40 Tahun Terisolir, Jalan Poros Buka Akses 7 Desa di Karangagung Banyuasin

Infrastruktur | DiLihat : 58 | Selasa, 06 Oktober 2020 | 17:16
40 Tahun Terisolir, Jalan Poros Buka Akses 7 Desa di Karangagung Banyuasin

PANGKALAN BALAIi – Bupati H. Askolani mewujudkan Impian masyarakat Kecamatan Karang Agung Ilir untuk memiliki jalan poros penghubung dan lepas dari status daerah terisolir selama kurun waktu 40 tahun. Jalan yang akan dibangun dengan menggunakan APBD tahun anggaran 2021 ini memiliki panjang sekitar 21 kilometer dan lebar 13,5 meter.


Jalan yang melintasi Taman Nasional Sembilang (TNS) sepanjang 4,5 km ini, akan membuka akses transportasi darat bagi masyarakat yang tinggal di tujuh desa yakni Desa Majuria, Desa Tabalajaya, Desa Karang Sari, Desa Sumber Rezki, Desa Jati Sari, Desa Mekar Sari dan Desa Sri Agung.

Dan langka pembangunan jalan semakin mudah, seiring dengan keluarnya izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dalam penggunaan Hutan Lindung Taman Nasional sembilang yang menjadi lokasi badan jalan poros.

Keputusan tersebut, Ditindaklanjuti dengan penandatangan Perjanjian Kerjasama Bupati Banyuasin H Askolani dengan Kepala Taman Nasional Berbak dan Sembilang Dirjen Konservasi SDA dan Ekosistem Kementerian LH dan Kehutanan RI Ir Pratono Suroso Msc di guest house rumah dinas Bupati Banyuasin, Senin (5/10/2020).

Turut hadir, Wabup H Slamet, Sekda HM Senen Har, Para Asisten,Kepala OPD terkait, Camat Banyuasin II, Camat Karang Agung Ilir dan Kades se Kecamatan Karang Agung Ilir.

Bupati Banyuasin H Askolani mengatakan dibangunnya jalan poros Karang Agung Ilir menuju Pelabuhan TAA Sungsang ini untuk membuka akses transportasi masyarakat sehingga tidak terisolasi seperti selama ini.

“Jalan poros ini mempermuda masyarakat kalau mau ke Palembang, hanya 10 menit sampai ke Pelabuhan TAA, dan ini sudah barang tentu membuka akses ekonomi bagi masyarakat KAI karena semua hasil bumi bisa dijual ke Palembang, “katanya.

Dan dengan adanya jalan poros tersebut, setidaknya untuk mengurangi angka kecelakaan speedboat yang sudah banyak memakan korban jiwa masyarakat Karang Agung Ilir.

” 40 tahun tidak ada jalan darat, kasian dan saya dan pakde slamet tidak mau kesusahan masyarakat terus berlanjut. Maka kami putuskan bangun jalan poros, “tandasnya.