 6 Juni 2017 13:21
Mengenal Lamahu, Desa Digital Pertama di Indonesia

Gorontalo - Sistem digital tak hanya di kota besar. Teknologi "melipat" ruang kini sudah di mana-mana. Sistem digital pun sangat mungkin diterapkan di kawasan pedesaan dengan menjadi desa digital.

Seiring perkembangan teknologi dan informasi, dengan telepon pintar kini masyarakat sudah bisa mengakses segala informasi dan kebutuhan dengan sekali "sentuh". Seperti yang dijumpai di Desa Lamuhu sebagai desa digital.

Konsep desa digital itu digagas jajaran aparat Desa Lamahu, Kecamatan Bulango Selatan, Bone Bolango, Gorontalo, dalam mengembangkan Command Center berbasis Android. Konsep Desa Digital ini pertama di Indonesia dalam pelaksanaan pemerintahan daerah.

Saat menapakkan kaki di Desa Lamahu, cuaca sangat menyengat. Lokasinya jauh dari pusat keramaian kota. Permukiman rumah warga yang berjejer di pinggiran jalan menjadi pemandangan yang menghiasi wajah pemekaran Desa Huntu itu. Untuk menjangkau pusat kantor desa harus menembus jalan kecil di antara pertengahan lahan persawahan warga.

Namun jangan dipandang sebelah mata. Meski wajah Lamahu terkesan layaknya kawasan pedesaan lain, tapi Desa Lamahu kini menjadi pilot project desa digital pertama di Indonesia lewat Command Center.

Bagi kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, Command Center memang tak lagi asing di telinga. Command Center merupakan sebuah gagasan pelayanan respons cepat pemerintah yang berbasis Android. Di Desa Lamahu sendiri mereka lebih mengembangkan konsep Command Center dalam spektrum kedesaan.

Menurut Kepala Desa Lamahu, Hasan Hasiru, Command Center merupakan perwujudan cita-cita Pemerintah Desa Lamahu yang digagas bersama Karang Taruna dan Pemuda Elnino Center. Command Center dimaksudkan sebagai pusat pelayanan digital pemerintah desa yang banyak mendatangkan manfaat dalam melayani kebutuhan masyarakat.

Cara kerjanya, Command Center nantinya menjadi satu pusat sistem desa digital untuk memantau aktivitas sekaligus memberikan layanan masyarakat dalam satu desa. Konsep desa digital itu juga ditunjang dengan 32 tiang cerdas atau smart pole dengan dilengkapi CCTV, WI-FI, lampu otomatis, serta sensor cahaya dan gerak. Semua itu dipasang di sembilan titik pada kawasan pinggiran desa dan 23 titik lagi di permukiman rumah warga serta lahan pertanian.

Untuk memanfaatkan fungsi Command Center masyarakat yang memiliki smartphone berbasis Android harus memiliki aplikasi Panic Button di Playstore. Aplikasi Panic Button di dalamnya tersedia tiga pilihan, di antaranya layanan keamanan, kesehatan, dan pelayanan pengurusan berkas kependudukan atau keterangan surat izin.

Satu Tombol 

Dengan begitu ketika para pengguna aplikasi, dalam hal ini warga desa, kalau ada kejadian tindak kriminal maka warga hanya tinggal menekan tombol darurat pada aplikasi Panic Button itu. Seketika juga alarm akan berbunyi karena terintegrasi di smartphone Babinsa Babinkamtimas, aparat desa, dan kecamatan serta kepala Puskesmas.

"Jadi kalau ada pencurian tinggal langsung pencet saja tombol, maka direspons cepat warga dan aparat desa. Kalau pilih tombol layanan kesehatan pada aplikasi Panic Button itu berarti tandanya ada penanganan kesehatan yang segera ditangani, baik itu sakit, meninggal, atau ibu melahirkan," ujar Hasan.

Sementara kalau tekan tombol layanan pengurusan berkas, maka warga yang menekan secara otomatis itu akan muncul data lengkap kependudukannya yang telah di-input. Data kependudukan itu muncul dengan mode tampilan meliputi nama, letak GPS, dan identitas lainnya.

"Lalu tinggal dipenuhi saja apakah warga minta dibuatkan surat keterangan atau berkas kependudukan dan surat izin usaha," ujar Hasan.

Syamsu Panna sebagai tim ahli Command Center menambahkan, dengan Command Center ini, satu kontrol akan mencakup banyak layanan kebutuhan masyarakat, di antaranya layanan E-Siskamling, internet rakyat, sampai dengan Smart Village. Khusus tambahan, Command Center itu juga menyediakan WiFi gratis dengan kecepatan 10 mbps untuk warga desa.

"Untuk mengakses login internet itu maka setiap warga harus terlebih dahulu meng-input data kependudukannya berupa NIK dan password. Layanan itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan remaja yang selalu beralasan pergi keluar hanya demi ke warnet," ujar Syamsu.

Hasan dan Syamsu mengakui pembuatan Command Center ini masih tergolong jauh dari kesempurnaan. Pembuatannya butuh memakan waktu dan sulit. Sebab selain alat dan perangkat, dibutuhkan juga hal lain, misalnya software aplikasi dan basis data. Tak heran pembuatan desa digital ini memakan waktu berbulan-bulan.

liputan6.com

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :