KKP Kembangkan Industri Budidaya Ikan Gabus Sebagai Komoditas Unggulan Berbasis Lokal

Peluang Usaha | DiLihat : 104 | Kamis, 24 September 2020 | 15:33
KKP Kembangkan Industri Budidaya Ikan Gabus Sebagai Komoditas Unggulan Berbasis Lokal

MANDIANGIN – Produksi ikan gabus tahun 2015 mencapai 6.490 ton meningkat di tahun 2019 menjadi 21.987 ton. Kenaikan ini tentunya sangat mengembirakan. Di sisi lain, karena kebanyakan ikan gabus yang diproduksi dan dijualbelikan atau yang diekstrak untuk diambil albuminnya adalah berasal dari penangkapan di alam, sangat dikuatirkan kelestariannya.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto saat membuka Webinar Prospek Usaha Ikan Gabus Haruan Berkelanjutan, Selasa (22/9). “Penangkapan ikan gabus di alam secara terus menerus berakitbat pada penurunan populasinya di alam. Selain itu, ikan gabus akan menjadi langka karena stoknya berkurang”, sebut Slamet.

Ikan yang memiliki nama latin Channa striata ini menjadi komoditas yang bernilai ekonomis untuk kegiatan budidaya. Selain harganya yang tinggi berkisar Rp. 50 ribu hingga Rp. 80 ribu per kg, ikan gabus juga memiliki nilai tambah yaitu mengandung protein jenis albumin yang berfungsi meningkatkan daya tubuh.

“Saat ini UPT Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin sudah cukup lama berhasil dalam memijahkan dan membesarkan ikan gabus. Sehingga sudah saatnya kita mendorong peningkatan dan pengembangan ikan gabus kedepan sebagai komoditas unggulan berbasis lokal”, tutur Slamet.

Untuk itu kata Slamet, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mempunyai program-program pengembangan kedepannya untuk meningkatkan produksi ikan gabus yang berasal dari kegiatan budidaya.

“Pertama, kita akan memperbanyak usaha-usaha pembenihan skala rakyat. Kita akan galakkan pembenihan ini, karena benih merupakan salah satu yang utama dalam kegiatan perikanan budidaya sehingga kalau kita ingin mengembangkan budidaya ikan gabus ini maka produksi benih gabus juga harus ditingkatkan”, ujar Slamet.

Menurutnya, teknologi pembenihan ikan gabus ini telah dikuasai dengan baik sehingga masyarakat dapat mengembangkannya sebagai komoditas budidaya ekonomis. “Tidak diragukan lagi bahwa keperluan ikan gabus ini sangat luar biasa besar, bukan saja untuk dikonsumsi tapi juga untuk obat-obatan khususnya industri farmasi”, tambahnya.

Kedua, Slamet menjelaskan bahwa KKP tengah membuat kawasan-kawasan pembudidayaan ikan gabus yang berkelanjutan. “Jadi kita akan membuat kawasan ikan gabus ini. Tentu saja, nanti akan bekerja sama dengan asosiasi ikan gabus sehingga bisa memastikan hasil-hasil produksinya dapat terserap atau bisa diambil oleh asosiasi ini untuk dipasarkan”, tambahnya.

“Lalu ketiga, tentu saja kita akan membuat kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan sosialisasi terkait teknologi budidaya ikan gabus di masyarakat secara luas. Kita tingkatkan pembelajaran melalui pelatihan-pelatihan. Peningkatan pengetahuan bagi tenaga penyuluh juga perlu kita tingkatkan karena budidaya ikan gabus ini gampang-gampang susah”, terang Slamet.

Slamet menekankan bahwa segmentasi-segmentasi usaha juga menjadi strategi penting, karena ikan gabus ini perlu pemeliharaan dengan waktu tertentu untuk menjadikannya sebagai ikan konsumsi sehingga di sektor segmentasi budidayanya perlu galakkan.

“Kedepannya harapan kami, ikan gabus ini juga akan menjadi ikan andalan nasional khususnya dari jenis ikan-ikan lokal yang ada di Indonesia. Disamping ikan gabus, juga kita kembangkan ikan-ikan lokal lainnya seperti papuyu, belida, tor soro (dewa) dan jenis ikan lokal lainnya”, tutur Slamet.

Slamet mengharapkan dengan webinar semacam ini dapat menambah wawasan serta perluasan pengetahuan tentang teknologi-teknologi budidaya yang sedang berkembang sehingga masyarakat dapat mencontoh bisa melakukan produksi budidaya secara mandiri.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPBAT Mandiangin, Andy Artha Octopura mengatakan bahwa ikan gabus memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena mempunyai kandungan albumin dan juga menjadi salah satu favorit untuk dikonsumsi di pasar domestik, khususnya di pulau Kalimantan.

“Saat ini terjadi penurunan daya dukung perairan dan proses penangkapan ikan gabus yang tidak ramah lingkungan, sehingga mempengaruhi stok ikan gabus di perairan umum di Indonesia, dimana terjadi penurunan yang cukup drastis”, kata Andy.

Andy juga berpendapat bahwa pengembangan teknologi budidaya daya ikan gabus merupakan kata kunci dan juga faktor kunci untuk mengatasi permasalahan-permasalahan ini di masa mendatang terutama dalam penyediaan stok ikan gabus.

“Di BPBAT Mandiangin telah mampu mengembangkan teknologi budidaya ikan gabus mulai dari proses pembenihan, proses pembesaran dan desiminasi serta implementasi teknologi di masyarakat sejak tahun 2011. Sehingga ini kesempatan untuk menjadikan ikan gabus sebagai komoditas unggulan lokal”, sebut Andy.

BPBAT Mandiangan berencana adanya percontohan pengembangan budidaya ikan gabus berbasis klaster kawasan di Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dalam rangka mempercepat desiminasi teknologi budidaya ikan gabus di masyarakat. Saat ini sedang dijajaki kerja sama antara BPBAT Mandiangin dengan pemerintah daerah, BUMN, pembudidaya ikan dan sektor swasta.

Saat ini pengembangan teknologi budidaya ikan gabus sendiri sudah mengarah pada pemanfaatan teknologi bioinformatika. Ketua Masyarakat Ikan Gabus Indonesia, Yunan Rhedian menyebutkan asosiasinya tengah mengembangan budidaya gabus dengan memanfaatkan teknologi artificial intelligence berbasis IoT (Internet of Things).

“Kita gunakan IoT khususnya untuk merekayasa sistem budidaya gabus dengan teknologi bioflok terutama dalam hal manajemen air yang terintegrasi dengan aplikasi”, kata Yunan.

Yunan mengatakan Masyarakat Ikan Gabus Indonesia (MIGI) adalah asosiasi yang fokus dalam pengembangan budidaya ikan gabus dari hulu sampai hilir, dimana hilirnya adalah produk ikan gabus yang mampu diserap secara terukur dan mempunyai nilai ekonomis serta dapat bermanfaat bagi masyarakat.