'Perbudak' Monyet, Kelapa Thailand Dilarang Masuk Inggris

Agro Unik | DiLihat : 34 | Kamis, 13 Agustus 2020 | 16:15


BEBERAPA pengecer di Inggris menarik produk kelapa asal Thailand. Ini terjadi setelah munculnya laporan organisasi nirlaba People for Ethical Treatment of Animals (PETA) yang menuding kelapa Thailand diambil oleh monyet yang dianiaya.

Bahkan tunangan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Carrie Symonds, meminta supermarket lain ikut serta. Di antara swalayan itu terdapat nama seperti Waitrose Limited, Co-op Food, Boots & Ocado dan Morrisons.

"Pelecehan yang mengejutkan di mana monyet dirantai, dikurung, di kandang sempit dan dipaksa memanjat pohon dan memetik kelapa," kata PETA ditulis Bloomberg dikutip Kamis (13/8/2020). "Perbudakan monyet."

Laporan ini juga mengundang pertanyaan dari Amerika Serikat (AS) dan Australia. Meski begitu pemerintah Thailand membantahnya.

"Penggunaan tenaga monyet hampir tidak ada," tulis Reuters mengutip pejabat setempat.

Wakil Menteri Pertanian Thailand Mananya Thaiset mengatakan 200.000 petani kelapa Thailand menggunakan banyak tenaga manusia dan mesin untuk memanen.

"Bahkan semua monyet di seluruh hutan tidak akan cukup untuk industri," kata Mananya.

Dari data pemerintah, Thailand menghasilkan lebih dari 806.000 ton kelapa dari 1.243,7 kilometer persegi (480,2 mil persegi) di 2019. Thailand mengekspor santan senilai 12,3 miliar baht (US$ 396 juta) atau sekitar 8% ke Inggris.

Nirun Wongwanich (52) yang melatih monyet untuk mengambil kelapa mengatakan sebagian besar ekspor dipanen oleh manusia dengan menggunakan tiang. Hanya beberapa peternakan di selatan saja yang menggunakan monyet untuk pohon kelapa yang lebih tinggi.

"Tidak ada kebenarannya. Saya telah bersama monyet selama lebih dari 30 tahun ... Saya memiliki ikatan, hubungan dengan mereka, "kata Nirun seraya menambahkan bahwa dia melatih enam hingga tujuh monyet setahun.


cnbc