Strategi Pembangunan - Bangun Infrastruktur Desa untuk Pacu Produktivitas Ubah Haluan Kebijakan Lebih Pro-Ekonomi Desa

  • Kategori Desa --
  • Rabu, 29 November 2017 17:11
Strategi Pembangunan - Bangun Infrastruktur Desa untuk Pacu Produktivitas Ubah Haluan Kebijakan Lebih Pro-Ekonomi Desa

RI kehabisan dana akibat terlalu mengandalkan konsumsi dan bergantung pada impor.
Kebijakan mematikan petani diteruskan, Indonesia bakal menjadi negara miskin.

JAKARTA – Tren pelemahan konsumsi dan utang luar negeri yang kian menumpuk hingga mencapai 343 miliar dollar AS (sekitar 4.630 triliun rupiah) mengindikasikan Indonesia telah kehabisan sumber dana untuk memacu pertumbuhan ekonomi tinggi.

Ini terjadi terutama akibat kebijakan yang bergantung pada impor, mematikan petani dan industri nasional, serta mengabaikan produktivitas nasional.


Untuk itu, pemerintah mesti segera memutar haluan kebijakan pembangunan nasional menjadi lebih berpihak pada sektor pertanian, ekonomi desa, dan industri nasional guna mengurangi kebergantungan tinggi pada impor pangan dan barang konsumsi yang menguras dana nasional.


Menanggapi hal itu, Guru Besar Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian UGM, Dwijono Hadi Darwanto, mengemukakan pengelolaan Dana Desa untuk pengembangan industri sekunder desa merupakan strategi efektif mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Sebab, desa yang dikelola secara modern akan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan.


“Pemilihan untuk membangun ekonomi desa secara modern sangat strategis di tengah anggaran pemerintah yang terancam habis untuk membayar utang dan terkuras untuk impor,” kata dia, saat dihubungi, Selasa (28/11).


Dwijono mengungkapkan selama ini devisa puluhan miliar dollar AS per tahun terkuras untuk impor, terutama pangan dan barang konsumsi, yang sebenarnya bisa dihasilkan oleh petani dan industri nasional.


“Akibat dari sistem seperti itu daya saing dimatikan, kita dimiskinkan oleh sistem yang tidak punya hati nurani rakyat. Kebijakan yang hanya melihat kepentingan politik sesaat lebih penting dari rakyatnya,” papar dia.


Padahal, menurut dia, kalau semua kekayan alam nasional disaring dengan kebijakan pangan, yaitu kemandirian pangan dan kebijakan pemerintah yang pro-ekonomi desa, dalam 10 tahun Indonesia bisa menjadi Negara Adi Daya Asia.


“Tapi, kalau sistem memiskinkan petani ini diteruskan, kita akan menjadi termiskin di Asia. Semua ini pilihan penguasa, mau dibawa ke mana nasib bangsa ini. Bila kita mau tegakkan Pancasila dan NKRI, seharusnya desa diberdayakan menjadi modern,” tukas Dwijono.


Seperti dikabarkan, sejumlah kalangan mengemukakan Dana Desa semestinya diprioritaskan untuk membangun infrastruktur desa agar memacu ekonomi desa tumbuh tinggi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang tinggi dan berkelanjutan.


Infrastruktur desa yang perlu dibangun, meliputi jalan desa, akses, dan jaringan transportasi hasil bumi desa, jaringan tower telekomunikasi dan sistem internet desa, serta fasilitas pergudangan dan pengeringan desa.


Selanjutnya, perlu juga dibangun sentra-sentra pasar desa modern yang dilengkapi cold storage dan silo untuk menampung hasil bumi dan peternakan desa, sebelum diproses menjadi komoditas yang bernilai tambah tinggi melalui industri sekunder desa.


Guna mengembangkan industri sekunder desa, diperlukan peran pemerintah untuk mengundang swasta nasional berinvestasi dan mendorong program Corporate Social Responsibility (CSR) di kabupaten-kabupaten.


Pengusaha didorong membangun pabrik pengolahan untuk memproses hasil bumi, peternakan, dan produk-produk desa. Ini juga termasuk proses pengepakan modern, sortir berbagai jenis produk, dan standardisasi kualitas.


Selain itu, swasta nasional juga diminta berperan aktif pada distribusi hasil pengolahan produk-produk desa secara nasional ke seluruh pasar di kota-kota dan pasar ekspor. Swasta bisa menjembatani peningkatan permintaan dan penawaran.


Membangun Akses


Sementara itu, Direktur Penelitian dan Pelatihan Ekonomika & Bisnis, FEB UGM, Bambang Riyanto, mengatakan untuk meningkatkan produktivitas desa salah satunya dengan membangun infrastruktur, dalam artian bukan hanya pembangunan fisik.


“Tapi membangun akses mereka, seperti pasar desa modern untuk meningkatkan nilai tambah dari apa yang mereka hasilkan. Kalau kita lihat, panen cabai melimpah, petani malah yang rugi karena harga jatuh. Ini disebabkan produk yang minim nilai tambah,” kata Bambang.


Menurut Bambang, pasar desa modern bisa membantu masyarakat lebih berdaya karena masyarakat perdesan sebenarnya punya potensi. “Hanya tadi yang kurang infrastruktur penunjang. Infrastruktur dalam arti bisnis,” kata dia.


Dia mengungkapkan petani semestinya bisa dihargai dan produknya punya nilai tambah. Sebagaimana mereka banting tulang, seharusnya berhak memperoleh laba, keuntungan,” kata Bambang. 

koran-jakarta

  • Bagikan :



  • Tambah Komentar :
    Komentar Anda :