Ini Dia Satu-satunya Kebun Entres Jambu Mete di Indonesia

Potensi Desa | DiLihat : 61 | Rabu, 30 September 2020 | 16:32
Ini Dia Satu-satunya Kebun Entres Jambu Mete di Indonesia

SULTRA - Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan tanaman perkebunan penghasil kacang mete.  Kacang yang diambil dari buah jambu mete ini memiliki kalori yang cukup tinggi, serta mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan serat. Kacang mete juga mengandung vitamin K, vitamin E, folat, dan vitamin B, kalsium, natrium, kalium, magnesium, fosfor, zinc, dan zat besi.

Pengembangan jambu mete sudah lama dilakukan di Indonesia terutama pada lahan marginal beriklim kering di wilayah Timur dan Barat Indonesia, hingga saat ini pengembangan tanaman jambu mete masih menggunakan cara generatif baik dari Kebun Induk maupun Blok Penghasil Tinggi.

Penggunaan benih generatif berupa biji memiliki kekurangan berupa penurunan sifat, karena jambu mete melakukan penyerbukan silang  dari pohon sendiri maupun pohon lain di sekitarnya, sehingga keturunannya bisa berbeda dengan kedua asal tetuanya.

Sejumlah faktor yang diperkirakan menjadi penyebab rendahnya produktivitas mete Indonesia antara lain penggunaan bahan tanaman asalan, serangan hama dan penyakit, serta manajemen kebun yang masih sederhana.

Upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman melalui penggunaan bahan tanaman unggul bermutu cukup berpeluang, karena inovasi teknologi dengan bibit sambungan (grafting) telah tersedia, walaupun tingkat keberhasilan yang masih bervariasi (Saefuddin, 2009).

Benih mete sambungan adalah teknologi penggabungan karakter unggul dari dua individu berbeda, yaitu individu untuk batang bawah yang mempunyai keunggulan sistem perakaran yang dalam dan mampu beradaptasi dengan baik di daerah pengembangan dan individu untuk batang atas (entres) yang mempunyai keunggulan produksi yang tinggi.

Oleh karena itu, dengan penggunaan benih grafting diharapkan akan diperoleh individu baru tanaman jambu mete dengan perakaran yang dalam dan telah beradaptasi baik di daerah pengembangan dan produktivitasnya tinggi dan stabil.

Di Indonesia terdapat satu-satunya kebun induk jambu mete yang berasal dari benih grafting, yaitu kebun induk jambu mete UPTD Perkebunan Walambenowite milik Dinas TPH Perkebunan Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, ini adalah keistimewaan pertama. Kebun induk tersebut secara bertahap ditanam atas anggaran Direktorat Jenderal Perkebunan pada tahun 2012 dan 2014.

Keistimewaan kedua, karena berasal dari benih grafting maka pada usia lebih dari 3 tahun kebun ini telah bisa ditetapkan sebagai kebun induk, berbeda dengan kebun jambu mete yang berasal dari biji harus memenuhi usia 10 tahun baru bisa ditetapkan sebagai kebun induk. 

Mengacu pada Kepmentan Nomor 327/Kpts/KB.020/10/2015 tentang  Pedoman Produksi, Sertifikasi, Peredaran dan Pengawasan Benih Tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale L.) maka kebun induk jambu mete UPTD Perkebunan Walambenowite milik Dinas TPH Perkebunan Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara ditetapkan sebagai kebun induk biji dan kebun induk entres pada tahun 2019.

Penetapan ini sesuai Keputusan Menteri Pertanian RI No.13/Kpts/KB.020/2/2019 tgl 1 Februari 2019 Tentang Penetapan Kebun Induk dan Kebun Entres Jambu Mete Varietas Populasi Muna di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara.

Adapun keistimewaan ketiga, selain sebagai satu-satunya kebun induk hasil grafting, kebun ini juga satu-satunya kebun entres jambu mete di Indonesia.

Pada saat penetapan kebun induk UPTD Perkebunan Walambenowite milik Dinas TPH Perkebunan Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara terbagi atas 2 kebun sumber benih mete, yaitu kebun sumber biji seluas 4 Ha, dengan potensi produksi benih gelondong sebanyak 765.022 gelondong per tahun, dan kebun sumber entres seluas 1,5 Ha dengan potensi produksi benih berupa entres sebanyak 260.945 entres per tahun.

Satu lagi yang menambah keistimewaan dari kebun induk jambu mete UPTD Perkebunan Walambenowite milik Dinas TPH Perkebunan Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara ini adalah kreativitas dari UPTD dalam memelihara kebun tersebut.

Seperti diketahui, anggaran negara terkait perawatan kebun sumber benih semua komoditas perkebunan di seluruh Indonesia tentu terbatas, untuk mengatasi hal tersebut UPTD Perkebunan Walambenowite bekerjasama dengan penduduk sekitar.

Masyarakat diizinkan untuk menanam nanas khas Kabupaten Muna yang bentuknya besar, berstektur kasar, manis dan berair di lahan kebun. Dengan syarat, piringan sekitar akar tanaman mete harus steril dari tanaman nanas agar perakaran tidak terganggu.

Tentu saja hal ini merupakan simbiosis mutualisme, karena : (1) Nanas yang dipupuk, secara tidak langsung pupuknya juga meresap ke dalam perakaran tanaman mete, (2) Rasa memiliki (self belonging) dari masyarakat sekitar akan lahan tersebut, membuat mereka serta merta menjaga keutuhan lahan, demi kelangsungan hidup mereka, dan (3) Lahan bersih dari gulma, karena saat penduduk merawat kebun nanas mereka sekaligus merawat kebun sumber benih jambu mete.

Ke depannya Direktorat Jenderal Perkebunan terus berupaya mengembangkan kebun sumber benih jambu mete yang bermutu agar produksi, produktivitas, dan mutu tanaman mete sebagai penghasil jambu mete kita terus meningkat.