Patin Perkasa, Patin Super Karya Indonesia

Inovasi Desa | DiLihat : 142 | Jumat, 25 September 2020 | 10:49
Patin Perkasa, Patin Super Karya Indonesia

TULUNGAGUNG - Nama ikan patin tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, khususnya penggemar ikan air tawar, di samping lele. Di pasar global, ikan patin dikenal dengan nama “Indonesia pangasius”.

Tahukah Anda jika kini telah lahir komoditas patin unggulan yang “luar biasa”? Komoditas tersebut dinamakan Patin Perkasa, singkatan dari Patin Super Karya Anak Bangsa, hasil inovasi riset Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Riset tersebut dilakukan oleh Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) melalui Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Salah satu lokasi riset berada di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Berbeda dengan patin biasa, Patin Perkasa memiliki bebagai keunggulan. Misalnya pertumbuhan lebih cepat 16,61-46,42%; produktivitas lebih tinggi 11,27–46,41%, rasio konversi pakan (FCR) lebih rendah 5,6-16,3 %; Harga Pokok Produksi (HPP) lebih rendah 4,45–17,92%; serta B/C ratio pembesaran lebih tinggi 14,71-48,48.

Peneliti BRPI Evi Tahapari menjelaskan latar belakang lahirnya Patin Perkasa ini. Menurutnya, sebelum Tahun 2010, perkembangan patin sangat heterogen di Indonesia. Pada umur yang sama, terjadi pertumbuhan yang berbeda-beda di berbagai lokasi di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan patin di Indonesia, masyarakat yang sudah bisa melakukan pemijahan sendiri menjadi tidak terkendalikan. Akibatnya terjadi penurunan genetik dan sejak pertama patin masuk ke Indonesia Tahun 1972 belum ada upaya untuk memperbaiki genetik tersebut.

Karena itu, menurut Evi, pada 2010-2017, ia bersama tim melakukan seleksi ikan patin, dengan benih yang berasal dari Sukamandi, Jambi, dan Palembang, sebanyak dua generasi. Hasilnya sangat bagus, yakni respon seleksi menunjukkan angka 38,86%, sudah memenuhi persyaratan respon seleksi minimal 30%.

Hasil uji lapangan ikan patin di empat lokasi, yaitu Tulungagung, Kuningan, Bandar Lampung, dan Sukamandi, menurutnya, ternyata memberikan berbagai keunggulan dibanding patin biasa yang selama ini terdapat di masyarakat. Ia dan tim menyebutnya sebagai ikan patin tumbuh cepat dan pada 2018 diterbitkan Surat Keputusan (SK) rilis dengan nama Patin Perkasa.

Setelah rilis SK tersebut, hasil riset ini perlu disebarluaskan ke masyarakat. BRPI melakukan riset pengembangan pembenihan di Subang dan pembesaran di Tulungagung pada tahun 2020. “Hasilnya waktu lebih cepat, pakan lebih hemat, dan harga pokok produksi lebih rendah,” ujar Evi pada panen Patin Perkasa, Kamis (24/9/20), di Tulungagung.

Disampaikan Supangat, pelaku usaha budidaya patin sejak Tahun 2010, yang kini menjadi Sekretaris Asosiasi Pengusaha Cat Fish Indonesia (APCI) Kabupaten Tulungagung, adanya Patin Perkasa ini sangat menguntungkan ia dan kelompok usahanya. Dirinya sangat bersyukur dengan adanya diseminasi hasil riset tersebut.

“Kami lakukan sampling setiap bulan. Untuk ukuran 6 cm, patin biasa membutuhkan waktu 1 bulan, sementara Patin Perkasa hanya 20 hari. Pada bulan pertama ini FCR patin biasa 0,5 sampai 0,6, sementara Patin Perkasa 0,4, artinya FCR lebih rendah itu lebih bagus. Pada saat panen di waktu 7 bulan ini di kolam saya, Patin Perkasa memiliki FCR 1,1, dengan berat rata-rata 8 ons, dan pakan 5.310 kg untuk 3.800 ikan. Sementara patin biasa FCR 1,5, dengan berat rata-rata 7 ons, dan pakan 30 kg untuk 20 kg ikan,” ujarnya.