Ketika Gula Berjaya di Clappa-doa

Jejak Tani | DiLihat : 134 | Sabtu, 12 September 2020 | 14:04
Ketika Gula Berjaya di Clappa-doa

Aktivitas dagang yang dilakukan para pengusaha Tionghoa (journals.openedition.org)


CATATAN perdagangan milik pemerintah Inggris untuk Hindia Timur menyisakan teka-teki tentang aktivitas jual-beli gula dan tebu para pedagang Tionghoa di Banten. Arsip yang tersimpan di India Office Records, London, Inggris itu menyebut sebuah tempat di Kesultanan Banten: “Clappa-doa” (Kelapadua), yang menjadi pusat kegiatan ekonomi orang-orang Tionghoa di sana.

Kelapadua sendiri saat itu merupakan perkampungan yang sebagian besar diisi oleh orang-orang Tionghoa. Sebagai pedagang, masyarakat di sana memilih untuk menanam tebu dan mengolahnya menjadi gula. Bahkan ketika arus perdagangan sedang ramai oleh lada dan pala, para pengusaha Tionghoa di Kelapadua tidak ikut latah. Itulah pemerintah Inggris memanfaatkan mereka.

Dalam arsip tertua pemerintah Inggris di Banten (1635), hubungan dagang antara pihaknya dengan orang-orang Tionghoa dan Kesultanan Banten telah teralin baik. Hampir tidak ada konflik yang terjadi. Hasil pertanian yang diperdagangkan sebenarnya cukup beragam, tetapi bagi pedagang Tionghoa gula menjadi yang utama.

“Para pedagang dari loji Inggris di Banten pergi ke Kelapadua untuk membeli sebanyak mungkin gula yang dapat dimuat di dalam kapal-kapal mereka,” tulis Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII.

Tidak main-main, pejanjian dagang antara Inggris dan pedagang Tionghoa itu diatur dalam sebuah kontrak dagang yang diawasi langsung oleh Sultan Banten, Pangeran Ratu atau Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1596-1651).

Sebelum Inggris datang, tidak ada catatan yang menjelaskan tentang kegiatan perdagangan gula orang-orang Tionghoa. Tetapi dari beberapa catatan yang berasal dari sumber lisan, Claude menyimpulkan bahwa kegiatan sebelumnya hanya dilakukan dalam lingkup yang kecil. Para pengusaha gulu di Kelapadua menjual hasil pertaniannya pada warga lokal. Selain itu mereka juga mengirimkan sebagian hasilnya ke luar Banten (Batavia, Cirebon, dan Jepara) untuk dijual oleh pedagang Tionghoa lain.

“Pengiriman gula dari Banten ke Batavia pada 1637 dilakukan melalui Sungai Angke. Begitu juga dengan wilayah Cirebon dan Jepara,” tulis Claude Guillot dan Jacques Dumarcay dalam The Sultante of Banten.

Pada kontrak pertama dengan Inggris, Februari 1638, sebanyak 8 pabrik gula dan 6 keluarga Tionghoa penanam tebu setuju untuk memenuhi kebutuhan dagang pemerintah Inggris selama 3 tahun. Mereka hanya boleh menjual hasil pertanian mereka kepada Inggris. Sultan pun memberikan pengawasan yang ketat kepada para pengusaha Tionghoa tersebut.

Dengan menyutujui kontrak dagang tersebut, orang-orang Tionghoa itu harus menjual 100.000 batang tebu setiap tahunnya kepada Inggris. Praktis pemerintah mendapatkan 600.000 batang tebu dari 6 keluarga Tionghoa yang ada di dalam kontrak.

Kemudian para pemilik pabrik gula, sebagai tempat mengolah tebu, menjanjikan jumlah yang cukup besar, yakni 450 pikul (sekitar 2,8 ton) gula untuk setiap 100.000 batang tebu. Mereka juga sangat yakin dengan kualitas gula yang dihasilkan. Terbukti setelah dua tahun berjalan, pemerintah Inggris segera membuat kontrak baru dengan para pengusaha gula tersebut.

Pada 26 Agustus 1640, kontrak kedua disetujui dengan isi yang sama. Namun di dalamnya ditambahkan beberapa kebijakan baru, terkait hubungan para pedagang Tionghoa dan sultan Banten. Calude menyebut pemerintah Inggris menambahkan hak-hak khusus kepada sultan dan pemerintahannya.

Kesultanan Banten boleh menggunakan tenaga, bahkan lahan orang-orang Tionghoa untuk menggarap hasil pertanian selain gula, selama masa panen telah selesai. Sultan juga diberi hak mengambil gula sebanyak 2 kati (sekitar 1,5 kilogram) atau lebih selama itu untuk konsumsi pribadi.

“Catatan dagang Inggris ini memberikan indikasi tentang sejauh mana orang Inggris menguasai perdagangan bahan ini (gula) pada zaman itu di Banten,” tulis Claude.

Kawasan pabrik gula Kelapadua terus melakukan aktivitas produksinya hingga kedatangan Belanda pada 1682. Setelah, menancapkan kekuasaannya di Banten, Belanda memindahkan kegiatan produksi gula ke Tanara dan Tanggerang. Hal itu dilakukan agar pendistribusian ke Batavia, sebagai basis perdagangan mereka, lebih mudah dan cepat.

Claude dan Jacques mencatat kegiatan produksi gula di Banten terus menurun sejak pertengahan abad ke-19. Akhirnya ketika memasuki abad ke-20, pemerintah Belanda memindahkan seluruh aktivitasnya ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta beberapa pabrik kecil di Jawa Barat.



historia