KKP Latih Masyarakat Produksi Magot dan Pakan Buatan

Poros Tani | DiLihat : 85 | Kamis, 24 September 2020 | 05:25
KKP Latih Masyarakat Produksi Magot dan Pakan Buatan

JAKARTA - Tingginya harga pakan pabrikan masih menjadi salah satu persoalan dalam budidaya perikanan saat ini. Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya menekan biaya produksi budidaya ikan di masyarakat. Salah satunya melalui inovasi magot dan pakan buatan.

Sejalan dengan itu, KKP melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Tegal bekerjasama dengan Komisi IV DPR RI menyelenggarakan pelatihan budidaya magot bagi masyarakat Kab. Indramayu, Jawa Barat, pada 21-22 September 2020. Pelatihan diikuti oleh 100 peserta yang mayoritas merupakan pembudidaya ikan lele dan nila setempat.

Di saat yang bersamaan, BP3 Ambon turut menyelenggarakan pelatihan membuat pakan ikan buatan bagi masyarakat dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Sebanyak 298 peserta mengikuti pelatihan ini secara daring.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja menyebut, pakan memiliki kontribusi biaya operasional paling besar pada produksi budidaya ikan yakni sekitar 60-70%. Untuk itu, KKP terus berupaya mencari pakan alternatif sehingga masyarakat bisa membuat pakan mandiri dari bahan baku yang tersedia di sekitarnya.

“Dari situ nanti biaya produksi budidaya bisa ditekan,” ucapnya.

Magot adalah larva dari lalat buah/sayur yang disebut sebagai black soldier fly (BSF). Magot dapat diternakan dengan mudah menggunakan sisa-sisa limbah organik (rumah tangga) seperti buah, sayur, dan sisa-sisa makanan sebagai medianya.

“Kita bisa kumpulkan sisa-sisa limbah organik, kemudian potong dan uraikan. Lalu, siapkan telur-telur magot di situ dan dia akan tumbuh berkembang. Setiap 2 minggu kita akan panen. Sebagiannya dapat kita besarkan menjadi lalat sehingga akan berbiak terus,” jelas Sjarief.

Ia menambahkan, kandungan protein yang terdapat dalam magot pun cukup tinggi yakni sekitar 40-45%. Hal ini menjadikannya ampuh untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki kualitas warna ikan. Selain itu, magot juga dapat mempercepat pertumbuhan ikan dan kematangan gonad.

Sjarief mengatakan, budidaya magot yang memanfaatkan limbah organik juga berdampak baik bagi lingkungan. Cara ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi permasalahan sampah.

Tak hanya itu, hasilnya dapat menjadi pendapatan sampingan bagi pembudidaya ikan.

“Telur magot, pupa, pupuk organik cair, dan kompos yang dihasilkan dari budidaya magot dapat digunakan sendiri ataupun dijual sebagai pendapatan tambahan bagi kita. Jadi, sebetulnya budidaya magot ini bisa memberikan banyak manfaat,” pungkasnya.

Untuk itu, ia mendorong BP3 Tegal agar bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk menyalurkan kumpulan sampah dari pasar ke para pembudidaya magot. Dengan begitu, bahan baku magot pun dapat terus berkelanjutan.

Produksi magot sebagai pakan alternatif ini sejalan dengan amanat Presiden Joko Widodo kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo untuk mengembangkan perikanan budidaya. Sjarief mengatakan, produksi magot menjadi salah satu langkah untuk menciptakan kawasan budidaya terintegrasi di berbagai daerah ke depan.

“Jadi nanti ada kluster hatchery, produksi magot, pembesaran, dan pengolahan ikan di setiap wilayah. Sehingga keseluruhan kluster ini akan menjadi kawasan yang mandiri,” pungkasnya.

Anggota Komisi IV DPRI RI Ono Surono menyampaikan apresiasinya kepada KKP yang tak henti menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat di tengah pandemi. Ia menyebut, pelatihan ini sangat bermanfaat bagi Kab. Indramayu yang menjadi penyuplai lebih dari 60% produksi perikanan di Jawa Barat.

“Dengan pelatihan magot yang dari segi bahan baku sangat mudah didapat ini, mudah-mudahan bisa mengurangi biaya produksi pembudidaya ikan,” ujarnya.

Ia pun mengajak para peserta yang hadir untuk menjadi pionir, mengenalkan budidaya magot kepada masyarakat Kab. Indramayu sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada pakan pabrikan.

Sementara terkait pakan buatan, Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan bahwa pelatihan ini memilki semangat yang sama.

“Harapan kami, permasalahan pakan budidaya yang dihadapi masyarakat dapat diatasi dan kita mampu ‘moving forward’ meskipun di tengah masa pandemi seperti ini,” ucapnya.

Dalam pelatihan ini, masyarakat diberikan pengetahuan agar dapat menghitung formulasi bahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan pakan dengan kandungan protein yang sesuai dan dibutuhkan oleh ikan.

Guna membantu proses transfer ilmu dalam pelaksanaannya di lapangan, Lilly pun meminta para penyuluh untuk terus mendampingi para masyarakat.

Berbagai pelatihan ini mendapatkan sambutan baik dari para peserta. Ujang, salah satu peserta pelatihan pembuatan pakan ikan asal Tasikmalaya mengungkapkan, kegiatan ini mengispirasinya untuk mengembangkan pakan mandiri bagi usaha budidayanya.

Hal senada disampaikan Ketut Nirmala Dewi, penyuluh perikanan bantu asal Gianyar. Menurutnya, pelatihan secara online yang diselenggarakan sangat bermanfaat terutama di tengah kondisi pandemi saat ini.

“Pelatihan ini sangat membantu bagi saya, penyuluh perikanan yang bekerja di lapangan untuk menambah ilmu dan memberikan pengetahuan pada pembudidaya di kelompok saya. Semoga ke depannya KKP terus melaksanakan pelatihan seperti ini,” ungkapnya.

Sebagai informasi, guna meningkatkan kapasitas para penyuluh perikanan, KKP melalui BP3 Medan juga menggelar pelatihan teknis penangkapan ikan bagi 111 penyuluh perikanan bantu (PPB) pada 21-26 September 2020. Melalui kegiatan ini, para peserta akan diberikan wawasan dan keterampilan tentang perkembangan ilmu dan teknologi dalam budidaya.

Ke depan, KKP akan terus menggelar berbagai pelatihan, baik bagi masyarakat maupun penyuluh, guna membangkitkan ekonomi nasional melalui sektor kelautan dan perikanan.